Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sejarah

Jerusalem: Kota Suci dan Kota Konflik

Gambar
Buku yang ditulis dengan gaya jurnalistik selalu menarik untuk dibaca, kita seperti diajak melakukan perjalanan bersama sang penulis. Seperti buku berjudul Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir,  karya Trias Kuncahyono, mantan wartawan surat kabar Kompas   bidang hukum, politik, dan internasional. Saat ini Trias ditugaskan sebagai Duta Besar untuk Takhta Suci Vatikan. **** Siapa tak kenal dengan kota Jerusalem? Telah tercatat sejak 5.000 tahun lalu bahwa kota ini  dinilai sebagai kota suci bagi tiga agama, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Sebagai umat muslim, khususnya, Jerusalem adalah kota suci ketiga, setelah Mekkah dan Madinah.  Dulu Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malamnya dari Mekkah ke Jerusalem, yang kita kenal sebagai Isra Mi’raj ke Sidratul Al Muntaha. Jerusalem menjadi tempat seluruh umat beriman, condominium besar bagi budaya dan moralitas.  Selama ribuan tahun, Jerusalem merupakan kota ziarah tiga agama samawi.  Mereka berz...

Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Gambar
Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels , karya Pramoedya Ananta Toer, menghidupkan kembali peristiwa kolonialisasi di Indonesia. Mengisahkan pembangunan Jalan Raya Pos ( Grote Postweg ) yang membentang sejauh 1.000 kilo meter dari Anyer, Banten, sampai Panarukan, Jawa Timur. Jalan raya ini dibangun hanya dalam waktu setahun pada 1808-1809, di bawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Williams Daendels, yang sangat berambisi menguasai Jawa. Pramoedya merekonstruksi sejarah penindasan Daendels dengan menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan. Ia mengistilahkan ruas-ruas jalan raya ini beraspalkan darah dan air mata. Pekerja dipaksa rodi, banyak mati karena keletihan, kelaparan, atau terserang penyakit malaria dan yang lain. Ratusan mayat berceceran tak diurus selama masa pembangunan. Jalan Raya Pos telah menjadi infrastruktur penting sejak digunakan pada 1809. Tak salah jika disebut jalan yang menjadi penentu kehidupan pulau Jawa. Jalanan ini berukur...

Nexus: Jejaring Informasi Membangun Peradaban

Gambar
Dulu saya percaya bahwa memiliki banyak informasi menjadikan keadaan lebih baik. Tapi setelah membaca Neksus Riwayat Jejaring Informasi , buku terbaru Yuval Noah Harari, saya harus memikirkan ulang persepsi tersebut. Saya menggemari tiga buku Harari sebelumnya ( Sapiens , Homo Deus , dan 21 Lesson ). Saya sudah hapal cara dan gaya menulis Harari yang selalu menjelaskan peristiwa-peristiwa sejarah dengan kisah-kisah menarik dilengkapi contoh dan humor yang cerdas. Harari mengawali buku ini dengan mengajukan pertanyaan mendasar. Siapa kita? Apa yang harus kita kejar? Apa itu kehidupan yang baik, dan bagaimana kita harus menjalaninya? Akankah memiliki lebih banyak informasi menjadikan keadaan lebih baik? Premis buku ini adalah masalah jaringan yang membuat manusia terhubung. Bagaimana umat manusia memperoleh kekuasaan yang sangat besar dengan cara membangun jaringan kerjasama yang luas, namun jejaring tersebut justru membuat mereka memiliki kecenderungan untuk menggunakan kekuasaan s...

Review Rise and Kill First

Gambar
Libur akhir tahun selama sepekan ini, saya ditemani buku berjudul Rise and Kill First: The Secret History of Israel's Targeted Assassinations, karya Ronen Bergman, jurnalis senior bidang militer dan intelijen untuk Yedioth Ahronoth , surat kabar terbesar Israel, dan kontributor untuk The New York Times. Ronen menyelesaikan buku setebal 763 halaman yang memuat 35 bab. Ia membawa kita jauh menelusuri cikal bakal satu negara dengan ideologi Zionis yang membentuk negara bernama Israel, merdeka pada 1948, di bawah pimpinan Perdana Menteri David Ben-Gurion.  Ronen memaparkan dengan rinci sejarah yang sangat luas dengan mantap terkait eksistensi Israel. Sejak Perang Dunia II tamat, Israel telah membunuh lebih banyak orang daripada negara lain. Hingga buku ini dirilis pada 2018, Israel telah melakukan sekitar 800 operasi pembunuhan intelijen.  Ketergantungan Israel pada pembunuhan sebagai alat militer tidak terjadi secara kebetulan, melainkan berasal dari akar revolusioner dan aktivis...

