Postingan

Drama Final Australia Terbuka 2026

Gambar
Final tunggal putra Australia Terbuka 2026 bisa jadi pertarungan pamungkas yang akan dikenang sebagai laga dua finalis mewakili dua generasi yang berbeda. Novak Djokovic, petenis Serbia berusia lebih 38, pemenang terbanyak grand slam (24), mantan petenis nomor satu dunia terlama, mewakili generasi petenis yang sudah di pengujung karier. Jangan lupa Novak adalah "Raja" Meulbourne Park yang sudah menang 10 kali di sini. Novak menantang petenis nomor satu dunia saat ini, Carloz Alzaraz petenis dari Spanyol, yang berusia baru 22 tahun, tapi sudah memenangkan 6 Grand Slam. Alcaraz mewakili Gen-Z yang sudah mendominasi kompetisi sejak 2004, bersama Jannik Sinner dari Italia, yang dikalahkan Novak di semifinal. Kedua finalis bertanding untuk sejarah baru. Jika Novak menang, ia akan mencapai 25 trofi. Satu lebih banyak dari petenis putri Margaret Court, semakin mengukuhkan namanya sebagai petenis terhebat. Dan jika Alcaraz yang menang, ia bergabung dengan delapan petenis yang mencapa...

Jerusalem: Kota Suci dan Kota Konflik

Gambar
Buku yang ditulis dengan gaya jurnalistik selalu menarik untuk dibaca, kita seperti diajak melakukan perjalanan bersama sang penulis. Seperti buku berjudul Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir,  karya Trias Kuncahyono, mantan wartawan surat kabar Kompas   bidang hukum, politik, dan internasional. Saat ini Trias ditugaskan sebagai Duta Besar untuk Takhta Suci Vatikan. **** Siapa tak kenal dengan kota Jerusalem? Telah tercatat sejak 5.000 tahun lalu bahwa kota ini  dinilai sebagai kota suci bagi tiga agama, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Sebagai umat muslim, khususnya, Jerusalem adalah kota suci ketiga, setelah Mekkah dan Madinah.  Dulu Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malamnya dari Mekkah ke Jerusalem, yang kita kenal sebagai Isra Mi’raj ke Sidratul Al Muntaha. Jerusalem menjadi tempat seluruh umat beriman, condominium besar bagi budaya dan moralitas.  Selama ribuan tahun, Jerusalem merupakan kota ziarah tiga agama samawi.  Mereka berz...

Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Gambar
Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels , karya Pramoedya Ananta Toer, menghidupkan kembali peristiwa kolonialisasi di Indonesia. Mengisahkan pembangunan Jalan Raya Pos ( Grote Postweg ) yang membentang sejauh 1.000 kilo meter dari Anyer, Banten, sampai Panarukan, Jawa Timur. Jalan raya ini dibangun hanya dalam waktu setahun pada 1808-1809, di bawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Williams Daendels, yang sangat berambisi menguasai Jawa. Pramoedya merekonstruksi sejarah penindasan Daendels dengan menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan. Ia mengistilahkan ruas-ruas jalan raya ini beraspalkan darah dan air mata. Pekerja dipaksa rodi, banyak mati karena keletihan, kelaparan, atau terserang penyakit malaria dan yang lain. Ratusan mayat berceceran tak diurus selama masa pembangunan. Jalan Raya Pos telah menjadi infrastruktur penting sejak digunakan pada 1809. Tak salah jika disebut jalan yang menjadi penentu kehidupan pulau Jawa. Jalanan ini berukur...

Namanya Hidup Ada Tawa dan Ada Duka

Gambar
Suka Duka Tawa adalah film oke untuk memulai tahun 2026. Film bergenre drama komedi yang mengisahkan perjuangan seorang komika perempuan bernama Tawa, yang menjadikan aib keluarganya sebagai materi komedi di atas panggung, ia menertawakan masa silam yang kelam. Tawa adalah anak tunggal pasangan Keset dengan Cantik. Pada saat Tawa umur 6 tahun, Keset kabur meninggalkan Tawa dan Cantik, untuk mengejar karier sebagai pelawak grup klasik yang bermain sketsa komedi. Sulit untuk tidak mengingat gaya lawakan grup legendaris, Srimulat. Kepergian Keset tentu menciptakan luka dan trauma bagi Tawa dan ibunya yang harus berjuang mencari nafkah, berpindah-pindah kos kamar sempit. Tawa juga harus bekerja apa saja demi bertahan hidup di belantara ibu kota yang kejam, dari pegawai toko furniture yang dipecat sampai ia mencoba sebagai komika. Tawa bersama gengnya, memang sering mengunjungi suatu komunitas open mic . Pada suatu momen, Tawa naik ke panggung, ia membawakan materi berdasarkan kemarahan...

Review Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan

Gambar
Franz Magniz-Suseno adalah seorang rohaniwan, filusf, aktivitis, budayawan, intelektual kelahiran Jerman, ia kemudian terpaksa menjadi pengungsi perang, dan sampai ke Indonesia sejak 1962, memilih menjadi WNI, dan mencintai sepenuh hati Indonesia. Sejak tinggal di sini, Franz sangat peduli sekaligus prihatin terhadap persoalan-persoalan bangsa. Ia pun menuliskan dan menerbitkan banyak artikel, esai, opini, dan sejumlah buku untuk menawarkan solusi bijaksana. Gagasan dan argumentasinya melampaui ruang dan zaman. Salah satu bukunya yang diterbitkan pada November 2006 berjudul Berebut Jiwa Bangsa : Dialog , Perdamaian , dan Persaudaraan , ternyata semakin relevan ketika kita membacanya dua dekade berselang. Mengajarkan kita etika, kebaikan, kejujuran, tanggung jawab sebagai manusia. Bagaimana manusia harus hidup, bertindak dan membangun hubungan di antaranya agar sesuai dengan martabat manusia. Cinta kasih lebih kuat daripada kebencian, kerendahan hati lebih ampuh daripada kesombongan,...