Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jakarta

Menyusuri Rute Favorit Jakarta ke Bandung (11)

Gambar
Saya selalu senang pengalaman perjalanan darat lintas kota dan provinsi. Mengendarai mobil Innova Zenix - Q hitam, pinjaman dari kakak yang tinggal di Jalan Pagelarang, Jakarta Timur, Vera dan saya berangkat ke Bandung pada Sabtu 18 Juli 2026 pukul 09.10 WIB. Telat dari jadwal setelah salat subuh, atau selambatnya pukul 07.00 WIB. Perjalanan ini yang kedua kalinya saya menyetir dari Jakarta ke Bandung, setelah yang pertama mengendarai Honda Jazz pada tahun 2016 ketika akan menghadiri pernikahan keluarga di Gedung Biofarma, Pasteur, Bandung. Ketika itu belum ada Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ) yang melintasi Jakarta Timur, Bekasi kota, Kabupaten Bekasi, sampai Kabupaten Karawang dari ketinggian. MBZ flyover terpanjang di Indonesia (36 kilometer), dan mempersingkat waktu satu jam karena terhindar lalu lintas krodit di jalur Tol Jakarta-Cikampek. Melintasi MBZ yang lancar jaya ini gratis. Turun dari jalan layang MBZ di KM-47 Cikarang Barat, kita masuk ke Tol Jakarta-Cikam...

Halo GBK People, Salam Olahraga (10)

Gambar
Siapa tidak kenal Gelora Bung Karno (GBK). Kompleks olahraga kelas dunia yang menjadi kebanggaan Indonesia. Pada Jumat 17 Juli 2026 pagi, dari hotel Kartika Candra di Gatot Subroto, saya pergi ke kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan dengan menumpang Grab motor, sejauh 7,1 kilometer dan ditempuh 15 menit. Saya tiba pada pukul 7. 45 WIB, agak telat tapi masih lebih oke daripada tidak datang. Saya masuk lewat Pintu 4 dekat Masjid Al Bina, segera berada di area Stadion Utama untuk memulai olahraga dengan mengenakan jersei Basket Celebrities Makassar (BCM). Jogging di GBK membuat saya teringat kenangan pelaksanaan  Asian Games 2018 . Waktu itu setiap hari selama dua pekan, saya menyambangi kompleks GBK untuk menonton games beberapa cabang dan menikmati atmosfer di area  Festival GBK. Jadi sambil mengitari Stadion Utama, saya juga ingin menjelajahi kembali  venue-venue Asian Games  di GBK, terutama yang saya kunjungi delapan tahun silam. Pertama, Hall Basket...

Masjid Istiqlal (9)

Gambar
Dari Lapangan Banteng ke Masjid Istiqlal hanya berjarak 200 meter dan lebih cepat ditempuh dengan berjalan kaki, tiga menit saja. Masuk melalui gerbang Plaza Al-Fattah, salah satu dari tujuh pintu Istoqlal. Plaza ini akses untuk masyarakat umum yang selalu terbuka,  t erletak di sisi Timur yang berhadapan dengan Gereja Katedral.  Setelah melewati gerbang pengunjung menitipkan sepatu di loker di selasar, dan naik satu lantai untuk membasuh wudu. Area wudu sangat luas, bersih, dan nyaman. Setelah itu jamaah berjalan naik satu lantai ke ruang utama. Aura kemegahan Masjid Istiqlal sangat terasa di gedung induk yang sangat megah, luas, menjulang tinggi, dan sarat simbol keislaman dan kebangsaan. Mustahil untuk tidak terpukau dengan arsitektur bangunan mahakarya.  Jamaah melafalkan zikir, sholawat, dan doa sebagai bentuk syukur dan ketakjuban. Saat melaksanakan salat Magrib, saya bergabung di saf keempat dari tujuh saf yang terisi. Imam Besar Masjid Istiqlal dan Menteri A...

Kita Akan Bertemu di Lapangan Banteng (8)

Gambar
Sampai bertemu di Lapangan Banteng. Kalimat tersebut sering diucapkan oleh mereka yang akan membuat janji berjumpa di jantung ibukota. Metafora "Lapangan Banteng" juga terkenal di kalangan pejabat dan jurnalis.  "Jaga terus Lapangan Banteng", kata Sri Mulyani pada suatu waktu,  merujuk kantor Kementerian Keuangan dan Kemenko Ekonomi.  Lapangan Banteng berlokasi di Jalan Pasar Baru Sawah Besar, Jakarta Pusat.  Sudah ada sejak zaman Belanda. Namanya Waterlooplein atau Lapangan Singa. Pada tahun 1963 Presiden Soekarno membangun Monumen Pembebasan Irian Barat di tengah lapangan untuk mengenang para pejuang Trikora. Patung setinggi 35 meter bertubuh kekar yang dipahat Edhi Sunarso ini adalah ikon Lapangan Banteng. Awalnya  difungsikan sebagai terminal bus sampai pada tahun 1985, berubah fungsi menjadi taman kota. Pada tahun 2018 Lapangan Banteng direvitalisasi. Kawasan seluas 5,2 hektar ini  dibagi menjadi tiga zona. Pertama zona utama, kedua zona olahraga, dan...

