Namanya Hidup Ada Tawa dan Ada Duka

Suka Duka Tawa adalah film oke untuk memulai tahun 2026.

Film bergenre drama komedi yang mengisahkan perjuangan seorang komika perempuan bernama Tawa, yang menjadikan aib keluarganya sebagai materi komedi di atas panggung, ia menertawakan masa silam yang kelam.

Tawa adalah anak tunggal pasangan Keset dengan Cantik. Pada saat Tawa umur 6 tahun, Keset kabur meninggalkan Tawa dan Cantik, untuk mengejar karier sebagai pelawak grup klasik yang bermain sketsa komedi. Sulit untuk tidak mengingat gaya lawakan grup legendaris, Srimulat.

Kepergian Keset tentu menciptakan luka dan trauma bagi Tawa dan ibunya yang harus berjuang mencari nafkah, berpindah-pindah kos kamar sempit. Tawa juga harus bekerja apa saja demi bertahan hidup di belantara ibu kota yang kejam, dari pegawai toko furniture yang dipecat sampai ia mencoba sebagai komika. Tawa bersama gengnya, memang sering mengunjungi suatu komunitas open mic.

Pada suatu momen, Tawa naik ke panggung, ia membawakan materi berdasarkan kemarahan dan dendam yang sudah di ubun-ubun kepada bapaknya yang menelantarkan ia dan ibunya. Konten yang justru disukai penonton Gen Z, "pecah", singkatnya Tawa dan lawakannya viral, ia menjadi komika terkenal. Pada saat yang bersamaan karier Keset justru meredup.

Keset yang menyesal, sama sekali tidak marah dengan cara Tawa melawak mengolok-olok dirinya, ia justru ingin lebih banyak membantu Tawa memberikan banyak materi yang akan membuka sosoknya sebagai bapak yang tidak bertanggung jawab. Pendekatan sekaligus perjuangan Keset menebus dosa besarnya.

Inilah premis utama film, perjuangan seorang ayah untuk merajut kembali hubungan dengan anak dan istrinya. Film ini disutradarai Aco Tenriyagalie, debut film panjang Aco, yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara film pendek dan video klip. Adapun skenario ditulis Indriana Agustina. Dengan naskah yang kuat, Aco mengeksekusi sangat intens dan detail.

Selain Aco, pujian juga layak diberikan untuk Teuku Rifnu Winaka yang memainkan luar biasa peran Keset. Rifnu menjiwai begitu dalam karakter Keset sebagai pelawak jenaka sekaligus Keset sebagai bapak yang sangat rapuh. Begitu juga akting Rachel Amanda yang berperan sebagai Tawa, komika perempuan yang melebihi ekspektasi kita. Walaupun genre komedi, Aco memang sengaja memilih aktor watak, yang membawa penonton menyelami seluruh emosi Tawa, Keset, dan Cantik. Pilihan musik soundtrack semakin membuat kita hanyut dalam cerita.

Film ini turut dibintangi komika papan atas, sebut saja Bintang Emon, Arif Brata, Enzy Storia, Abdel, Pandji Pragiwaksono, dan yang lain. Sehingga Aco juga berhasil mengemas unsur komedi yang benar-benar segar. Tak ada lawakan dan candaan yang klise, pastilah karena Aco turut melibatkan konsultan komedi untuk mematangkan kelucuan naskah.

Ini selera humor yang saya senangi. Pada beberapa adegan saya tidak bisa menahan tertawa terbahak di bioskop. Misalnya, scene ibu kos menagih uang sewa; lalu adegan Keset mengikat tali sepatu Tawa; juga adegan open mic di akhir film saat Tawa dan Keset memparodikan gaya lawakan slapstick, mencolok mata dan menghilangkan tangan di dalam baju, membuat kita teringat pelawak Asmuni dan Timbul, menurut saya sangat lucu. Sett busett!!

Drama yang mengangkat tentang hubungan kompleks orang tua dengan anak sangat relevan dengan kehidupan banyak keluarga di Indonesia, terutama fenomena fatherless. Sekali lagi, Aco memilih pendekatan dunia stand up comedy sebagai latar untuk kisah konflik keluarga dengan luka yang pedih, proses penyembuhan, penerimaan satu sama lain, dan berdamai dengan masa lalu.

Suatu konflik yang digarap dengan baik. Tipikal film drama produksi Vinisinema, yang saya gemari. Misalnya Nanti Kita Cerita Hari Ini, Filosofi Kopi, dan Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang.

Namanya saja hidup, ada tawa dan ada duka, ada senang dan ada sedih.


















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Kenangan di Prambanan Jazz