Postingan

Menampilkan postingan dengan label Budaya

Menciptakan Ulang Identitas dan Mengejar Kenikmatan

Gambar
Ariel Heryanto, Professor Australian National University, menulis buku menarik berjudul Identitas dan Kenikmatan : Politik Budaya Layar Indonesia (2015). Hasil terjemahan Identity and Pleasure : The Politics of Indonesian Screen Culture , yang diterbitkan di Singapura pada tahun 2014. Fokus utama buku ini meneliti politik budaya kontemporer di Indonesia dengan fokus pada bagaimana budaya populer berperan dalam membentuk ulang dan mentransformasikan identitas sosial mereka di era pasca-Orde Baru, dengan menggunakan budaya layar: film, televisi, dan media sosial. Menurut Ariel, orang Indonesia hidup dalam lingkungan yang berkiblat pada komunikasi lisan, lebih mudah menerima pesona gambar bergerak dan lebih tanggap secara kreatif terhadap apa yang ditawarkan oleh kamera video, ketimbang kata-kata tertulis atau program komputer pengolah kata (hlm. 134). Ariel dengan asyik membawa kita ke suatu perjalanan visual sangat memikat, dengan lintas disiplin bidang yang cair, perspekti...

Budaya Kematian

Gambar
“Ternyata orang yang baik itu adalah orang yang ingat akan mati, karena akan mengisi hidup ini lebih berarti dan berharga”. Kita semua berhutang kematian. Tanpa terkecuali. Kematian boleh dikata akhir tujuan bersama, namun setiap orang memiliki jalan yang berbeda hingga sampai ke tujuan tersebut.  Catatan ini tidak membicarakan dari perspektif keimanan individu yang mati untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya semasa hidup di hadapan Tuhannya. Tapi menitikberatkan kematian sebagai tradisi, proses sosial dan budaya yang coba dilestarikan untuk kehidupan yang lebih bermakna bagi komunitasnya.  Bukankah nilai-nilai agama dan nilai nilai budaya saling mengisi. Melalui wadah budaya, nilai-nilai agama dapat diekspresikan, dilindungi, dan dilembagakan, sehingga masyarakat mudah memahami dan menerimanya sebagai suatu tradisi setiap komunitas budaya.  Ada dua budaya kematian yang melekat dalam ingatan saya. Yakni budaya Jawa dan budaya Toraja.  Pertama, ritual kemat...

Filosofi Batik

Gambar
Mungkin kita semua sama, senang sekali jika  mengenakan baju batik.  Entah kenapa, baju batik yang saya pakai selalu membuat saya merasa lebih keren, lebih percaya diri, dan tentu saja lebih mencintai bangsa Indonesia. Batik adalah karya seni bernilai tinggi. Bukan sekadar pakaian. Busana batik tidak pernah mati gaya. Produk tekstil warisan leluhur bangsa kita memang indah dan membuat hasil budaya ini dikagumi sampai ke manca negara.  Batik telah menjelajah hingga Eropa, Australia, Asia, dan Amerika. Karena telah menjadi ekspor unggulan, batik mengalami perkembangan pesat menyangkut warna, pola dan juga corak yang semakin dinamis. Motif batik tradisional semacam parang, tanaman, binatang, truntum tidak lagi mendominasi. Kini bermunculan motif lebih berani gambar realis maupun abstrak sebut saja awan, gambar candi, wayang.  Lebih heboh lagi banyak anak muda kantoran mengenakan batik dengan terselip motif logo klub sepak bola luar negeri seperti MU, Barcelona, Chelsea,...

Menyantap Kapurung dan Parede Aroma Luwu

Gambar
Terlebih dulu saya mohon dimaafkan, sekiranya artikel yang saya posting kali ini, sekaligus menjadi media promosi atas usaha keluarga kami di bidang kuliner, Rumah Makan (RM) Aroma Luwu. RM Aroma Luwu adalah restoran lokal pelopor di kota Makassar yang menyajikan ragam masakan tradisional dari Tanah Luwu. Sejak tahun 2000. Nama berbagai makanan di sini pun tak familiar. Sebut saja  Kapurung, Ikan Parede, Barobbo, Lawa, dan Dange. Untuk penyantap konvensional ditawarkan Ikan Bandeng Goreng, dan Ayam Goreng, khas Aroma Luwu. Nyaris semua sajian di Aroma Luwu konsepnya lambat saji  (slow food) . Sekitar 15 menit, karena menu yang dipesan harus terlebih dulu diproses secara manual, yang kemudian disajikan dalam kondisi panas, dan tentu saja nikmat. Menu andalan dan paling populer adalah  Kapurung.  Makanan ini bisa dikatakan unik, bahkan  ‘ekstrim’,  karena lidah orang Sulsel pun banyak yang tak cocok. Berkuah panas, berasa asam, pedas. Namun jika telah menyici...

