Karena Hidup Tidak Seperti Pasar Malam
Semalam saya baru menyelesaikan Bukan Pasar Malam, roman klasik karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1951. Sudah 75 tahun tapi tetap relevan. Oleh rezim Orde Baru novel ini dilarang edar sejak 1965. Mengisahkan seorang anak revolusi, pekerja Balai Pustaka di Jakarta menerima sepucuk surat dari Blora, kampung halaman, pada suatu hari bulan Desember 1949. Ia diminta pulang karena sang ayahanda sakit keras. Ayahnya seorang guru, juga pengawas sekolah penuh bakti angkatan Belanda, yang ingin disebut nasionalis dan bukan ulama. Berbekal uang hutang kawan, sang anak sulung tujuh bersaudara yang dikarakterkan "Aku" bersama istri mudik dengan menumpang kereta api. Rute sepur itu diceritakan Pramoedya sebagai perjalanan nostalgia dari stasiun ke stasiun dengan lanskap Jawa yang subur dan permai. Situasi Gambir, Cakung, Kranji, Tambun, Cikarang, Semarang, Rembang dengan hutan, sawah, hingga k ebun karet terasa begitu nyat...