Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kenangan

Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Jogja

Gambar
Hari ini 20 tahun lalu. Saya ingin menuliskan suatu pengalaman menyedihkan. Pada 27 Mei 2006 gempa bumi 5,9 skala richter meluluhlantakkan Daerah Istimewa Yogayakarta dan sebagian Jawa Tengah dengan korban tewas lebih dari 5.000 orang. Hari sabtu pagi itu, Yogyakarta terutama di kawasan selatan, Bantul, menjadi kota penuh duka. Pada saat masyarakat akan memulai aktifitas di akhir pekan, sekitar sepuluh menit menjelang pukul enam pagi, bencana alam gempa bumi dahsyat datang tanpa pernah diprediksi sebelumnya. Pada masa-masa itu pemerintah dan masyarakat Jogja terfokus pada aktifnya Gunung Merapi yang statusnya telah ditetapkan "AWAS". Secara tanggap pemerintah Jawa Tengah dan DIY mempersiapkan upaya-upaya pengungsian terhadap warga yang tersebar di 15 Desa disekitar lokasi gunung yang membuat nama Mbah Maridjan dikenal banyak orang. Di Bantul, kawasan yang paling parah dampaknya, hampir tidak ada yang luput dari hentakan gempa tersebut. Tak terhitung rumah yang rubuh, ratusan ...

Melintasi Jalanan Nostalgia di Jogja

Gambar
Pagi-pagi sebelum matahari beranjak naik pada Selasa 9 Juli 2024, saya sudah keluar menyusuri jalanan-jalanan di Jogja yang dulunya saya akrabi dan sering datangi pada masa 1997 sampai dengan 2008. Saya mengajak Vera di boncengan motor honda Beat yang saya pinjam dari Memed. Semacam perjalanan tapak tilas, sentimental journey . Kami meluncur menikmati suasana pagi kota yang segar. Malioboro masih sepi, melewati Jalan Trikora yang diapit Kantor Pos dan Gedung BNI di titik nol, menuju Alun-alun Utara Keraton, melihat masyarakat sedang joging dan lari di Alun-alun ini sambil saya menunjukkan lokasi bakmi Pak Pele di ujung sebelah timur yang batal kami datangi semalam. Kemudian Jalan Ibu Ruswo yang menghubungkan ke Jalan Brigjen Katamso Gondomanan. Di jalan ini dulu saya sering nonton di bioskop Widya, yang memutar film-film Hollywood dan Asia, walaupun berselisih empat bulan penayangan di bioskop-21, seingat saya harga tiketnya 1.500 rupiah. Kemudian berbelok kanan melintasi plengkung ...

Menyusuri Wajah Baru Malioboro

Gambar
Usai check -in di eL Hotel di Jalan Dagen pada Senin 8 Juli 2024, Vera dan saya sempatkan beristirahat memulihkan stamina setelah melewati dua malam panjang di Prambanan Jazz. Sedangkan Siti dan Uswa memilih berenang menjelang sore di pool yang berada bersebelahan dengan lobi dan restoran. Sore harinya sekitar pukul 17.30, kami berempat mulai keluar berjalan kaki menikmati suasana Malioboro. Untuk perjalanan kali ini, saya meminjam istilah Henri Gendut Janarto " Ziarah Malioboro ". Start dari Jalan Dagen yang terletak di barat Malioboro, kami bergerak ke arah selatan dengan tujuan utama Benteng Vredeburg dan Titik Nol, perempatan besar Kantor Pos, Bank BNI, Monumen Serangan Umum 1 Maret, dan Jalan Trikora menuju Alun-alun Utara. Ada sesuatu perasaan lega sekaligus takjub berjalan kaki di pedestrian Malioboro yang sudah ditata dengan rapih dan sangat ramah bagi pejalan kaki. Sejak awal 2022 pedagang kaki lima (PKL) yang dulu berjualan di sepanjang trotoar sepanjang 2 kilo me...

Kenangan Tentang Rumah

Gambar
Pada pertengahan Juli 1997, kami sekeluarga memasuki rumah baru. Syukur Alhamdulillah. Saya pernah bertanya pada ibu mengapa mesti pindah rumah yang jaraknya hanya sekitar 100 meter ke arah utara rumah kami sebelumnya? Mengapa tidak seperti kebanyakan keluarga teman-teman, ketika pindahan tempat tinggal biasanya ke lingkungan yang sama sekali baru, jauh, dan butuh proses adaptasi dengan suasana baru dan penduduk baru di sekitarnya. Jujur saja sebenarnya saya senang saja, karena meskipun pindah rumah, saya tetap tidak "kehilangan" masa kecil yang penuh nostalgia. Saya tetap menetap di kawasan yang sama tanpa proses adaptasi lagi; saya tetap bertetangga dengan orang-orang yang sama; saya dapat tiap saat datang ke tanah lapang yang merupakan salah satu ruang bersosialisasi para penghuni kompleks. Tanah lapang itu yang dulu begitu luas ketika masa kanak-kanak bermain dan berlari, kini menjadi begitu sempit dan terbatas. Tanah lapang itu pula menjadi saksi sejarah peradaban wa...

Usia Manusia Pendek, Hanya Kenangan yang Memperpanjang

Gambar
" Soal menyibak sejarah yang digelapkan; keindahan yang diabaikan; kepribadian yang dicampakkan; kebahagiaan yang dipalsukan; kenyataan yang dikaburkan; kebersahajaan yang diruwetkan; keaslian yang dipalsukan, trauma yang dikuburkan; dan rindu yang disembunyikan" Bre Redana menulis buku format novel berjudul  Koran Kami with Lucy in the Sky , sebagai kenang-kenangan untuk Harian  Kompas,  kantornya mengabdi selama 35 tahun berkarir sebagai jurnalis. Sebelum paripurna, Bre Redana konsisten menulis hal-hal yang berkaitan dengan seni, kebudayaan, dan  urban life . Oleh karena itu, novel ini sebenarnya esai-esai yang mengisahkan jejak Bre Redana pada dunia jurnalistik, saksi atas peristiwa politik dan budaya kontemporer yang penting di Indonesia. Ceritanya sendiri seru, tentang kawanan pensiunan wartawan yang reuni membuat koran. Karakter-karakter 'fiktif' yang dibangun adalah: Santosa Santiana (SS), Mukijan, Nindito, Hardojo, dan Darnanto. Pe...