Bumi Manusia dengan Segala Persoalannya
Saya menonton Bumi Manusia nyaris setahun silam, dan baru kali ini berkesempatan membuat reviewnya. Bagi pembaca tetralogi Pulau Buru, terutama Bumi Manusia , karya Pramoedya Ananta Toer, tentunya merasa gembira novel yang diterbitkan pada 1980--kemudian dilarang diedar dan dibaca pada rezim Orde Baru karena dianggap mengajarkan paham komunis--diangkat dalam layar lebar. Tapi sekaligus kita tak berharap banyak akan bisa menyamai klimaks seperti pada naskah novelnya setebal 535 halaman. Kunci penting, datanglah ke bioskop dengan ekspektasi sedang-sedang saja. Sesungguhnya saya bukan fans Hanung Bramantyo. Batin saya lebih menginginkan film Bumi Manusia digarap Garin Nugroho, yang sukses menghidupkan sosok Hadji Omar Said Tjokroaminoto, Guru Bangsa yang juga pemimpin Sarekat Islam (2015). Bisa pula Riri Riza yang pada 2005 berhasil membesut Gie , film sejarah kolosal tentang mahasiswa aktivis. Biar begitu Bumi Manusia tetaplah Bumi Manusia , novel ...