Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bugis

Jusuf Kalla Orang Bugis Pandai, Saleh, dan Kaya

Gambar
Christian Pelras, antropolog Perancis yang hampir setengah abad mengkaji berbagai aspek kemasyarakatan, sejarah, dan kebudayaan suku Bugis, menulis dalam bukunya  Manusia Bugis , bahwa ada empat sifat keutamaan yang harus dimiliki oleh pemimpin yang baik, yakni:  warani  (berani),  macca  (pandai-pintar ), sugi’  (kaya), dan  panrita  (saleh).  Keempat sifat mulia ini semata-semata untuk menegakkan  siri’  (rasa bangga dan malu) yang menjadi nilai paling berharga bagi orang Bugis dan Makassar.  Kemudian di akhir buku tersebut, Pelras menuliskan sosok Jusuf Kalla, seorang Bugis yang prototipe  to-acca, to-panrita, dan to sugi’ . Entah alasan apa Pelras tak mengkategorikan Jusuf Kalla seorang  to-warani. **** To-acca  secara harfiah berarti "orang pintar", dapat juga diartikan sebagai seseorang yang “ahli” atau “cerdik”. Sama halnya dengan konsep keberanian ( to-warani ) dalam cerita-cerita Bugis. Konsep kepintara...

Suku Bugis dan Makassar itu Berbeda

Gambar
Empat kelompok suku terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan adalah: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Namun acap kali orang luar atau pendatang tidak dapat membedakan antara orang Bugis dan orang Makassar. Sangat sering, kata ‘Bugis’ dan ‘Makassar’ disandingkan, sehingga banyak yang menilai kata ‘Bugis’ dan ‘Makassar’ adalah sinonim. Bahkan orang Bugis dan orang Makasaar yang bersangkutan, juga para ilmuwan setempat sendiri turut berperan menghilangkan perbedaan kedua suku tersebut dengan melafal dan menuliskan kedua istilah tersebut menjadi kesatuan : ‘Bugis-Makassar’ Kecenderungan ini memang berdasarkan atas beragamnya kesamaan identitas mereka sebagai dua suku bertetangga yang mengatasi perbedaan suku dan bahasa mereka. Mereka, mungkin, dua suku di nusantara yang sistem hierarkinya paling kaku dan rumit. Sangat hitam putih. Proses similasi dan alkulturasi di segala aspek kehidupan, termasuk dalam seni sastra, menciptakan berbagai kesamaan budaya antara kedua suku tersebut. Faktor p...

Adab Orang Bugis di Meja Makan

Gambar
Menonton film  Athirah , meski harus diakui bukan  masterpiece  duo Riri Riza-Mira Lesmana, cukup berhasil menerjemahkan dengan memikat sosial budaya orang Bugis dan Makassar. Riri yang merupakan sutradara berdarah Bugis, seperti hendak mewujudkan sintesis berupa makanan, minuman, keluarga, dan budaya (Bugis dan Makassar) yang membuat hidup lebih menyenangkan untuk dirayakan sembari tetap bersyukur. Dalam kisah inspirasi ibunda Jusuf Kalla tersebut, beberapa kali Riri menampilkan adegan makan bersama dalam sebuah keluarga inti, membuat saya yang tumbuh-kembang dari asuhan keluarga Bugis-Bone konvensional, terkenang kembali pada satu tradisi, yang barangkali di beberapa kelompok masyarakat Bugis dan Makassar terus mengalami pergeseran nilai dan ritual. Makan malam adalah waktu terbaik untuk berkumpul dan makan bersama, biasanya selepas sembahyang Magrib. Di ruang yang sama, menyatu dengan dapur, kami meriung di meja makan keluarga. Tak ada yang istimewa tersaji, menunya st...

Dalam Beras Bugis ada Doa, Harapan, dan Rasa Syukur

Gambar
Sewaktu saya masih sekolah di Jogja, setiap ibu berkunjung dari Makassar, pastilah tak lupa membawa bekal utama: beras. Ya, sekarung beras Bugis. Begitu pula kalau saya sudah mesti balik ke Jogja, setelah mudik lebaran, ibu selalu menyiapkan paket berupa literan beras, untuk bekal makan di Jogja nanti. Padahal di Jogja sendiri, banyak beras kualitas bagus dengan mudah dibeli. Ada beras Cianjur yang terkenal, atau beras Delanggu yang gurih, dan sebagainya.  Saya sudah cukup sering mengatakan pada ibu, untuk tidak perlu repot dan susah-susah membagasikan beras di pesawat. Namun ibu bergeming, tetap memboyong berasnya sendiri. Ada perasaan tidak enak, tidak  sreg , sesuatu yang tidak lapang katanya, kalau bepergian jauh tanpa membawa beras. Kakak saya yang menetap di Jakarta, juga acap kali dibawakan beras dari Makassar, atau ibu menitipkan kepada anggota keluarga yang hendak pergi ke ibukota. Jauh setelah itu baru saya mengerti, baru saya paham, dan merasa malu sendiri, p...

Mengenal Orang Bugis

Gambar
Manusia Bugis , karya Christian Pelras, merupakan terjemahan dari  The Bugis , yang diterbitkan oleh Blackwell Publisher (Oxford, UK ; Cambridge, USA) dalam serinya  “The People of Southeast Asia and the Pacific”,  dengan editor utama Ian Glover dan Peter Bellwood.  Sekilas buku ini tidak menampakkan sebagai buku sejarah dan budaya, malah kesan pertama saya menganggap ini buku komik. Alasannya desain cover yang memajang abstrak seni wajah manusia yang komikal. Don't judge a book by its cover menjadi pas.  Kesan tersebut hilang ketika melihat halaman daftar isi yang merangkum seluruh tulisan hasil riset mendalam dan analis yang tajam oleh Pelras. Sejak empat dasawarsa Pelras memang tekun mengkaji berbagai aspek kemasyarakatan, sejarah, dan kebudayaan Bugis. Latar belakang akademisinya adalah Doktor Antropologi di Universitas Sorbone (Paris). Kehadiran  Manusia Bugis  menjadikan referensi bagi siapa saja yang ingin menapak tilas secara utuh peradab...