Postingan

Menampilkan postingan dengan label Perancis

Kami Hidup Bersama Kami Mati Bersama, Itulah Semboyan Perancis

Gambar
Kemampuan sebuah bangsa bangkit dari keterpurukan tidak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa itu sendiri. Semakin panjang sejarah yang dialami, semakin banyak pelajaran yang bisa dipetik untuk keluar dari krisis. Sama halnya dengan negara besar Eropa lainnya, Perancis yang kini menjadi rumah impian semua orang, pernah pula mengalami masa kegelapan. Revolusi Perancis (1789-1799) menjadi titik balik sejarah. Perancis menjadi negara terbuka, berpikiran luas, menjadi tempat banyak orang selain mengadu nasib, juga untuk menimba ilmu. Semangat keterbukaan dan semangat menaklukkan kolonialisme masa lalu menjadi kekuatan Perancis di semua sendi kehidupan. Tak ada negara yang memiliki warna sekaya Perancis. Dengan sejarah panjang itu, tidak usah heran tim sepak bola Perancis selalu bisa bangkit dari keterpurukan. Bahkan lebih dari itu, mereka seperti lebih bergairah dan memiliki rasa percaya diri tinggi. **** Pahamilah sejarah tim Perancis dalam lima Piala Dunia terakhir. Les Bleus  sejak me...

Didier Deschamps Ingin Menulis Sejarah Baru Perancis

Gambar
Jika berbicara sepak bola Perancis, barangkali ada dua sosok yang paling dikenal: Michel Platini dan Zinedine Zidane. Platini berjaya di era 1980-an dengan memimpin Perancis memenangkan trofi pertama, Piala Eropa 1984. Kiprahnya di tiga Piala Dunia (1978, 1982, 1986) juga cemerlang meskipun tak pernah kampiun, dua kali menembus semifinal. Pada 2007 sampai 2015 Platini menjabat Presiden UEFA, otoritas sepak bola benua Eropa. Ketika sebagai tuan rumah 1998, Perancis juara dunia pertama kali lewat aksi fenomenal Zidane. Perancis join  club 7 , negara yang pernah menjuarai Piala Dunia. Berlanjut menyandingkan gelar Piala Eropa dua tahun kemudian. Itulah sejarah terhebat sepak bola Perancis. Piala Dunia 1998 Barangkali banyak yang sudah lupa, orang Perancis pertama mengangkat trofi Piala Dunia mahakarya seniman Italia, Silvio Ganzzaniga, bukanlah Zizou-panggilan Zinedine Zidane, tetapi Didier Deschamps, sang kapten, pemimpin sejati  Les Bleus. Deschamps bertanding untuk Perancis 10...

Kilas Balik Piala Dunia 2018, Bayang-bayang Tuan Putin, Kisah Kroasia, dan Perancis di Puncak Dunia

Gambar
Piala Dunia Russia 2018 dimulai saat malam takbir hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah. Saya masih bisa mengingat pergi ke lapangan menjalankan sembayang Ied, tak lama setelah Presiden Russia Vladimir Putin dan Persiden FIFA Giannini Infantino membuka turnamen dengan kemenangan besar tuan rumah 5-0 melawan Arab Saudi. Bagi saya Piala Dunia 2018 adalah turnamen paling kental muatan politisnya. Mengingat Russia 2018 maka tak bisa melepaskan dari sosok tuan Putin, orang paling kuat di negara "Beruang Merah" dalam beberapa dekade. Russia dipilih menjadi tuan rumah (2018) dan Qatar (2022) dalam satu paket pada waktu bersamaan-hal belum pernah dilakukan FIFA- pada 2 Desember 2010 di Zurich Swiss. Secara mengejutkan Russia menyisihkan Inggris, dan Qatar mengalahkan Amerika Serikat, di mana Russia dan Amerika Serikat lebih difavoritkan berdasarkan semua indakator syarat menjadi host. Pada akhirnya voting itu terbukti skandal korupsi pejabat FIFA. Dua pertiga anggota Komite Eksekutif yan...

Kilas Balik Piala Dunia 2006, Euforia Jerman, Perpisahan Tragis Zidane, dan Kejayaan Italia

Gambar
Sedikit pengantar mengenang momen Piala Dunia Jerman 2006. Setiap kali pesta akbar Piala Dunia menjelang, ada semacam  joke  di lingkaran mahasiswa perantau yang menempuh pendidikan di kota Jogja.  Begini , mayoritas mahasiswa menetap di Jogja selama 4-5 tahun, merujuk masa kuliah, dari semester pertama sampai wisuda.  Nah , jika dikaitkan ajang Piala Dunia yang dihelat empat tahun sekali, berarti normalnya mahasiswa melewatkan 1 Piala Dunia, bisa juga 2 kali.  Jika Piala Dunia ke-3 masih juga di Jogja, hal itu dapat menjelaskan besar kemungkinan studi mahasiswa bersangkutan  molor  dari jadwal.  hehehe. Nah , saya sendiri sepuluh tahun bermukim di Jogja (1997-2007), mulai dari siswa SMA, mahasiswa sarjana, dan mahasiswa magister. Jadi s aya termasuk melewati 3 Piala Dunia di kota gudeg (France 1998, Korea-Jepang 2002, dan Jerman 2006). Piala Dunia membuat saya selalu ingin kembali ke Jogja kota bersahaja yang telah menjadi rumah kedua saya....