Suku Bugis dan Makassar itu Berbeda

Gambar
Empat kelompok suku terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan adalah: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Namun acap kali orang luar atau pendatang tidak dapat membedakan antara orang Bugis dan orang Makassar. Sangat sering, kata ‘Bugis’ dan ‘Makassar’ disandingkan, sehingga banyak yang menilai kata ‘Bugis’ dan ‘Makassar’ adalah sinonim. Bahkan orang Bugis dan orang Makasaar yang bersangkutan, juga para ilmuwan setempat sendiri turut berperan menghilangkan perbedaan kedua suku tersebut dengan melafal dan menuliskan kedua istilah tersebut menjadi kesatuan : ‘Bugis-Makassar’ Kecenderungan ini memang berdasarkan atas beragamnya kesamaan identitas mereka sebagai dua suku bertetangga yang mengatasi perbedaan suku dan bahasa mereka. Mereka, mungkin, dua suku di nusantara yang sistem hierarkinya paling kaku dan rumit. Sangat hitam putih. Proses similasi dan alkulturasi di segala aspek kehidupan, termasuk dalam seni sastra, menciptakan berbagai kesamaan budaya antara kedua suku tersebut. Faktor p...

Peradaban Manusia Luwu

Gambar
Ketahui sejarahnya, maka kamu akan menembus ruang dan waktu. Luwu dalam revolusi menggambarkan sekeping sejarah dari Indonesia yang mempunyai hubungan-hubungan penting dengan kerajaan lain di Indonesia. Sejarah Luwu dimulai dari zaman asal mula hingga masa revolusi kemerdekaan yang lalu. Berdasarkan hikayat lama, diperkirakan pada periode abad ke 10 hingga abad ke 14, Luwu merupakan kerajaan yang terbesar dan masih terus berkembang. Konon, Kerajaan Luwu telah berkembang selama 300 tahun sebelum berdirinya Kerajaan Gowa dan Bone. Itulah sebabnya dalam silsilah raja-raja di Sulsel, selalu mencantumkan sumber asal muasal keturunannya dari Luwu. Bersadarkan pengalaman dan peristiwa sejarah di masa kerajaan Sulsel, Luwu selalu menjadi patokan dan tempat bertanya para raja. Christian Pelras dalam bukunya  Manusia Bugis , menulis, bahwa Islam lebih awal masuk ke Luwu dibanding di Gowa. Datu Luwu diislamkan pada 1603 sementara Raja Gowa Tallo tiga tahun kemudian. Penyebaran siar Is...

Memories of My Body: Tubuh Penari Lengger Versi Garin

Gambar
Pengalaman baru yang benar-benar menyenangkan. Saya bergabung dengan ratusan orang termasuk para turis asing  nobar   film screening ,  Memories of My Body  di Taman Baca, Ubud. Sensasinya dahsyat menonton film, langsung bersama  Director  Garin Nugroho, pada ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) Oktober 2019. Memories of My Body , atau versi originalnya berjudul  Kucumbu Tubuh Indahku  merupakan film terbaik pilihan majalah  Tempo  pada 2018 dan terkonfirmasi pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2019. Selain berjaya di dalam negeri, karya paling gres  Garin ini juga mewakili Indonesia pada ajang Academy Award 2020. Memories of My Body  lantas menjadi diskusi menarik di masyarakat. Garin, laki-laki 58 tahun asal Jogja ini sudah dikenal sebagai sutradara yang kerap menghadirkan film dengan tema-tema variatif, mengangkat dan merefleksikan seni dan tradisi masyarakat kita yang terserak. Saya termasuk penikmat dan seri...

Review Film Soegija

Gambar
Antara nilai-nilai agama dan budaya saling mengisi, melalui wadah budaya, nilai-nilai agama diekspresikan dan dilembagakan sehingga masyarakat atau umat beragama mudah memahami dan menerimanya.  Negara Indonesia telah disepakati tidak didominasi norma agama tertentu, namun kehidupan bebangsa dan bernegara Indonesia tidak boleh lepas dari nilai-nilai agama yang lebih bersifat muamalah, bukan norma dari perpektif ibadah di mana setiap agama memiliki detail yang berbeda.  Dalam kandungan tataran agama muamalah, norma agama relatif mempunyai nilai yang sama, contohnya anti diskriminasi, cinta kasih, saling memaafkan, dan sebagainya. Pemikiran dan penerapan nilai luhur tersebut diterjemahkan secara apik lewat satu film semi-dokumenter karya Garin Nugroho berjudul  Soegija   (2012). Bercerita Monsinyur Albertus Soegijapranata SJ, Uskup pribumi pertama  menjalankan peran untuk mengabdi kepada umat dan juga membantu Indonesia meraih dan mempertahankan kemerdekaaa...

