Postingan

Menampilkan postingan dengan label Inggris

Nobar Argentina Vs Inggris di Kantor TVRI (5)

Gambar
Pada Kamis dinihari 16 Juli 2026 pukul 1.00 WIB, saya kembali pergi untuk nobar semifinal Piala Dunia 2026, pertandingan antara Inggris berhadapan dengan Argentina. Dari begitu banyak pilihan tempat nobar di Jakarta, entah kenapa saya memutuskan di GOR Bulungan, Kebayoran Baru.  Sebelum di venue, saya terlebih dahulu ingin makan gultik (gulai tikungan) masakan khas yang banyak dijual di sekitar Kebayoran. Dari Cove saya memesan Grab motor dengan tujuan titik Gultik Block M Tebet Barat. Tapi ketika diturunkan mas driver , warung yang dimaksud tidak ketemu atau mungkin sudah tutup.  Saya lalu memutuskan untuk mengorder lagi Grab, langsung ke titik venue, GOR Bulungan. Ternyata jaraknya cukup jauh, 7,1 kilometer dan ongkosnya 20 ribu rupiah. Saya ya kin banyak kuliner dijual di area nobar.  Sekali lagi saya tidak beruntung, subuh itu GOR Bulungan tidak menggelar nobar, tanpa alasan yang jelas. Kata seorang petugas, baru malam tempat ini absen. Jadi saya memutuskan untuk nob...

Jude dan Harry Menyelamatkan Inggris dari Kehancuran

Gambar
Inggris tertatih melewati penyisihan dan entah bagaimana finis sebagai pemimpin klasemen Grup C setelah menang atas Serbia (1-0), dan dua kali bermain imbang melawan Denmark (1-1) dan Slovenia (0-0). Pasukan mewah skuad Inggris belum menemukan performa terbaiknya sejauh ini. Pelatih Gareth Southgate tertekan menerima kritik dari media dan fans yang menuntut penampilan  Three   Lions  yang disegani. Sekarang Inggris melawan Slovakia di babak 16 besar, di Arena AufSchalke, Gelsenkirchen. Pemenang duel ini sudah ditunggu Swiss di babak quarterfinals yang akan berlangsung pada Sabtu di Esprit Arena, Dusseldorf. Meskipun sangat difavoritkan, tidak akan mudah bagi Inggris, karena Slovakia yang lolos ke babak gugur sebagai salah satu (dari empat) peringkat ketiga terbaik, adalah tim yang ulet, rapih, terlatih dengan baik dan sangat berpengalaman yang telah mengalahkan tim kuat Belgia Southgate hanya melakukan satu perubahan pada starting - XI ketika bertanding melawan Slovenia...

Tradisi dan Darah Panas Pemain Inggris

Gambar
Sejak juara Piala Dunia 1966 di negeri sendiri, Inggris di Piala Dunia senantiasa ditandai petualangan dramatis. Selalu saja ada drama dan insiden menyertai kegagalan  Three Lions  di turnamen akbar. Adu penalti melekat pada begitu banyak momen kekalahan Piala Dunia yang memilukan. Membuat fans atau  hooligans  kecewa dan frustrasi dalam waktu yang lama. Bagi Inggris, yang mengklaim sebagai negara penemu sepak bola modern, penantian 56 tahun bagaikan hidup pada masa kegelapan. Pada Piala Dunia 1986 Inggris kalah di perempat final oleh Argentina lewat dua gol ajaib Diego "Dewa" Maradona, dalam duel yang diberi tajuk sebagai laga abad ke-20. Empat tahun kemudian pada Piala Dunia Italia 1990, Inggris yang dilatih manager karismatik Bobby Robson disingkirkan Jerman Barat di semifinal melalui laga brutal adu penalti yang sangat kejam.  Pemain muda Paul Gascoigne menangisi kekalahan Inggris di Turin. Air mata Gascoigne semacam momen penting dalam sepak bola Inggris, y...

Piala Dunia Perancis 1998, Sukses Ganda Perancis, Misteri Ronaldo dan Perseteruan Beckham vs Simeone

Gambar
Setelah menikmati Piala Dunia 1994,  sebagai penggemar sepak bola anyar yang pengetahuan bolanya  cetek , maka France 1998 adalah Piala Dunia kedua bagi saya dengan ragam sudut pandang baru, juga dengan emosi berbeda daripada empat tahun sebelumnya. Selepas Piala Dunia AS 1994, saya makin menggemari olahraga ini. Hampir tak pernah saya ingin ketinggalan mengikuti perkembangan persaingan sepak bola dunia. Kompetisi elite Eropa, terutama Serie-A, Liga Inggris, dan Liga Champions menjadi hiburan setiap pekan.  Pertengahan era 1990-an itu, saya mulai familiar dengan klub-klub besar Eropa. Sebut saja Ajax dari Belanda yang fantastis memenangkan Liga Champions 1995;  Inter, AC Milan, dan Juventus wakil Italia; Real Madrid dan Barcelona dari  Spanyol; dan Manchester United (MU) yang mulai mendominasi Liga Inggris di bawah rezim Alex Ferguson. Setiap Piala Dunia digelar lagi setelah empat tahun, maka ada pergeseran fase kehidupan pribadi kita masing-masing.  Saya m...

