Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, karya Pramoedya Ananta Toer, menghidupkan kembali peristiwa kolonialisasi di Indonesia.

Mengisahkan pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang membentang sejauh 1.000 kilo meter dari Anyer, Banten, sampai Panarukan, Jawa Timur. Jalan raya ini dibangun hanya dalam waktu setahun pada 1808-1809, di bawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Williams Daendels, yang sangat berambisi menguasai Jawa.

Pramoedya merekonstruksi sejarah penindasan Daendels dengan menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan. Ia mengistilahkan ruas-ruas jalan raya ini beraspalkan darah dan air mata. Pekerja dipaksa rodi, banyak mati karena keletihan, kelaparan, atau terserang penyakit malaria dan yang lain. Ratusan mayat berceceran tak diurus selama masa pembangunan.

Jalan Raya Pos telah menjadi infrastruktur penting sejak digunakan pada 1809. Tak salah jika disebut jalan yang menjadi penentu kehidupan pulau Jawa. Jalanan ini berukuran lebar, bersih, ditumbuhi pepohonan asam. Termasuk terbaik dan terpanjang di dunia. Pram menyandingkan dengan jalan raya Amsterdam ke Paris.

Pram menyusuri ruas-ruas jalan dengan bercerita nostalgia. Ia pernah dipenjara di Bukitduri, tempat ia pertama menghasilkan karya-karya awalnya (hlm 54), minum teh di kebun Cisarua Pesisir Losari Cirebon, melihat panen beras di Tegal, perkebunan kapas di Tuban, kretek di Kudus, tembakau di Besuki, dan gula di Pekalongan yang banyak hutan belantara dibabat demi proyek ambisius.

Terlepas dari kekejaman kolonial Daendels, Jalan Raya Pos sudah menjadi infrastruktur yang membangun peradaban warga Jawa. Berhasil mempersatukan wilayah dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Banyak yang meyakini adanya jalan ini berhasil menggusur mentalitas feodal warga menuju modern.

Dampak pembangunan juga mengubah pertumbuhan ekonomi. Hasil panen komoditas pertanian dan perkebunan dapat diangkut dan distribusikan dengan cepat. Warga yang awalnya mengandalkan jalur transportasi sungai berpindah ke transportasi darat. Banyak pasar, toko, dan pemukiman bermunculan sepanjang jalan.

Karya Pram ini menjadi buku pelajaran yang penting mengenai sejarah negaa, sebagai salah satu referensi supaya masyarakat bisa berkaca dengan berbagai cara. Arsip selalu penuh dengan kejutan, dan sejarah masih harus terus ditulis.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Kenangan di Prambanan Jazz