Jalan-jalan Malam di Manahan (24)

Saya tiba di Stasiun Balapan Solo menjelang azan Magrib pada Kamis 23 Juli 2026. Jika berjalan keluar stasiun, kita akan melewati koridor jendela kaca dan dapat melihat keindahan suasana kota dan kemegahan Masjid Sheihk Zayed, ikon baru Solo. Kesan pertama yang membuat kita akan menyukai kota ini.

Jarak Stasiun Balapan ke hotel tempat saya menginap Sans Hotel Fourth Loft, di Jalan M.H Thamrin, Laweyan, sekitar 3,5 kilometer. Mengorder Grab cukup murah (Rp. 21.500), tapi jauh lebih murah tarif KRL yang mengantar saya dari Stasiun Lempuyangan Jogja ke Solo, hanya 8.000 rupiah saja pembayaran e-money.

Saya sengaja memilih hotel area Manahan, karena ingin menyambangi Stadion Manahan yang terletak di Jalan Adi Sucipto, Banjarsari, Surakarta. Sebagai penggemar sepak bola dan penikmat ruang publik seperti stadion, saya sudah me-list Manahan sebagai destinasi wajib jika berkunjung ke Solo.

Usai mandi dan salat Magrib, saya bergegas pergi ke kompleks Manahan, yang jaraknya hanya 750 meter. Ini pengalaman pertama saya memilih jogging waktu malam.

****

Stadion Manahan mulai dibangun pada 1989 setelah pelepasan tanah wakaf dari Yayasan Ibu Tien Soeharto, butuh sembilan tahun proses pembangunan dan baru diresmikan Presiden Seoharto pada 21 Februari 1998. Nama Manahan kabarnya diambil dari nama Ki Ageng Pemanahan, tokoh Kerajaan Mataram.  

Kawasan Manahan dulunya merupakan lahan rindang pohon dan digunakan sebagai lapangan tempat prajurit Mangkunegaran berlatih memanah dan lahan untuk olahraga pacuan kuda, seperti sejarah Stasiun Balapan. Stadion Manahan menggantikan fungsi Stadion Sriwedari, venue PON I pada 1948, sebagai home base dari klub Persis Solo dan fans fanatik Paosepati.

Saya masih ingat pada Liga Indonesia 2004, saya berangkat mengendarai motor dari Jogja  untuk menonton laga PSM Makassar melawan Persijatim, yang memakai Manahan sebaga kandang mereka. Waktu itu kondisi Manahan biasa-biasa saja. Hanya laga ini kenangan saya tentang Stadion Manahan.

Stadion Manahan dirombak besar-besaran pada 2018. Dari rumput lapangan, resapan air, ruang media, penggantian papan skor LED, lampu berstandar FIFA, dan penyesuaian kapasitas kursi single-seat. Berbagai fasilitas olahraga di kompleks Manahan juga dipercantik, seperti lapangan basket, velodrom, panjat tebing, dan lapangan volly. Yang paling dirombak adalah pemasangan atap "temu gelang". Hasilnya Manahan kerap disebut sebagai "GBK mini" dengan fasilitas modern berstandar internasional.

Sejak rampung direnovasi, Manahan dipercaya menggelar banyak event penting, dari skala lokal sampai tingkat internasional. Pernah menggelar Piala Dunia U-17, ajang Para Asean 2022, konser grup musik Dream Theataer, kegiatan partai politik dan organisasi kemasyarakatan NU dan Muhammadiyah.

Manahan menjelma menjadi ikon dan simbol kebanggaan warga Solo. Sebagai ruang publik modern megah yang nyaman dan aman sebagai tempat olahraga dan rekreasi keluarga.

Ketika saya datang pada pukul 19.00 WIB, kompleks Manahan masih ramai dikunjungi warga untuk berolahraga setelah pulang kantor. Cukup terang untuk beraktivitas. Selain berolahraga, banyak hal menarik bisa dilakukan.

Saya juga melihat beberapa komunitas berkegiatan, anak-anak sedang bermain, meluncur dengan sepatu roda, atau bersepeda. Pengunjung yang lain dapat menikmati malam sekadar ngobrol dan berfoto sambil menikmati jajanan di puluhan foodtruck yang mangkal di area gerbang manahan.

Usai mengeliliigi tiga kali stadion dan menyusuri kompleks Manahan, saya dijemput Hasbullah, teman SMP yang kini bermukim di Solo sebagai pengacara. Kami pergi makan malam di penyetan Mak Del, kemudian ngopi di Slari II.

Suatu malam di Solo yang hangat.
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Merayakan Kenangan di Konser Dewa 19