Final Piala Eropa 2020 di Stadion Wembley

Gambar
Mungkin klise untuk ditulis, sejak melihat drawing babak gugur Piala Eropa 2020, saya berharap Inggris dan Italia bisa berjumpa di pertandingan final. Sejak mulai merasakan "demam bola" pada Piala Dunia 1994 dan Piala Eropa 1996, Italia dan Inggris merupakan jagoan saya setiap turnamen besar. Sederhana, karena saya tumbuh menjadi penggemar sepak bola dari siaran Liga Italia dan Liga Inggris sejak awal era 1990-an. Tekun menonton setiap akhir pekan Seri A dan Premiership mendoktrin saya seperti ungkapan "tak kenal maka tak sayang". **** Hari istimewa, dunia sepak bola menantikan dengan penuh semangat untuk menyaksikan final Piala Eropa 2020 atau edisi ke-16 yang bertepatan dengan perayaan 60 tahun UEFA, otoritas sepak bola Eropa menggelar turnamen paling prestisius, pertama kali dilaksanakan pada 1960. Italia atau Inggris akan mendapatkan "kehormatan" ketika salah satu finalis memenangkan gelar Euro 2020 di Stadion Wembley, London pada hari Minggu, 11 Juli ...

Era Kejayaan Inggris

Gambar
Inggris kembali bertanding di Stadion Wembley, “Katedral sepak bola”, untuk menghadapi Denmark di semifinal Piala Eropa 2020. Membahas kekuatan faktual dari sisi teknis tentu sudah banyak dibedah karena bisa diukur dari beberapa pertandingan yang telah dijalani. Barangkali lebih menarik perhatian saya adalah sejarah sepak bola, dan juga persepsi tentang tim Inggris. Negara yang didukung banyak hal, sejarah panjang, kumpulan pemain kelas dunia, pelatih hebat, dan sebagainya. **** Sesuatu yang istimewa sedang terjadi pada tim Inggris. Saat ini "Three Lions" penuh dengan karakter hebat, pemain bagus, dan pemimpin berpengalaman. Manajer Gareth Southgate menghadirkan gairah dan suasana baru. Tim yang terorganisasi dengan baik dan menunjukkan semangat bertarung, dan punya ambisi juara yang sangat luar biasa. Southgate adalah pelatih hebat, tidak hanya urusan dalam meracik teknik, namun juga bagaimana cara pendekatan terhadap para pemainnya. Menanamkan fokus, kerja keras, konsiste...

Menanti Kejayaan Inggris di Wembley

Gambar
Rupanya sudah seperempat abad drama sepak bola yang terkenal itu. Sejak dipastikan Jerman bakal berhadapan dengan Inggris pada babak- 16 besar Piala Eropa 2020 di Stadion Wembley, pada Selasa 29 Juni 2021, pikiran saya mengerucut pada sosok Gareth Southgate, manager Inggris. Setiap berbicara Southgate, bagi saya, waktu seolah terlipat kembali menuju 25 tahun lalu. Yes, turnamen Piala Eropa 1996, yang berlangsung di Inggris merupakan sedikit turnamen sepak bola yang saya ingat detail momen-momen terbaiknya. Satu paling melekat tentu saja perjalanan dan ambisi tim Inggris menjuarai Piala Eropa untuk pertama kali. Tim 'Tiga Singa" dilatih Terry Venables dengan skuad mentereng: David Seaman, Tony Adams, Stuart Pearce, duo Paul (Ince dan Gascoigne), dan duet predator yang terkenal dengan "SAS" (Alan Shearer dan Teddy Sheringham). Southgate barangkali anggota tim termuda kala itu, usia 25. Inggris bermain spektakuler dengan kemenangan meyakinkan atas Skotlandia 2-0, dan me...

The King's Speech: Kepahlawanan Raja George VI

Gambar
Malam tadi, saya memutar kembali film berjudul  The King’s Speech . Bukan film anyar memang.  The King’s Speech  mengangkat kisah perjalanan kekuasaan Raja George VI, ayah Ratu Elizabeth II di Kerajaan Britania Buckingham, London. Film ini dibuka dengan setting pada 1925 dengan menampilkan Stadion Wembley, lengkap dengan  twin tower  legendarisnya. Di stadion magis penuh sejarah tersebut, Raja George V menugasi putra keduanya, Pangeran Albert,-dalam lingkaran keluarga mempunyai nama Bertie, untuk membacakan pidato penutup pada sebuah event eksibisi kerajaan yang sangat prestisius. Teks pidato telah terkonsep dan tinggal dibaca melalui siaran langsung melalui radio ke seluruh penjuru Inggris Raya. Tampak mudah, namun bagi Albert muda, kewajiban itu begitu menyiksanya. Sejak usia lima tahun, Albert yang bergelar  Duke of York menderita gagap serius. Seperti yang dia khawatirkan, pidatonya berantakan. M enurut sejarah, pidato Albert di podium Wem...