Review Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan

Franz Magniz-Suseno adalah seorang rohaniwan, filusf, aktivitis, budayawan, intelektual kelahiran Jerman, ia kemudian terpaksa menjadi pengungsi perang, dan sampai ke Indonesia sejak 1962, memilih menjadi WNI, dan mencintai sepenuh hati Indonesia.

Sejak tinggal di sini, Franz sangat peduli sekaligus prihatin terhadap persoalan-persoalan bangsa. Ia pun menuliskan dan menerbitkan banyak artikel, esai, opini, dan sejumlah buku untuk menawarkan solusi bijaksana. Gagasan dan argumentasinya melampaui ruang dan zaman.

Salah satu bukunya yang diterbitkan pada November 2006 berjudul Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan, ternyata semakin relevan ketika kita membacanya dua dekade berselang. Mengajarkan kita etika, kebaikan, kejujuran, tanggung jawab sebagai manusia. Bagaimana manusia harus hidup, bertindak dan membangun hubungan di antaranya agar sesuai dengan martabat manusia. Cinta kasih lebih kuat daripada kebencian, kerendahan hati lebih ampuh daripada kesombongan, dan kebaikan yang tulus menang atas segala dendam (hlm 336).

Buku bunga rampai ini disusun dari ratusan artikel esai dan opini Franz yang dipublikasikan di media cetak dalam kurun waktu 1998 sampai 2006, dikelompokkam dalam lima bab, agar kita lebih mudah menyerap pokok-pokok gagasan Franz. Mulai dari ancaman disintegrasi, korupsi, kerukunan antarumat, penggusuran, pembangunan kesejahteraan.

Banyak isu dan fenomena bangsa dan global kala itu dipotret dengan baik oleh Franz. Sebagai contoh, Franz dengan mudah menjelaskan plus dan minus globalisasi. Globalisasi menyangkut nilai dan pola hidup kita. Lewat globalisasi, gagasan-gagasan sepeti HAM, demokrasi, ekonomi pasar, pola konsumsi, cara produksi. Sesuatu yang membuat banyak kemajuan.

Tapi bersamaan dalam globalisasi ada yang menang dan ada yang kalah, ia tidak pernah netral. Salah satu “nilai” khas globalisasi hasil manipulasi dengan tujuan merangsang terus konsumsi produk-produk perekonomian global adalah sugesti bahwa orang terjamin bahagia dan dikagumi apabila ia membeli produk terbaru. Fokusnya bukan pada pembelian barang yang memang dinikmati, melainkan kebaruan produk yang dibeli. Hal itulah yang membuat ketagihan untuk terus membeli barang terbaru, bukan karena dibutuhkan, melainkan karena barang baru harus dibeli, karena orang merasa malu dan kehilangan harga diri apabila tidak bisa memamerkannya (hlm. 210), Franz menulis artikel ini pada 19 Oktober 2003 di Suara Pembaruan. Jauh sebelum kita mengenal istilah "fear of missing out" atau FOMO.

Inilah yang digugat Franz bahwa globalisasi dapat menimbulkan menimbulkan krisis identitas individu sekaligus krisis indentitas suatu bangsa. Pertanyaan lebih mendasar tentang hidup yang bermakna. Tradisi luhur yang diganti dengan hukum persaingan dan budaya kongkalikong. Orang kehilangan pegangan pada etos hidup yang pernah dimilikinya. Hal itu misalnya sangat kentara dalam kelakuan di lalu-lintas  (hlm. 202).

Frans menuliskan saran dan kritiknya dengan argumentasi yang jernih dan akal sehat, memberikan optimisme dan semangat untuk memperbaiki dan merajut nilai-nilai keindonesiaan. Bacaan penting untuk kita tetap percaya dan cinta Indonesia dan nilai-nilai kemanusiaan.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Kenangan di Prambanan Jazz