Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jogja

Angkringan Mas Yudi di Nitipuran (23)

Gambar
Penyair Joko Pinurbo menulis satu puisi yang terkenal, bahkan liriknya dimural sebagai spot foto  di Teras Malioboro 1. "Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan" Siapa pun yang pernah tinggal di Jogja bisa merasakan ikatan emosional dan kenangan menyantap makanan sederhana dalam suasana kehangatan di angkringan .  Tak afdal rasanya “pulang” ke Jogja tidak singgah di angkringan.  Suatu siang pada Rabu 22 Juli 2026, setelah berkeliling di kawasan selatan Jogja , saya sampai di Jalan Nitipuran, Ngestiharjo, dan memutuskan berhenti di satu angkringan di tepi jalan untuk makan siang. Angkringan yang sangat tradisional, terdiri dari gerobak tempat menjajakan menu-menu masakan kampung, dan gerobak sekaligus menjadi meja makan. Disedikan dua bangku kayu panjang, dan ditutupi terpal besar berwarna biru. Angkringan seperti ini hanya muat untuk enam pelanggan dalam waktu yang bersamaan. Ketika saya datang pukul 12.50 WIB, ada tiga orang yang sedang makan, dua di antaranya c...

Legenda Alkid dan Gudeg Mbok Lindu (22)

Gambar
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat punya dua Alun-alun. Pertama Alun-alun Utara (Lor), dan yang kedua Alun-alun Selatan (Kidul). Kali ini kita bahas Alun-Alun Kidul yang orang sering sebut "Alkid". Alkid merupakan salah satu ikon Jogja. Bagian dari kawasan "Sumbu Filosofis". Garis yang membentang lurus dari Tugu, Malioboro, dan Keraton, termasuk dua alun-alun. Telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan Warisan Dunia UNESCO. Alkid berlokasi di Jalan Patehan, di dalam benteng Keraton. Lapangan dengan permukaan pasir dan rumput berukuran 150 x 150 meter. Di sisi lapangan terdapat lima akses, yakni Jalan Langenastran Kidul, Jalan Langenastran Lor, Jalan Ngadisuryan, Jalan Patehan Lor, dan Jalan Gading. Kelima jalan tersebut menghubungkan Alkid dengan tempat-tempat terkenal seperti Taman Sari, Pasar Ngasem, Wijilan, hingga Alun-alun Utara. Saya ingat Alkid adalah kawasan yang saya akrabi sewaktu kuliah. Dari sekian rute alternatif perjalanan ke kampus dari kos di Jalan Gla...

Masjid Syuhada Kotabaru (21)

Gambar
Pada Selasa malam 21 Juli 2026 menjelang adzan salat Isya berkumandang di Jogja, saya sampai di kawasan Kotabaru, Jogja. Saya sudah berniat salat berjamaah di Masjid Syuhada yang berlokasi di Jalan I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru. Di jalur pinggiran Kali Code. Kotabaru tidak seramai kawasan lain di kota Jogja, memang seperti demkian sejak lama, karena kawasan ini bukan jalan-jalan yang padat kendaraan lalu lintas meski berjalan lebar. Suasananya selalu bersih, tenang, dan adem. Rumah-rumah asri dengan pekarangan luas dinaungi pohon-pohon rindang, berderetan di Kotabaru. Aura hening jalan I Dewa Nyoman semakin terasa karena ada dua rumah ibadah berdiri megah saling berhadapan, yakni Gereja Katolik Santo Antonius dan Masjid Syuhada. Malam itu saya mencari spot yang paling pas untuk melihat seluruh bangunan Masjid Syuhada yang mencolok dengan kubah besar bergaya Persia. Cukup lama saya memaknai dan meresapi momen sentimental ini. Saya terharu pada kenangan saat pertama kali salat di masjid in...

Cerita dari Pasar Legi Kotagede (20)

Gambar
Ketika kawasan-kawasan di Jogja semakin modern. Kotagede berusaha tetap otentik. Saya pernah tinggal di Kotagede, ketika sekolah di SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta yang terletak di Jalan Mondorakan No. 51. Hampir setiap hari Minggu saya mengisi liburan pergi ke kawasan Pasar Legi Kotagede yang hanya berjarak 500 meter dari tempat kos saya di Gang Prenggan Mondorakan, berjalan kaki 10 menit sudah sampai. Hal pertama saya lakukan adalah menelpon ibu dan ayah di Makassar dari warung telepon (wartel) di Kantor Pos Kotagede, yang menurut perhitungan saya tarifnya lebih murah dibandingkan wartel di sekitarnya. Beberapa kali juga saya mengirim surat pakai perangko di Kantor Pos tersebut.  "Sekitar dua minggu kemungkinan suratnya tiba, mas ", ujar petugas loket, menjawab pertanyaan klasik pengirim surat. Urusan di kantor pos selesai, saya hanya menyeberang jalan menuju warung kecil yang menjual nasi rames. Saya lupa nama ibu penjual, tapi saya suka sekali makan di warung ini, paket nas...

