Postingan

Menampilkan postingan dengan label Novel

Karena Hidup Tidak Seperti Pasar Malam

Gambar
Semalam saya baru menyelesaikan  Bukan Pasar Malam, roman klasik karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1951. Sudah 75 tahun tapi tetap relevan. Oleh rezim Orde Baru novel ini dilarang edar sejak 1965. Mengisahkan seorang anak revolusi, pekerja Balai Pustaka di Jakarta menerima sepucuk surat dari Blora, kampung halaman, pada suatu hari bulan Desember 1949. Ia diminta pulang karena sang ayahanda sakit keras.  Ayahnya seorang guru, juga pengawas sekolah penuh bakti angkatan Belanda, yang ingin disebut nasionalis dan bukan ulama.  Berbekal uang hutang kawan, sang anak sulung tujuh bersaudara yang dikarakterkan "Aku" bersama istri mudik dengan menumpang kereta api.  Rute sepur itu  diceritakan Pramoedya sebagai perjalanan nostalgia dari stasiun ke stasiun dengan lanskap Jawa yang subur dan permai. Situasi  Gambir, Cakung, Kranji, Tambun, Cikarang, Semarang, Rembang dengan hutan, sawah, hingga k ebun karet terasa begitu nyat...

Review Namaku Alam

Gambar
Leila S Chudori pencerita seru, bahasanya lincah, menyentuh, dan humor cerdas. Ia kembali menerbitkan novel terbaru berjudul Namaku Alam , yang rilis pada akhir 2023. Leila menyusun novel setebal 450 halaman ini menjadi dua bagian besar, yang ia beri nama Kuning Jingga dan Merah Kesumba, dalam dua bagian diturunkan sebanyak 12 bab. Namaku Alam ditarik- spin - off (bukan sekuel) dari novel Leila sebelumnya, Pulang (2012), yang berkisah para eksil politik di Paris yang tak bisa pulang ke Indonesia sejak peristiwa 1965. Renacananya akan ada jilid kedua Namaku Alam , sehingga menjadi Tetralogi Leila dalam satu peristiwa: 1965 dan setelahnya. Jika kita ingat membaca Pulang , Alam adalah anak kandung dari Hananto Prawiro dengan Ratna Surti Anandari, wartawan Berita Nusantara, yang dituduh berafiliasi dengan organisasi terlarang PKI. Hananto ditangkap pada 1968 dari persembunyian selama tiga tahun di Cahaya Foto, Jalan Sabang. Ia kemudian dieksekusi mati tanpa proses peradilan, pada 18 ...

Selalu Ada Alasan untuk Pulang

Gambar
Indonesia adalah negara yang selalu kita sebut dengan TANAH AIR, menyebut dengan bangga yang menyiratkan rasa nasionalisme itu. Novel Pulang ( 2012 ) , karya Leila S Chudori, ingin mengekspresikan betapa Indonesia pada satu masa panjang yang kelam, berada di titik nol etika dan akal sehat. Dikuasai rezim tiran dan kroninya, namun tetap menjadi negara tercinta yang selalu membuat orang-orang yang telahir di bawah langit dan di atas tanahnya, selalu merasakan rindu dan ingin pulang. Memoar ciptaan Leila, adalah bagaimana usaha perjuangan untuk merawat ingatan dan melawan lupa atas sejarah politik paling gelap yang pernah melanda Indonesia. Hingga enam presiden berganti, tak ada pengakuan dari pemerintah untuk menyesali tragedi berdarah tersebut, apalagi permohonan maaf dan upaya merangkul keluarga korban eks tahanan politik (tapol) yang puluhan tahun dipaksa “melupakan” penderitaan. Betapa kejamnya ketika manusia yang belum tentu bersalah (hanya karena berbeda pandangan politik) harus d...