Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kuliner

Menyantap Bakmi Kadin yang Legendaris

Gambar
Selain gudeg, masakan Jogja yang tidak boleh dilewatkan adalah bakmi. Usai kunjungan singkat ke Vredeburg , waktunya kita makan. Kebetulan malam itu, Nisa dan Arman, suaminya, keluarga dari Makassar yang menetap di Jakarta, juga sedang berlibur ke Jogja. Nisa membuat janji bertemu dengan Vera untuk menitipkan barang ke Makassar. Nisa dan Arman sebenarnya sudah makan malam bakmi Pak Pele di pojok Alun-alun Utara, ketika kami masih di Vredeburg. Mereka memberitahu antrian sangat banyak untuk mendapatkan kursi kosong di Pele, maklum musim puncak liburan. Kami memutuskan memilih bakmi di tempat lain yang lebih luas dan juga legendaris, yakni Bakmi Kadin. Selama di Jogja, Arman menyewa mobil, kami akan dijemput dan bersiap menunggu di Jalan Panembahan Senopati, tepat di seberang kantor Bank Indonesia, untuk selanjutnya bergerak ke arah timur ke Jalan Bintaran Kidul, lokasi Bakmi Kadin, tepat di belakang kantor Kadin DIY, yang bisa jadi akhirnya dipakai sebagai merk dagang. Ada juga menyebut...

Legenda Angkringan Jogja

Gambar
Budaya kuliner Jogja bukan sekadar nasi gudeg dan bakpia pathok yang sudah lama kondang. Bukan juga sekadar warung lesehan yang terhampar di sepanjang jalan legendaris, Malioboro. Nyaris di setiap sudut kota Jogja, apalagi di sekitaran kampus-kampus, Anda dapat dengan mudah menemukan warung remang-remang yang penerangannya memang hanya disinari lampu templok minyak. Orang-orang Jogja menamainya dengan  Angkringan. Ada pula, termasuk saya, menyebutnya  warung koboi,  biar terkesan lebih keren dan klasik.  Asal mula angkringan, konon berasal dari daerah Ceper, Klaten. Ratusan orang dan keluarga menggantungkan hidupnya dengan usaha kecil ini. Saking penuhnya pemain angkringan di Klaten, mereka kemudian meluaskan daerah jualannya ke luar kota untuk merebut pasar baru. Daerah tujuan terdekat adalah Jogja di sebelah barat, dan Solo di sebelah timur. Di Solo, warung ini dinamakan  Hik.   Sebenarnya kurang tepat dikatakan dengan warung, karena konsep angkringa...

Menyantap Kapurung dan Parede Aroma Luwu

Gambar
Terlebih dulu saya mohon dimaafkan, sekiranya artikel yang saya posting kali ini, sekaligus menjadi media promosi atas usaha keluarga kami di bidang kuliner, Rumah Makan (RM) Aroma Luwu. RM Aroma Luwu adalah restoran lokal pelopor di kota Makassar yang menyajikan ragam masakan tradisional dari Tanah Luwu. Sejak tahun 2000. Nama berbagai makanan di sini pun tak familiar. Sebut saja  Kapurung, Ikan Parede, Barobbo, Lawa, dan Dange. Untuk penyantap konvensional ditawarkan Ikan Bandeng Goreng, dan Ayam Goreng, khas Aroma Luwu. Nyaris semua sajian di Aroma Luwu konsepnya lambat saji  (slow food) . Sekitar 15 menit, karena menu yang dipesan harus terlebih dulu diproses secara manual, yang kemudian disajikan dalam kondisi panas, dan tentu saja nikmat. Menu andalan dan paling populer adalah  Kapurung.  Makanan ini bisa dikatakan unik, bahkan  ‘ekstrim’,  karena lidah orang Sulsel pun banyak yang tak cocok. Berkuah panas, berasa asam, pedas. Namun jika telah menyici...