Postingan

Suatu Pagi di Desa Tulungrejo (9)

Gambar
Seperti apa kampung ini, Desa Tulungrejo Pare Kediri memulai hari? Pada Selasa 13 Oktober 2026  pukul 6.00 WIB, saya sudah bersiap,  menyusuri setiap sisi Kamp Kyarra yang luas dengan area terbuka hijau. Kemudian untuk menahan udara dingin yang berkabut tipis, saya  pergi ke Kopi Joni,  memesan  kopi hitam dan pisang coklat keju, sambil melanjutkan membaca  Library karya Andrew Pettegree dan Arthur Der Weduwen. Saya merasakan nyata ketenangan dan kedamaian sebuah desa yang masih banyak dikelilingi persawahan  menyongsong matahari bersinar. T ak lama lagi desa ini akan disibukkan banyak aktivitas anak muda yang menciptakan kawasan ramai dan banyak energi positif. Tak terasa satu jam menikmati slow morning di KopJon, saya melanjutkan olahraga di Lapangan Tulungrejo, venue "Pasar Senja", salah satu ikon Kampung Pare. Usai memutari trek 10 lap, saya tergoda mencicipi kuliner khas Kediri, pecel picuk. Belum selesai urusan sarapan, saya dikabari Vera untu...

Hari Sambangan ke Pare (8)

Gambar
Terminal Pare  Kediri berlokasi di Desa Tulungrejo, merupakan gerbang utama menuju kawasan Kampung Inggris Pare. Kami menumpang Grab yang berjarak 1,5 kilometer. Pada malam itu Senin 12 Oktober 2026 pukul 19.30 WIB, Vera dan saya tiba Camp Kyarra yang terletak di Jalan Asparaga No. 13. Kami sangat senang dan antusias, tidak sabar bertemu  lagi dengan Uswa dan menyaksikan dari dekat kegiatan bersama teman-teman sekolahnya  selama kursus singkat di Pare. Ini semacam "Sambangan", istilah klasik di Jawa ketika orangtua sedang mengunjungi anak di pondok pesantren. Camp Kyarra ternyata sangat luas dan memiliki fasilitas lengkap.  Bangunan arsitekturnya bergaya modern dengan konsep Nusantara dengan sentuhan tradisional Jawa. Waktu kami datang sudah berfungsi 5 gedung asrama utama dan masih terus dilakukan perluasan pembangunan. Lingkungan belajar yang tenang, nyaman, bersih, dan rindang pepohonan.  Terdapat banyak ruang belajar terbuka, seperti aula, pendopo, dan Jogl...

Perjalanan Senja Bungurasih ke Kediri (7)

Gambar
Vera dan saya mengakhiri kunjungan di Surabaya pada Senin sore 12 Oktober 2026. Selanjutnya kami akan bertolak ke Kediri yang berjarak sekitar 120 kilometer.  Kami akan menengok Uswatun Noor Shazmeen, anak kami, yang bersama teman-teman sekolahnya sedang melaksanakan fieldtrip di Pare Kediri. Ada tiga alternatif menuju Kediri dari Surabaya. Pertama, menumpang KA Commuter dengan jadwal siang hingga malam, tapi waktu tempuhnya cukup lama 3-4 jam. Kedua, menggunakan jasa travel. Ketiga, naik bus yang berangkat dari Terminal Purabaya Bungurasih. Kami memutuskan pilihan ketiga. Sore itu usai menyantap siang rujak cingur Delta dan jalan-jalan di Plaza Surabaya, kami berangkat ke Terminal Bungurasih yang jaraknya cukup jauh, 15 kilometer dan menumpang Grab  dengan tarif 53 ribu rupiah.  Melintasi Utara ke Selatan Surabaya, menjelang pukul 16.00 WIB kami tiba di Bungurasih.  Bagi saya berada di terminal ini mengingatkan kenangan lama,  seperti merasakan suasana mudik m...

Sepuluh Putaran di Lapangan Thor (6)

Gambar
Ada kebiasaan baru saya, menjajal ruang publik yang dilengkapi venue olahraga, dan Lapangan Thor Surabaya sejauh ini yang terbaik. Awalnya saya ingin berolahraga di Tambak Sari, sekaligus menyamban gi Stadion Gelora 10 November,  markas lama klub Persebaya Surabaya.  Menumpang Grab motor dari Midwon Basuki Rahmat, saya tiba pukul 6.35 WIB di Lapangan Mundu, persis depan gerbang utama stadion. Saya langsung teringat pengalaman menonton "Derbi Jawa Timur", Persebaya Surabaya melawan Arema Malang pada Liga Indonesia 2007. Pertandingan sengit diwarnai keributan antarpemain dan teror pada skuad Arema usai hasil imbang 1-1. Sekitar 45 menit saya di Tambak Sari memotret dinamika Kampung Gayam yang berada di sekitar stadion. Kemudian saya memutuskan pindah  venue ke Lapangan Thor, satu kompleks dengan GOR Gelora Pancasila yang bersejarah  di Jalan Patmosusastro, Darmo.  Lapangan tertua di Surabaya, sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Nama "Thor" akronim dari ...

Wajah Baru Kota Lama Surabaya (5)

Gambar
Pada Minggu malam 11 Oktober 2026, usai Vera dan saya berkunjung ke Pakuwon Mall, saya masih melanjutkan city tour  sendirian ke kawasan Kota Lama Surabaya. Dari Midtown Hotel saya singgah terlebih dulu menyantap malam di Sate Klopo Ondomohen Bu Asih di kawasan Genteng, sate yang terkenal dengan ciri khas parutan kelapa dalam bumbu kacang, sangat nikmat. Menjelang pukul 21.00 WIB, saya kembali mengorder Grab untuk mengantar saya ke Kota Lama Surabaya. Jaraknya sekitar 5 kilometer dan ditempuh 15 menit saja di lalu lintas malam yang lancar.  Sepanjang perjalanan saya dapat menyaksikan dan merasakan suasana malam Surabaya dengan gemerlap lampu lampu kota dan taman-taman teduh, kotanya juga  sangat teratur dan rapih. Tidak terasa sudah tiba di titik pengantaran, Jalan Rajawali, yang dulu bernama hereenstrat, kawasan elite   tempat tinggal pejabat kolonial.   Inilah saya di Kota Lama, di jantung Kota Pahlawan.  Waktu itu pukul 21. 20 WIB, tidak begitu ram...