Hidup di Kota Makassar
Menetap di kota ini memberikan saya banyak pelajaran hidup yang bermakna, bahwa rasa mencintai dan membencinya adalah suatu keniscayaan. Semakin kabur. Semakin tipis. Itu hukum jamak rasa dan logika terhadap sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita. Semakin modern peradaban kota ini, ternyata semakin tidak manusiawi kehidupannya. Setiap komponen di dalamnya berlaku layaknya serigala yang memangsa serigala lainnya. Hampir tak ada lagi ruang untuk menerima dan memaafkan kesalahan. Kemanusiaan semakin nihil kita jumpai di kota yang katanya menganut prinsip “Sipakatau, Sipakainga, dan Sipakalebbi”. Semoga saya salah berasumsi, kota ini hanya nyaman terasa ketika kita sudah berada di rumah, bersama dengan orang-orang tercinta. Begitu kita beranjak keluar dari kawasan nyaman tersebut, bersiaplah menghadapi tekanan-tekanan yang mungkin lebih banyak diperoleh dari eksternal diri. Kita akan menjumpai dan beriteraksi dengan banyak orang yang tentunya relatif merespon. Hubungan terseb...