Upheaval: Studi 7 Negara Mengatasi Krisis

Gambar
Jared Diamond adalah seorang profesor geografi. Namun karya-karyanya menghubungkan antropologi, sejarah, dan bidang lain sehingga perspektifnya tidak biasa tentang sejarah manusia. Seperti buku terbarunya yang memikat berjudul Upheaval- Titik Balik Bangsa-bangsa Usai Menghadapi Krisis (2019). Metode Jared adalah studi kasus komparatif, naratif, dan eksploratoris mengenai krisis dan perubahan selektif di tujuh negara modern.  Jared memotret dengan baik Finlandia, Jepang, Cile, Indonesia, Jerman, Australia, dan Amerika Serikat, pada saat-saat penting dalam sejarah tujuh negara tersebut. Krisis merupakan satu kata paling terkenal dan paling sering diucapakan dalam dunia modern masa kini. Jika kita krisis, artinya kita menghadapi tantangan penting yang tidak bisa diatasi melalui metode-metode biasa. Kita akan mempertanyakan identitas kita, nilai- nilai kita, dan pandangan kita mengenai dunia. Setiap orang bisa mendefinisikan krisis dalam cara berbeda-beda, menurut frekuensi berbeda-be...

Dirgahayu Kota Makassar

Gambar
Dari arsip sejarah pada abad ke 15, Makassar menjadi salah satu kota paling berpengaruh di Nusantara, bahkan pertumbuhannya paling pesat di dunia dengan jumlah penduduk yang mencapai 150 ribu jiwa, bandingkan dengan kota Paris, Rotterdam, dan juga Istanbul yang hanya sekitar 100 ribu jiwa. Kala itu Makassar menjadi kota perdagangan. Posisinya strategis menjadi pintu masuk jalur perdagangan rempah ke wilayah Maluku. Benteng Somba Opu menjadi pusatnya. Benteng ini adalah saksi sejarah kegigihan Kerajaan Gowa serta rakyatnya mempertahankan kedaulatan negerinya dari serangan Hindia Belanda (VOC) dan Portugis. Pada akhirnya menjadi warisan budaya Sulsel. Kota Makassar tumbuh pesat, sekaligus menjadi titik pertemuan beragam budaya. Berbagai simpul peradaban tertaut di kota yang berjuluk Anging Mammiri ini. Penduduk Makassar sejak awal dikenal ramah dan terbuka. Mampu menerima kultural secara kreatif, dan piawai dalam pergaulan antar budaya. **** Makassar dengan catatan panjang kejayaan di ma...

Sumpah Pemuda, Karena Kita Ingin Hidup Bersama

Gambar
Pertama, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia; Kedoea, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia; Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.  Tepat hari ini 92 tahun silam sumpah itu diucapkan secara patriotik oleh 71 pengikrar dari seluruh penjuruh wilayah Indonesia. Sebelum kehidupan bernegara kita resmi merdeka pada tahun 1945 yang diproklamirkan oleh duet Soekarno dan Hatta dan diakui berdaulat oleh negara lain, kita sesungguhnya telah menjadi bangsa besar yang bersatu sejak tahun 1928.  Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa memang ditakdirkan untuk bersama senasib sepenanggungan yang kemudian dipersatukan oleh tujuan dan cita-cita yang sama. Mereka mengikrarkan sumpah itu karena adanya keinginan untuk hidup bersama dengan perasaan kesetiakawanan yang agung.  Setidaknya terdapat lima nilai-nilai Sumpah...