Adab Orang Bugis di Meja Makan

Gambar
Menonton film  Athirah , meski harus diakui bukan  masterpiece  duo Riri Riza-Mira Lesmana, cukup berhasil menerjemahkan dengan memikat sosial budaya orang Bugis dan Makassar. Riri yang merupakan sutradara berdarah Bugis, seperti hendak mewujudkan sintesis berupa makanan, minuman, keluarga, dan budaya (Bugis dan Makassar) yang membuat hidup lebih menyenangkan untuk dirayakan sembari tetap bersyukur. Dalam kisah inspirasi ibunda Jusuf Kalla tersebut, beberapa kali Riri menampilkan adegan makan bersama dalam sebuah keluarga inti, membuat saya yang tumbuh-kembang dari asuhan keluarga Bugis-Bone konvensional, terkenang kembali pada satu tradisi, yang barangkali di beberapa kelompok masyarakat Bugis dan Makassar terus mengalami pergeseran nilai dan ritual. Makan malam adalah waktu terbaik untuk berkumpul dan makan bersama, biasanya selepas sembahyang Magrib. Di ruang yang sama, menyatu dengan dapur, kami meriung di meja makan keluarga. Tak ada yang istimewa tersaji, menunya st...

Dalam Beras Bugis ada Doa, Harapan, dan Rasa Syukur

Gambar
Sewaktu saya masih sekolah di Jogja, setiap ibu berkunjung dari Makassar, pastilah tak lupa membawa bekal utama: beras. Ya, sekarung beras Bugis. Begitu pula kalau saya sudah mesti balik ke Jogja, setelah mudik lebaran, ibu selalu menyiapkan paket berupa literan beras, untuk bekal makan di Jogja nanti. Padahal di Jogja sendiri, banyak beras kualitas bagus dengan mudah dibeli. Ada beras Cianjur yang terkenal, atau beras Delanggu yang gurih, dan sebagainya.  Saya sudah cukup sering mengatakan pada ibu, untuk tidak perlu repot dan susah-susah membagasikan beras di pesawat. Namun ibu bergeming, tetap memboyong berasnya sendiri. Ada perasaan tidak enak, tidak  sreg , sesuatu yang tidak lapang katanya, kalau bepergian jauh tanpa membawa beras. Kakak saya yang menetap di Jakarta, juga acap kali dibawakan beras dari Makassar, atau ibu menitipkan kepada anggota keluarga yang hendak pergi ke ibukota. Jauh setelah itu baru saya mengerti, baru saya paham, dan merasa malu sendiri, p...

Hari Dunia Tanpa Rokok

Gambar
(dok. pri) Yuval Noah Harari, sejarawan muda paling fenomenal saat ini, menulis dalam buku larisnya,  Sapiens  (2011), bahwa rokok kerap kali berperan sebagai uang. Narapidana yang tidak merokok bersedia menerima rokok sebagai pembayaran, dan menghitung nilai semua barang dan jasa lain dalam rokok. Seseorang yang selamat dari  Auschwitz menjabarkan mata uang rokok yang di gunakan di kamp tersebut.  "Kami memiliki mata uang kami sendiri yang nilainya tidak dipertanyakan siapa pun: rokok. Harga setiap barang dinyatakan dalam rokok. Pada masa "normal", yakni ketika orang-orang calon masuk kamar gas berdatangan secara teratur, satu roti berharga 20 batang rokok; satu pak margarin 300 gram senilai 30 batang rokok; satu arloji dinilai 80-200 batang rokok: satu liter alkohol dapat ditukar 400 batang rokok!" Sebelumnya lagi pada 1994, film klasik  The Shawshank Redemption , menceritakan sekelompok narapidana kelas berat yang dipimpin Morgan Freeman (berperan...

Peradaban Orang Balbod Makassar

Gambar
Di kota Makassar (dulu sempat bernama Ujung Pandang), ada satu kawasan yang sangat populer dengan stigma negatif. Masih melekat hingga kini meski sudah mengalami transformasi sosial budaya masyarakatnya. Balang-Boddong namanya, selalu disingkat dengan  Balbod,  d an saya termasuk warga ber KTP setempat.  Hehehe. Balbod , mempunyai sejarah kehidupan yang kelam dalam perjalanan waktu. Tanyakan pada  anak muda Makassar yang tumbuh di era 1970-an hingga masa 1990 an,  Balbod  adalah legenda yang menyimpan banyak kisah dan peristiwa yang masih sering diangkat ke permukaan ketika mereka-mereka yang dulu sebagai “penguasa” kawasan ini sesekali bertemu. Balbod  merupakan satu kawasan old town di Makassar sebelah selatan, mencakup jalan Letjen Mappaoddang, jalan Andi Mangerangi, jalan Baji Gau, dan beberapa jalan dan gang sempit. Secara administratif  berada di bawah naungan kelurahan Bungaya, Kecamatan Tamalate.  Tiap kali sa...