Suatu Pagi di Mandala Krida (19)

Gambar
Pada hari Selasa 21 Juli 2026 pagi, untuk pertama kali saya bangun pagi setelah istirahat penuh tidur selama delapan jam yang berkualitas, karena tidak lagi terputus untuk menonton Piala Dunia. Tubuh jadi segar bugar, pikiran lebih jernih, dan suasana hati lebih baik. Membuat saya semakin bersemangat untuk berolahraga. Pagi itu mengendarai Honda Scoopy saya berangkat menuju Stadion Mandala Krida di kawasan Semaki. Saya tiba di kompleks Mandala Krida pada pukul 7.45 WIB, pengunjung umum masuk melalui pintu timur di Jalan Gondosuli. Area belakang tersebut juga digunakan sebagai lahan parkir dan tempat para pedagang berjualan. Ramai sekali pagi itu, meski bukan akhir pekan . Sambil jogging tiga putaran (2,4 kilometer), saya melihat ada yang senam, bersepeda, siswa sekolah pelajaran penjaskes, atau anak-anak bermain-main di area terbuka.  Dalam kompleks tersebut terdapat  gym , Garuda Store yang menjual merchandise resmi PSIM dan timnas. Di bagian selatan terdapat lapangan kera...

Kenangan di Prawirotaman (17)

Gambar
Jika sudah di Jogja saya selalu ingat sentimental journey dalam kisah novel  Yogya Yogya (2020) karya Herry Gendut Janarto. Seraya bercerita Herry mengingatkan kembali pada pembaca tempat-tempat klasik di Jogja, baik yang masih bertahan ataupun yang telah berganti fungsi. Oleh karena itu pulang ke Jogja pada kesempatan ini, saya ingin kembali menengok sebanyak mungkin tempat-tempat yang pernah familiar ketika saya tinggal di sini selama 10 tahun (1997-2008). Usai KA Bima tiba dari Jakarta pada Minggu 19 Juli 2026 pada pukul 23.30 WIB, driver Grab menjemput saya di Jalan Pasar Kembang, sebelah selatan Stasiun Tugu, kami menuju penginapan di Jalan Parangtritis Prawirotaman.   Perjalanan sejauh empat kilometer itu lancar di jalan yang lebih sepi dari biasanya. Saya ngobrol-ngobrol santai dengan mas Grab .  "Sejak tadi sepi, mas. Orang-orang pada bersiap nobar final",   kata mas Grab menyampaikan info terkini.  “Waktu musim liburan sangat ramai dan ma...

Kereta Malam Jakarta ke Jogja (16)

Gambar
"....Hampir malam di Jogja ketika keretaku tibaa..." Perjalanan kami di Bandung harus selesai pada Minggu 19 Juli 2026 pukul 11.00 WIB. Setelah menikmati suasana Minggu pagi di Siliwangi, Gasibu, dan Bubur DPR, kami kembali ke hotel, dan berkemas secepat mungkin. Vera dan saya harus segera balik ke Jakarta, karena sorenya Vera akan pulang ke Makassar dengan flight nomor GA-616 pada pukul 17.30 WIB. Sedangkan saya akan melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan menumpang KA Bima dari Stasiun Gambir pada pukul 17.00 WIB. Saya hampir ketinggalan kereta. Usai mengantarkan Vera di Terminal 3 Cengkareng pukul 15.00 WIB, saya tegang dalam perjalanan ke Gambir, dengan berganti-ganti moda transportasi, pertama Skytrai n antarterminal, pindah kereta Bandara-Kota, dan lanjut Grab ke Stasiun. Baru tiba di Gambir pada pukul 16.45 WIB. Saya buru-buru ke Lt. 2, mencari tahu di jalur berapa kereta melaju.  "Keretanya sudah siap, 10 menit lagi berangkat", kata petugas di peron. Saya ...

