Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bulutangkis

Persembahan Emas Gresyia/Apriani

Gambar
Arena Olimpiade memang selalu penuh misteri dan senantiasa menciptakan "keajaiban" yang menakjubkan.  Ketika Greysia Poli harus lari ke luar lapangan saat reli pada skor 18-10 (set ke-2) untuk mengganti raket yang talinya putus, dan pasangan itu masih memenangkan poin, jelas ada sesuatu yang istimewa atau bisa kita katakan keajaiban sedang berlangsung di Musashino Forest Plaza, Tokyo. Pada Senin, 2 Agustus 2021, pertandingan final ganda putri, Greysia Poli/Apriani Rahayu secara meyakinkan menang melawan pasangan China, Chen Qing Chen/Jia Yia Fan, straight-game 21-19, 21-15 dalam waktu 57 menit. Greysia/Apriani memenangkan point terakhir dibuat lebih tegang oleh Chen/Yia Fan yang menuntut challenge review. Pertandingan bersejarah itu dinilai sebagai salah satu hasil yang paling tidak terduga dalam sejarah badminton Olimpiade. Greysia/Apriani yang tidak diunggulkan mengukir kemenangan dengan permainan fantastis, atas Chen/Yia Fan, yang merupakan pasangan unggulan kedua. Kemenan...

Ode untuk Lin Dan

Gambar
Sebagai orang Indonesia pada umumnya, saya menggemari dua cabang olahraga terpopuler: sepak bola dan bulutangkis. Sejak saya menjadi penggemar badminton pada akhir 1980-an, China selalu menjadi rival utama dengan kekuatan besarnya. Setelah China ada Malaysia, Korea Selatan, dan Denmark. Belakangan Jepang menjadi kekuatan baru. Dari puluhan pemain tunggal putra China yang pernah saya amati tiga dekade, hanya dua pemain yang paling menakutkan: Zhao Jianhua dan Lin Dan. Keduanya kebetulan pemain kidal, yang menjadi monster pembunuh bagi pemain Indonesia pada generasi berbeda. Zhao Jianhua menggantikan pemain seniornya Han Jian dan Yang Yang. Jianhua adalah juara All England 1985 saat berusia 20, kemudian juara lagi pada 1990. Juara Dunia 1991, dan meraih dua medali emas pada Asian Games 1986 dan 1990. Gelar perorangan dilengkapi dengan mengantar China memenangkan Piala Thomas pada 1988 dan 1990. Jianhua adalah fenomenal dan senantisa meneror, ia antagonis pertama saya sebagai penggemar ba...