Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jogja

Suatu Pagi di Pasar Ngasem

Gambar
Mengakhiri perjalanan Selasa pagi itu 9 Juli 2024, Vera dan saya memilih menikmati sarapan di Pasar Ngasem Jogja. Pasar Ngasem berdiri pada awal abad ke-19 persisnya pada 1809. Lokasinya sangat strategis, terletak di Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Luas kawasan pasar ini 6.136 meter persegi, hanya 400 meter sebelah tenggara Keraton. Konon kawasan Pasar Ngasem dulunya dijadikan tempat melihat keindahan Keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengku Buwono II dari luar benteng. Karakter unik dan artistik Pasar Ngasem juga membuat banyak seniman ingin mengabadikan keindahannya. Sketsa dan lukisan Pasar Ngasem dari seniman sering saya lihat di pameran kesenian. Awalnya Ngasem merupakan pasar burung terbesar di Jogja. Namun pada 2010 direvitalisasi dengan memindahkan pedagang burung ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias (PASTY) di Dongkelan, Bantul, untuk menjaga keberadaan pariwisata Tamansari yang berbatasan langsung dengan pasar. Tamansari adalah istana air tempat pemandian dan per...

Melintasi Jalanan Nostalgia di Jogja

Gambar
Pagi-pagi sebelum matahari beranjak naik pada Selasa 9 Juli 2024, saya sudah keluar menyusuri jalanan-jalanan di Jogja yang dulunya saya akrabi dan sering datangi pada masa 1997 sampai dengan 2008. Saya mengajak Vera di boncengan motor honda Beat yang saya pinjam dari Memed. Semacam perjalanan tapak tilas, sentimental journey . Kami meluncur menikmati suasana pagi kota yang segar. Malioboro masih sepi, melewati Jalan Trikora yang diapit Kantor Pos dan Gedung BNI di titik nol, menuju Alun-alun Utara Keraton, melihat masyarakat sedang joging dan lari di Alun-alun ini sambil saya menunjukkan lokasi bakmi Pak Pele di ujung sebelah timur yang batal kami datangi semalam. Kemudian Jalan Ibu Ruswo yang menghubungkan ke Jalan Brigjen Katamso Gondomanan. Di jalan ini dulu saya sering nonton di bioskop Widya, yang memutar film-film Hollywood dan Asia, walaupun berselisih empat bulan penayangan di bioskop-21, seingat saya harga tiketnya 1.500 rupiah. Kemudian berbelok kanan melintasi plengkung ...

Menyantap Bakmi Kadin yang Legendaris

Gambar
Selain gudeg, masakan Jogja yang tidak boleh dilewatkan adalah bakmi. Usai kunjungan singkat ke Vredeburg , waktunya kita makan. Kebetulan malam itu, Nisa dan Arman, suaminya, keluarga dari Makassar yang menetap di Jakarta, juga sedang berlibur ke Jogja. Nisa membuat janji bertemu dengan Vera untuk menitipkan barang ke Makassar. Nisa dan Arman sebenarnya sudah makan malam bakmi Pak Pele di pojok Alun-alun Utara, ketika kami masih di Vredeburg. Mereka memberitahu antrian sangat banyak untuk mendapatkan kursi kosong di Pele, maklum musim puncak liburan. Kami memutuskan memilih bakmi di tempat lain yang lebih luas dan juga legendaris, yakni Bakmi Kadin. Selama di Jogja, Arman menyewa mobil, kami akan dijemput dan bersiap menunggu di Jalan Panembahan Senopati, tepat di seberang kantor Bank Indonesia, untuk selanjutnya bergerak ke arah timur ke Jalan Bintaran Kidul, lokasi Bakmi Kadin, tepat di belakang kantor Kadin DIY, yang bisa jadi akhirnya dipakai sebagai merk dagang. Ada juga menyebut...

