Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Jerusalem: Kota Suci dan Kota Konflik

Gambar
Buku yang ditulis dengan gaya jurnalistik selalu menarik untuk dibaca, kita seperti diajak melakukan perjalanan bersama sang penulis. Seperti buku berjudul Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir,  karya Trias Kuncahyono, mantan wartawan surat kabar Kompas   bidang hukum, politik, dan internasional. Saat ini Trias ditugaskan sebagai Duta Besar untuk Takhta Suci Vatikan. **** Siapa tak kenal dengan kota Jerusalem? Telah tercatat sejak 5.000 tahun lalu bahwa kota ini  dinilai sebagai kota suci bagi tiga agama, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Sebagai umat muslim, khususnya, Jerusalem adalah kota suci ketiga, setelah Mekkah dan Madinah.  Dulu Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malamnya dari Mekkah ke Jerusalem, yang kita kenal sebagai Isra Mi’raj ke Sidratul Al Muntaha. Jerusalem menjadi tempat seluruh umat beriman, condominium besar bagi budaya dan moralitas.  Selama ribuan tahun, Jerusalem merupakan kota ziarah tiga agama samawi.  Mereka berz...

Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Gambar
Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels , karya Pramoedya Ananta Toer, menghidupkan kembali peristiwa kolonialisasi di Indonesia. Mengisahkan pembangunan Jalan Raya Pos ( Grote Postweg ) yang membentang sejauh 1.000 kilo meter dari Anyer, Banten, sampai Panarukan, Jawa Timur. Jalan raya ini dibangun hanya dalam waktu setahun pada 1808-1809, di bawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Williams Daendels, yang sangat berambisi menguasai Jawa. Pramoedya merekonstruksi sejarah penindasan Daendels dengan menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan. Ia mengistilahkan ruas-ruas jalan raya ini beraspalkan darah dan air mata. Pekerja dipaksa rodi, banyak mati karena keletihan, kelaparan, atau terserang penyakit malaria dan yang lain. Ratusan mayat berceceran tak diurus selama masa pembangunan. Jalan Raya Pos telah menjadi infrastruktur penting sejak digunakan pada 1809. Tak salah jika disebut jalan yang menjadi penentu kehidupan pulau Jawa. Jalanan ini berukur...

Review Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan

Gambar
Franz Magniz-Suseno adalah seorang rohaniwan, filusf, aktivitis, budayawan, intelektual kelahiran Jerman, ia kemudian terpaksa menjadi pengungsi perang, dan sampai ke Indonesia sejak 1962, memilih menjadi WNI, dan mencintai sepenuh hati Indonesia. Sejak tinggal di sini, Franz sangat peduli sekaligus prihatin terhadap persoalan-persoalan bangsa. Ia pun menuliskan dan menerbitkan banyak artikel, esai, opini, dan sejumlah buku untuk menawarkan solusi bijaksana. Gagasan dan argumentasinya melampaui ruang dan zaman. Salah satu bukunya yang diterbitkan pada November 2006 berjudul Berebut Jiwa Bangsa : Dialog , Perdamaian , dan Persaudaraan , ternyata semakin relevan ketika kita membacanya dua dekade berselang. Mengajarkan kita etika, kebaikan, kejujuran, tanggung jawab sebagai manusia. Bagaimana manusia harus hidup, bertindak dan membangun hubungan di antaranya agar sesuai dengan martabat manusia. Cinta kasih lebih kuat daripada kebencian, kerendahan hati lebih ampuh daripada kesombongan,...