Budaya Kematian

Gambar
“Ternyata orang yang baik itu adalah orang yang ingat akan mati, karena akan mengisi hidup ini lebih berarti dan berharga”. Kita semua berhutang kematian. Tanpa terkecuali. Kematian boleh dikata akhir tujuan bersama, namun setiap orang memiliki jalan yang berbeda hingga sampai ke tujuan tersebut.  Catatan ini tidak membicarakan dari perspektif keimanan individu yang mati untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya semasa hidup di hadapan Tuhannya. Tapi menitikberatkan kematian sebagai tradisi, proses sosial dan budaya yang coba dilestarikan untuk kehidupan yang lebih bermakna bagi komunitasnya.  Bukankah nilai-nilai agama dan nilai nilai budaya saling mengisi. Melalui wadah budaya, nilai-nilai agama dapat diekspresikan, dilindungi, dan dilembagakan, sehingga masyarakat mudah memahami dan menerimanya sebagai suatu tradisi setiap komunitas budaya.  Ada dua budaya kematian yang melekat dalam ingatan saya. Yakni budaya Jawa dan budaya Toraja.  Pertama, ritual kemat...

Memahami Keistimewaan Yogyakarta

Gambar
Ada satu ungkapan klasik yang masih dipegang sebagai prinsip: untuk mengakrabi sebuah kota atau negara, ketahuilah sejarahnya. Dengan tahu sejarah, maka ikatan memorial dan ikatan emosional antara kita dengan tempat tersebut akan mampu menembus ruang dan waktu.  Bagi saya pribadi, mungkin hanya ada dua kota yang selalu nyaman dan membuat saya betah tinggal berlama-lama. Pertama Makassar, kota kelahiran dan tempat menikmati masa kecil, kemudian saat ini tempat bekerja mencari nafkah entah sampai kapan. Keluarga besar yang begitu mewarnai hari-hari saya selama ini juga menetap di ibukota Sulawesi Selatan ini. Kota kedua adalah Yogyakarta, kota ini dengan segala kenyamanan, kesederhanaan, keramahan, kebersahajaan penduduknya membuat saya tak terasa menetap selama 10 tahun di kota budaya ini untuk bersekolah dan beraktifitas dan terus saja larut dalam setiap nadi kehidupan kota Gudeg. Keberadaan Keraton Ngayogyakarto dan Pura Pakualaman membuat Yogyakarta dipandang sebagai salah satu p...

Cerita Algojo Pembantaian 1965

Gambar
Tiap akhir bulan ini, tak putus dibicarakan perihal yang terjadi pada malam 30 September 1965 lampau. Buku Pengakuan Algojo 1965 adalah hasil sedikit pengembangan dari investigasi majalah Tempo edisi 1-7 Oktober 2012.  Redaksi majalah yang pernah dibredel rezim Soeharto ini, sudah berkali-kali menegaskan tak ada agenda tertentu mengangkat laporan yang sangat sensitif tersebut. Tak ada maksud membuka aib atau menyudutkan para algojo. Semata-mata pertimbangan profesionalisme jurnalistik melalui rapat redaksi.  Penulisan terkait sejarah 1965 sudah banyak beredar, dan tentu sarat dimanipulasi penguasa. Semua tahu otoriter militer di bawah kendali Soeharto. Ini namanya fakta yang amat pedih, seperti membuka luka lama yang tidak semua orang menghendaki.  Namun sekali lagi, Tempo hanya memaparkan sejarah dari aspek lain demi upaya rekonsiliasi yang terus diperjuangkan. **** Intisari dari buku setebal 178 halaman ini adalah eksekusi pembunuhan massal terhadap manusia-manusia ya...

Merawat Kekayaan Indonesia Tercinta

Gambar
Perjamuan diplomasi di London, Inggris, lebih dari setengah abad silam. Seorang paruh baya berbalut vez hitam menyulut sebatang rokok. Seketika mengepullah asap dari bibirnya yang sedikit tertutupi oleh kumis uban.   Aroma menyebar merasuki ruangan, kemudian D iplomat tuan  bule  menghampiri laki-lali tersebut seraya bertanya . "Apakah gerangan rokok yang sedang Tuan isap?" "Inilah, Yang Mulia, yang menjadi alasan mengapa Barat menjajah dunia."   Tokoh pengisap rokok dalam cerita itu tak lain adalah Haji Agus Salim, D uta B esar Indonesia pertama untuk Inggris. Adegan ini diceritakan kembali oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku  Mark Hanusz, The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarette.   Jawaban cerdas Agus Salim bukan sek a dar sindiran telak bagi kaum kapitalis, tapi sekaligus penegasan menyiratkan rasa bangga terhadap satu dari seabrek kekayaan alam Indonesia yang melimpah. Yakni cengkeh, kopi, lada, tembakau, d an sebagainya. ...