Angkringan Mas Yudi di Nitipuran (23)


Penyair Joko Pinurbo menulis satu puisi yang terkenal, bahkan liriknya dimural sebagai spot foto di Teras Malioboro 1.

"Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan"

Siapa pun yang pernah tinggal di Jogja bisa merasakan ikatan emosional dan kenangan menyantap makanan sederhana dalam suasana kehangatan di angkringan

Tak afdal rasanya “pulang” ke Jogja tidak singgah di angkringan. Suatu siang pada Rabu 22 Juli 2026, setelah berkeliling di kawasan selatan Jogja, saya sampai di Jalan Nitipuran, Ngestiharjo, dan memutuskan berhenti di satu angkringan di tepi jalan untuk makan siang.

Angkringan yang sangat tradisional, terdiri dari gerobak tempat menjajakan menu-menu masakan kampung, dan gerobak sekaligus menjadi meja makan. Disedikan dua bangku kayu panjang, dan ditutupi terpal besar berwarna biru. Angkringan seperti ini hanya muat untuk enam pelanggan dalam waktu yang bersamaan.

Ketika saya datang pukul 12.50 WIB, ada tiga orang yang sedang makan, dua di antaranya cepat selesai dan pulang. Jadi saya duduk sendiri di satu bangku dan memulai menyantap nasi oseng teri, sate, dan gorengan. Saya harus mengatakan saya suka rasa masakan angkringan ini.

Tidak lama kemudian datang seorang dan duduk di sampingku. Namanya Marwan, ia seniman patung. Marwan sangat akrab dengan pedagangnya. Saya menyimak percakapan mereka walaupun sering kehilangan konteksnya.

Lalu Marwan yang melihat saya, menyadari bahwa saya "pemain baru" di tempat ini. Ia membuka obrolan dengan menyarankan saya mencicipi ikan teri kering yang dibungkus plastik kecil, kemudian menaburkan ke nasi oseng, biar makin mak nyuss.

Dari momen ikan teri itu, saya mengajukan perkenalan yang disambut hangat. Saya pun diajak terlibat dalam obrolan mereka yang menyenangkan. Pada saatnya Marwan memberitahu saya bahwa Yudi ini bukan pedagang angkringan biasa. Yudi adalah anggota grup orkestra keroncong Sinten Remen yang dibentuk musisi mendiang Djaduk Ferrianto.

Jadi ketika Sinten Remen diundang manggung, itu berarti angkringan ini tutup, bisa berbulan-bulan lamanya karena Sinten Remen konser sampai di Amerika Serikat.

“Angkringan tutup lama mas, bingung kita mau makan di mana?”, kata Marwan dalam bahasa Jawa kepada saya setengah bercanda. Saya tertawa mendengar guyonan Marwan.

Saya takjub dengan Yudi, yang memilih berdagang angkringan sambil menekuni bermusik di grup Sinten RemenYudi mulai membuka angkringan ini sejak 2016. Pelanggan utamanya adalah warga Ngestiharjo yang biasa disebut kampung seniman. Butet Kertarajasa adalah pelanggan yang rajin datang pada pagi hari, kata Yudi.

Tak ada kesan Yudi adalah artis grup musik terkenal. Penampilan dan pembawaannya sederhana. Yudi yang bernama asli Kendar Iswahyudi adalah pencipta lagu Vaksin untuk Negeri. Lagu resmi program vaksinasi nasional pada masa pandemi Covid-19. 

Yudi ramah sekali pada siapa saja, ia bersedia menjawab beberapa pertanyaan saya karena saya sangat tertarik pada caranya menyikapi hidup. Barangkali buat mereka ini sudah biasa, tapi bagi saya sesuatu yang keren sekali. Pertama kali di angkringan yang pedagangnya adalah artis yang sering saya nikmati karyanya.

“Bermain musik itu untuk hobi, silaturahmi, dan bersenang-senang bersama teman, sedangkan berdagang angkringan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup”, kata Yudi kepada saya dengan mantap. 

Yudi juga bercerita ketika tampil di suatu event, seperti ajang tahunan Ngayogyajazz, Sinten Remen sering tidak dibayar. Sedangkan para penampil lainnya terutama dari luar kota bahkan luar negeri mendapat bayaran mahal. “Tidak masalah dengan itu, kami sudah terbiasa”, katanya lagi. Tak ada klise dari ucapan dan sorot matanya. Yudi benar-benar seniman sejati.

Sekitar dua jam saya di angkringan, bahkan ketika Marwan pamit pulang lebih dulu, saya masih betah mengobrol dengan Yudi. Saya senang sekali ketika Marwan dan Yudi mengajak saya sering main angkringan jika berkunjung ke Jogja. Ajakan yang saya rasakan bukan basa-basi.

Saya membayar 25 ribu rupiah tunai untuk menu tiga nasi oseng, tiga tusuk sate, gorengan, kerupuk, dan minum dua teh panas. Saya pulang dengan perasaan happy.

Salam hangat dari Angkringan Mas Yudi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Merayakan Kenangan di Konser Dewa 19