Postingan

Menampilkan postingan dengan label Traveling

Tenang dan Damai di Desa Nyuh Kuning Ubud

Gambar
Ketika menghadiri  Ubud Writers and Readers  (UWRF) 2019 akhir Oktober tahun lalu, tanpa sengaja (reservasi acak via  online ) saya menginap di Desa Nyuh Kuning, yang berjarak 5 kilometer dari  venue-venue  UWRF.  Desa wisata ini berada di Ubud, Gianyar, kawasan yang terkenal memiliki alam dan nuansa pedesaan, juga seni dan budayanya yang sudah kondang. Paling mudah mengingat lokasi Nyuh Kuning tepat berada di sebelah selatan hutan lindung wisata Monkey Forest. Berlabel desa adat, juga desa wisata, alam yang asri lengkap dengan hamparan sawah, hutan, membuat Nyuh Kuning Ubud menjadi tujuan primadona bagi wisatawan mancanegara. Suasananya yang tenteram merupakan lokasi yang tepat untuk menenangkan diri dan mencari inspirasi. Kegiatan menyenangkan di Desa Nyuh Kuning mulai pagi hari, dengan berjalan kaki ataupun berkendara mengelilingi desa. Jalanan desa sangat bersih, tertata rapih menyatu dengan cara hidup penduduknya. Di kanan dan kiri tumbuh pe...

Masamba Menatap Masa Depan

Gambar
Setelah menyusuri sekitar 450 kilo meter dari kota Makassar, selama 11 jam, kami tiba di jantung kota Masamba, Luwu Utara. Perjalanan malam panjang yang melelahkan, tapi juga menyenangkan, karena bersama keluarga dengan banyak cerita dan peristiwa dijumpai sepanjang jalan, yang melintasi sembilan kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan.  Hari masih gelap, matahari belum terbit di Masamba, tapi saya tak ingin melewatkan pagi yang sejuk di tanah Luwu. Bagi saya, hal pertama untuk melihat dinamika kota adalah sembahyang subuh berjamaah di Masjid Agung Syuhada, Masamba. Kebetulan sekali Masjid tersebut hanya berjarak 200 meter dari hotel kami menginap. Masjid ini memiliki arsitek yang bagus dengan ornamen kayu yang cukup dominan. Masjid terbesar di Masamba ini sebenarnya tidak terlampau luas untuk ukuran Masjid Raya sebuah Kabupaten/Kota. Saya kemudian membandingkan dengan rumah jabatan Bupati Luwu Utara yang jauh lebih luas daripada Masjid, tepat berada di sebelah barat. Setelah sub...

Jangan Mati Sebelum Ke Toraja

Gambar
(Situs Kete'Kesu, dok. pri) Sudah sejak lama saya mendengar banyak kisah tentang Tana Toraja. Tentang tipikal orang-orangnya yang unik, yang selalu mengawali lafalan “eh” untuk merangkai kalimat; tentang orang Toraja yang katanya mudah dikenali dari bentuk wajah persegi dan garis muka yang keras; tentang panorama alam bukit dataran tinggi yang berundak-undak berwarna hijau segar; membuatku makin yakin bagaimana pun usaha umat manusia menciptakan desain-desain keindahan dengan segala media visual, menjadi tak berarti apa-apa ketika Tuhan menciptakan dengan sempurna alam semesta. Konon katanya sewaktu menciptakan Tana Toraja, Tuhan sedang tersenyum. Juga tentang ragam budaya Tana Toraja yang sangat tua, lebih tua dari yang diperkirakan dan terus saja dilestarikan sebagai warisan peradaban. Tentang upacara adat kematian atau “ Rambu Solo” yang sudah kesohor hingga ke luar negeri dan konon membuat Tana Toraja kondang melebihi nama Mak...