Suatu Pagi di Pasar Ngasem

Gambar
Mengakhiri perjalanan Selasa pagi itu 9 Juli 2024, Vera dan saya memilih menikmati sarapan di Pasar Ngasem Jogja. Pasar Ngasem berdiri pada awal abad ke-19 persisnya pada 1809. Lokasinya sangat strategis, terletak di Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Luas kawasan pasar ini 6.136 meter persegi, hanya 400 meter sebelah tenggara Keraton. Konon kawasan Pasar Ngasem dulunya dijadikan tempat melihat keindahan Keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengku Buwono II dari luar benteng. Karakter unik dan artistik Pasar Ngasem juga membuat banyak seniman ingin mengabadikan keindahannya. Sketsa dan lukisan Pasar Ngasem dari seniman sering saya lihat di pameran kesenian. Awalnya Ngasem merupakan pasar burung terbesar di Jogja. Namun pada 2010 direvitalisasi dengan memindahkan pedagang burung ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias (PASTY) di Dongkelan, Bantul, untuk menjaga keberadaan pariwisata Tamansari yang berbatasan langsung dengan pasar. Tamansari adalah istana air tempat pemandian dan per...

Melintasi Jalanan Nostalgia di Jogja

Gambar
Pagi-pagi sebelum matahari beranjak naik pada Selasa 9 Juli 2024, saya sudah keluar menyusuri jalanan-jalanan di Jogja yang dulunya saya akrabi dan sering datangi pada masa 1997 sampai dengan 2008. Saya mengajak Vera di boncengan motor honda Beat yang saya pinjam dari Memed. Semacam perjalanan tapak tilas, sentimental journey . Kami meluncur menikmati suasana pagi kota yang segar. Malioboro masih sepi, melewati Jalan Trikora yang diapit Kantor Pos dan Gedung BNI di titik nol, menuju Alun-alun Utara Keraton, melihat masyarakat sedang joging dan lari di Alun-alun ini sambil saya menunjukkan lokasi bakmi Pak Pele di ujung sebelah timur yang batal kami datangi semalam. Kemudian Jalan Ibu Ruswo yang menghubungkan ke Jalan Brigjen Katamso Gondomanan. Di jalan ini dulu saya sering nonton di bioskop Widya, yang memutar film-film Hollywood dan Asia, walaupun berselisih empat bulan penayangan di bioskop-21, seingat saya harga tiketnya 1.500 rupiah. Kemudian berbelok kanan melintasi plengkung ...

Menyantap Bakmi Kadin yang Legendaris

Gambar
Selain gudeg, masakan Jogja yang tidak boleh dilewatkan adalah bakmi. Usai kunjungan singkat ke Vredeburg , waktunya kita makan. Kebetulan malam itu, Nisa dan Arman, suaminya, keluarga dari Makassar yang menetap di Jakarta, juga sedang berlibur ke Jogja. Nisa membuat janji bertemu dengan Vera untuk menitipkan barang ke Makassar. Nisa dan Arman sebenarnya sudah makan malam bakmi Pak Pele di pojok Alun-alun Utara, ketika kami masih di Vredeburg. Mereka memberitahu antrian sangat banyak untuk mendapatkan kursi kosong di Pele, maklum musim puncak liburan. Kami memutuskan memilih bakmi di tempat lain yang lebih luas dan juga legendaris, yakni Bakmi Kadin. Selama di Jogja, Arman menyewa mobil, kami akan dijemput dan bersiap menunggu di Jalan Panembahan Senopati, tepat di seberang kantor Bank Indonesia, untuk selanjutnya bergerak ke arah timur ke Jalan Bintaran Kidul, lokasi Bakmi Kadin, tepat di belakang kantor Kadin DIY, yang bisa jadi akhirnya dipakai sebagai merk dagang. Ada juga menyebut...

Berkunjung ke Vredeburg

Gambar
"Ziarah Malioboro " berakhir dengan kunjungan ke Museum Benteng Vredeburg. Lokasi Vredeburg sangat strategis, berhadapan langsung dengan Istana Gedung Agung di kawasan di titik nol kilometer Yogyakarta. Awalnya bernama Rustenburg, yang digunakan sebagai benteng pertahanan yang dibangun Belanda pada abad ke-18, tepatnya periode 1765-1790, ketika Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) berkuasa. Pembangunan benteng juga dimaksudkan untuk mengawasi kegiatan Kesultanan Ngayogyakarta. Benteng Vredeburg telah tercatat sebagai cagar budaya dan sejak diresmikan pada 23 November 1992 beralih fungsi sebagai museum yang bisa dikunjungi oleh masyarakat. Museum ini menyimpan lebih dari 7.000 benda bersejarah. Bangunan Vredeburg bergaya klasik Eropa berdiri kokoh di atas lahan seluas 46.000 meter persegi. Sulit mengalihkan pandangan dari bangunan yang megah dan anggun ini. Waktu kunjungan kami pada Senin 8 Juli 2024 terasa tepat, setelah Museum Vredeburg direvitalisasi dari bulan Maret hing...