Postingan

Menampilkan postingan dengan label Badminton

Skandal "Shuttlegate" yang Mencoreng Olimpiade

Gambar
Satu momen pertandingan di Olimpiade paling memalukan dan mencoreng nilai-nilai luhur olahraga Tiba-tiba seisi penonton Wembley Arena, venue badminton Olimpiade London 2012, dan ratusan juta pemirsa televisi disuguhkan dua pertandingan memalukan yang mencederai fair play , di nomor ganda putri antara pasangan terkuat dunia asal China, Yu Yang/Wang Xiao Li, melawan ganda Korsel, Jung Kyung/Kim Ha-na. Satu pertandingan lagi melibatkan ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Meiliana Jauhari menghadapi pasangan Korsel lain, Ha Je/Kim Min-jung.  Ganda China, Yang/Wang dengan sengaja mencari kekalahan agar menempati runner up grup, sehingga terhindar kemungkinan duel dengan pasangan senegaranya di semifinal. Skenario China, hanya ingin mereka bertemu di final dengan memborong medali emas dan perak sekaligus. Seperti diketahui hasilnya Yang/Wang "sukses" kalah.  Paralel dengan pertandingan di lapangan sebelahnya, begitu duel Yu Yang/Wang Xiao Li melawan Jung Kyung/Kim Ha-na selesai...

Gelar All England Pelepas Dahaga 30 Tahun

Gambar
Saya ingat perkenalan dengan All England terjadi pada 1991. Ketika itu pagi-pagi sekali selepas sahur Ramadhan 1411 H, saya menerima koran Pedoman Rakyat dari loper bersepeda.  Koran lokal Makassar yang sudah lama tidak terbit tersebut memberitakan  headline kemenangan Ardi B Wiranata dan Susi Susanti menjuarai tunggal putra dan tunggal putri All England. Lengkap dengan foto Ardi dan Susi mengangkat trofi ikonik All England. Di final Ardi mengalahkan andalan Malyasia, Foo Kok Keong. Sedangkan Susi mengatasi Sarwendah Kusumawardanhi di All - Indonesian final . Bagi Susi itu trofi keduanya setelah juara pertama kali pada 1990, dan kemudian berhasil lagi pada 1993 dan 1994. Karir Susi memang sudah komplit. Sedangkan bagi Ardi, itulah gelar All-England satu-satunya sepanjang karir. Namun satu gelar prestisius tersebut sudah cukup membuat namanya menjadi legenda di turnamen badminton paling klasik. Ardi pemain Indonesia keempat yang sukses, mengikuti jejak Tan Joe Hok pada 1958...

Buka Puasa dan Santap Sahur Nonton All England 2024

Gambar
Kemarin petang Sabtu 16 Maret 2024 bertepatan dengan buka puasa dengan menu es pisang ijo, bakwan jagung, tempe mendoan, dan americano Starbucks , pada hari kelima Ramadhan 1445 H, saya menonton pertandingan semifinal All England 2024 via SPOTV, jaringan televisi berbayar asal Korea Selatan. Jadwal semifinal yang digelar di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, mempertandingkan 10 laga yang dibagi dalam dua sesi. Hanya satu lapangan yang disiapkan, dengan karpet berkelir abu-abu tua mengganti warna hijau atau biru seperti biasanya, memberi nuansa baru menyaksikan badminton. Ada tiga wakil Indonesia yang akan bertanding, dua tunggal putra yakni Anthony Sinisuka Ginting, dan Jonatan Christy. Satu lagi nomor ganda putra Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto. Keberhasilan Anthony mengalahkan Viktor Axelsen (unggulan 1) dan Jojo menang atas Shi Yuki (unggulan 2) di delapan besar membuat eforia penggemar badminton tanah air yang merindukan pemain tunggal putra melangkah jauh di turnamen paling...

Ode untuk Lin Dan

Gambar
Sebagai orang Indonesia pada umumnya, saya menggemari dua cabang olahraga terpopuler: sepak bola dan bulutangkis. Sejak saya menjadi penggemar badminton pada akhir 1980-an, China selalu menjadi rival utama dengan kekuatan besarnya. Setelah China ada Malaysia, Korea Selatan, dan Denmark. Belakangan Jepang menjadi kekuatan baru. Dari puluhan pemain tunggal putra China yang pernah saya amati tiga dekade, hanya dua pemain yang paling menakutkan: Zhao Jianhua dan Lin Dan. Keduanya kebetulan pemain kidal, yang menjadi monster pembunuh bagi pemain Indonesia pada generasi berbeda. Zhao Jianhua menggantikan pemain seniornya Han Jian dan Yang Yang. Jianhua adalah juara All England 1985 saat berusia 20, kemudian juara lagi pada 1990. Juara Dunia 1991, dan meraih dua medali emas pada Asian Games 1986 dan 1990. Gelar perorangan dilengkapi dengan mengantar China memenangkan Piala Thomas pada 1988 dan 1990. Jianhua adalah fenomenal dan senantisa meneror, ia antagonis pertama saya sebagai penggemar ba...