Berkunjung ke Vredeburg

Gambar
"Ziarah Malioboro " berakhir dengan kunjungan ke Museum Benteng Vredeburg. Lokasi Vredeburg sangat strategis, berhadapan langsung dengan Istana Gedung Agung di kawasan di titik nol kilometer Yogyakarta. Awalnya bernama Rustenburg, yang digunakan sebagai benteng pertahanan yang dibangun Belanda pada abad ke-18, tepatnya periode 1765-1790, ketika Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) berkuasa. Pembangunan benteng juga dimaksudkan untuk mengawasi kegiatan Kesultanan Ngayogyakarta. Benteng Vredeburg telah tercatat sebagai cagar budaya dan sejak diresmikan pada 23 November 1992 beralih fungsi sebagai museum yang bisa dikunjungi oleh masyarakat. Museum ini menyimpan lebih dari 7.000 benda bersejarah. Bangunan Vredeburg bergaya klasik Eropa berdiri kokoh di atas lahan seluas 46.000 meter persegi. Sulit mengalihkan pandangan dari bangunan yang megah dan anggun ini. Waktu kunjungan kami pada Senin 8 Juli 2024 terasa tepat, setelah Museum Vredeburg direvitalisasi dari bulan Maret hing...

Menyusuri Wajah Baru Malioboro

Gambar
Usai check -in di eL Hotel di Jalan Dagen pada Senin 8 Juli 2024, Vera dan saya sempatkan beristirahat memulihkan stamina setelah melewati dua malam panjang di Prambanan Jazz. Sedangkan Siti dan Uswa memilih berenang menjelang sore di pool yang berada bersebelahan dengan lobi dan restoran. Sore harinya sekitar pukul 17.30, kami berempat mulai keluar berjalan kaki menikmati suasana Malioboro. Untuk perjalanan kali ini, saya meminjam istilah Henri Gendut Janarto " Ziarah Malioboro ". Start dari Jalan Dagen yang terletak di barat Malioboro, kami bergerak ke arah selatan dengan tujuan utama Benteng Vredeburg dan Titik Nol, perempatan besar Kantor Pos, Bank BNI, Monumen Serangan Umum 1 Maret, dan Jalan Trikora menuju Alun-alun Utara. Ada sesuatu perasaan lega sekaligus takjub berjalan kaki di pedestrian Malioboro yang sudah ditata dengan rapih dan sangat ramah bagi pejalan kaki. Sejak awal 2022 pedagang kaki lima (PKL) yang dulu berjualan di sepanjang trotoar sepanjang 2 kilo me...

Sepanjang Jalan Sosrowijayan

Gambar
Prambanan Jazz 2024 rampung pada Minggu 7 Juli 2024 dengan penuh kesan. Masih ada waktu menikmati Jogja hingga Selasa sore sebelum balik ke Makassar. Pada Senin siang 8 Juli 2024, kami ganti penginapan lagi. Dari Hotel Sahid di Jalan Babarsari menuju kawasan Malioboro. Hotel-hotel di pusat kota ini masih mematok tarif tinggi, meskipun tidak semahal pada Sabtu dan Minggu kemarin. Kami mengincar penginapan di Jalan Sosrowijayan. Ini adalah jalan penuh nostalgia buat saya pribadi dan keluarga. Pertama kali datang ke Jogja pada 15 Juli 1997 , bersama ayah, saya menginap di Sosrowijayan, persisnya di Hotel Gembira. Sosrowijayan merupakan kampung kedua setelah Prawirotaman yang terkenal sebagai kampung wisata. Atau sering juga dikenal sebagai "Kampung Bule", merujuk banyak turis asing menginap di sana karena harga penginapan yang terjangkau. Dijadikan juga homestay dalam waktu lama, bisa sebulan atau dua bulan. Sosrowijayan menempati ruas jalan sepanjang lima ratus meter banya...

Kenangan di Prambanan Jazz

Gambar
Agenda utama ke Jogja kali ini sejatinya adalah menghadiri Prambanan Jazz 2024 yang dilaksanakan pada 5, 6, 7 Juli 2024. Event ke-10 ini mengusung tema "Satu Dekade Bersama", kolaborasi antarmusisi, seniman, jurnalis, hingga komunitas penggiat seni. Tiba di Stasiun Tugu pada Sabtu siang 6 Juli 2024 saat kota Jogja disesaki wisatawan, membuat kami kesulitan mendapatkan kamar hotel bagus, hanya tersedia satu-dua di Maliboro, itupun harganya sudah menyentuh 3 juta rupiah per malam. Akhirnya kami hanya bisa menginap di  Red Doorz near  Pascasarjana UGM seharga 800 ribu rupiah per malam, padahal harga normalnya 250 ribu rupiah.  Rencana awal Vera dan saya berangkat ke Candi Prambanan pada pukul 17:00 setelah mengantar Siti dan Uswa main ke Concert Hall Taman Budaya, di Jalan Sriwedani Gondomanan, karena di sana ada konser JKT 48 dengan tajuk "Aturan Anti Cinta". Kami menggunakan grabcar  menembus kemacetan Jogja akhir pekan dan musim liburan sekolah. Perjalanan balik kam...

Suatu Pagi di Kopi Klotok

Gambar
Menumpang Kereta Api Sancaka dari Stasiun Gubeng Surabaya, Vera dan saya tiba di Stasiun Tugu pada Rabu, 23 Maret 2022 siang pukul 13:04 WIB. Kami dijemput oleh Bangkit, kemudian diantar makan siang di Warung Bu Ageng di Jalan  Tirtodipuran, Mantrijeron, Prawirotaman, yang sering disebut kawasan "Kampung Turis". Hanya satu malam di Jogja, kami menginap di Villa D'House of Gembala , yang berada di Jalan Sawah Joglo, Sinduharjo, Ngaklik, Sleman.  Karena hanya satu malam, sedikit tempat yang bisa kami datangi. Setelah malamnya puas mengobati rindu makan di Gudeg Permata Bu Narti, di Kawasan Gunungketur, Pakualaman, maka agenda pagi pada Kamis 24 Maret 2022 adalah ngopi dan sarapan di Kopi Klotok. Kopi Klotok mulai dibuka pada akhir 2015, dengan cepat warung ini  booming setelah banyak fotonya diunggah di media sosial Instagram dan WhatsApp . Seolah menjadi destinasi wajib pendatang, t ak lengkap rasanya ke Jogja tanpa mampir ke Klotok. Kopi Klotok terletak di Jalan Kali...

Kenangan Akan Membawamu Kembali ke Yogya

Gambar
Yogyakarta selalu menjadi kota yang nyaman bagi banyak orang, baik yang terlahir di sana maupun mereka yang pernah sekolah, atau turis yang sekadar melewatkan beberapa hari untuk berlibur. Jadi ketika Herry Gendut Janarto, wartawan senior dan editor beberapa majalah, meluncurkan buku novel berjudul Yogya Yogya pada 2021, kita yang sering merasa kangen dengan kenangan-kenangan lama Yogya mendapat semacam obat penawar rindu. Novel Yogya Yogya berkisah cinta lama dan persahabatan remaja yang bersemi dan tertaut di sekolah yang bersetting di Yogya pada era 1970-an. Tokoh utamanya adalah Gayuh Widodo dan istrinya Astini, bersama para sahabat, yakni Suryo Lelono, Imron Fauzie, Nurhimawan, dan Dimas Tatang, serta Irma Suwignyo cinta pertama Gayuh. Mayoritas dari mereka adalah kawan satu angkatan (1977) di SMA Kolese Johanes de Britto (JB), Yogyakarta, di mana Herry Gendut juga alumni sekolah angkatan tersebut, sehingga pembaca yakin bahwa karakter Gayuh itu adalah Herry sendiri. Alumni an...