Waktu Melambat di Taman Menteng (7)

Gambar
Di persimpangan Jalan HOS. Cokroaminoto dengan Jalan Muhammad Yamin, Jakarta Pusat, terhampar ruang terbuka hijau seluas 3,4 hektare yang asri dan rimbun. Ya, itu adalah Taman Menteng yang terkenal. Taman Menteng dibangun pada tahun 1921. Awalnya taman ini adalah Stadion Menteng atau warga menyebut Stadion Persija, merujuk klub bola Persija Jakarta. "Macan Kemayoran" berjaya dengan empat kali juara sepak bola Perserikatan ketika ber- homebase di Menteng. Pada tahun 2007, pada masa pemerintahan Gubernur Sutiyoso, Taman Menteng selesai direnovasi dan telah menjadi ruang publik yang bisa dinikmati masyarakat. Taman Menteng adalah tempat menepi yang asyik, di tengah kesibukan ibukota yang dicemari polusi. Tidak sedikit orang pulang kantor mampir di sini sekadar duduk di bangku-bangku taman yang cukup banyak disediakan. Ada yang datang sendiri, berdua, atau berkelompok melewatkan waktu sore di dekat kolam dengan air pancur. Mengisi energi yang tergerus setelah sepanjang hari bera...

Berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (6)

Gambar
Pada Kamis 16 Juli 2026 saya telat bangun karena menonton pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina yang mengalahkan Inggris hingga pukul 4.30 WIB.  Setelah check - out dan menitip koper di lobi pada pukul 12.00 WIB, saya memesan Grab dan pergi ke kawasan oldtown Cikini.  Entah kenapa setiap kali ke Jakarta, saya selalu ingin menyusuri area Cikini. Saya ingat pertama kali datang ke Jakarta pada Februari 1998, naik kereta api dari Jogja, turun di Stasiun Gambir pada subuh hari saat emas Monas masih berkilau, kemudian menumpang bajaj ke rumah keluarga di Jalan Gondangdia Dalam IV Cikini.  Menginap di sana, saya sering berjalan kaki melihat gedung-gedung warisan kolonial di kawasan Jakarta Pusat ini yang memiliki sejarah panjang, dan masih terawat dengan baik. Stasiun Cikini, Kantor Pos Cikini, kafe-kafe klasik seperti Bakoel Coffie, Kedai Tjikini, dan tentu saja Taman Ismail Marzuki (TIM). Usai makan siang menu orek tempe, sayur lodeh, dan babat gulai di W...

Gramedia Jalma Bukan Toko Buku Biasa (4)

Gambar
Kami masih di Blok M . Salah satu alasan saya tertarik datang di kawasan ini karena sekalian bisa berkunjung ke Toko Buku Gramedia Jalma. Terletak di Jalan Melawai I, tepat di sebelah timur Blok M Square. Dari beberapa sumber media saya mendapatkan informasi bahwa Gramedia Jalma itu toko buku bukan sembarang toko buku Gramedia.  Sebagai orang yang sering membeli buku, saya tentu penarasan semenarik apakah Gramedia Jalma? Nama Jalma sendiri diambil dari bahasa Sunda yang berarti manusia.  Rabu petang 15 Juli 2026 pada pukul 18.05 WIB saya tiba di Jalma yang merupakan gabungan dari tiga ruko ini. Begitu kita masuk, suasana dan vibes langsung terasa berbeda dari toko buku umumya. Hiruk pikuk kawasan Blok M seketika teredam saat kita berada di Jalma. Pencahayaan ruangan juga dibuat sangat baik. Toko buku ini benar-benar bertransformasi,  mengusung konsep baru sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman. D ari hanya toko yang hanya menjual buku menjadi ruang baru yang me...

Jalan-jalan Sore ke Blok M (3)

Gambar
Siapa tak kenal Blok M? K awasan ikonik ibukota di bagian selatan,  yang mengalami masa kejayaan di era 1980-an dan  1990-an.  Gedung Pasaraya, Blok M Plaza, Blok M Square, Jalan Melawai sudah menjadi salah satu kiblat gaya hidup anak muda di masa itu. Banyak istilah-istilah populer tercipta dari komunitas-komunitas yang beraktifitas di sini. Kalau belum ke Blok M, rasanya masih ada yang kurang. Saya mengenal kawasan Blok M setelah menonton film Catatan Si Boy  yang melejitkan nama Onky Alexander dan film  Lupus  karya Hilman Hariwijaya dan diperankan sangat keren oleh Ryan Hidayat.  Atau jika saya mendengar hit Dewa 19 berjudul Selatan Jakarta , maka yang pertama terpikir adalah Blok M.  Sempat mati suri beberapa tahun, terlebih selama pandemi, kawasan Blok M kini bangkit dengan wajah baru dan energi baru, sebagai pusat kuliner kekinian. Pamor Blok M kembali bersinar setelah mengalami sejumlah penataan dan revitalisasi...

Bandara Soekarno-Hatta, Stasiun Manggarai, dan Restoran Pagi Sore (2)

Gambar
Pertandingan semifinal-1 Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Perancis yang memenangkan Spanyol 2-0 berakhir sekitar pukul 4.25 WIB di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Langit Cengkareng masih gelap, azan Subuh belum berkumandang, pengunjung peserta nobar yang mayoritas penumpang dan pegawai bandara perlahan bubar teratur, bersiap memulai aktivitasnya masing-masing pada hari itu, Rabu 15 Juli 2026. Vera dan saya yang tiba dari Makassar sejak pukul 2.00 WIB, berencana ke kota kawasan Tebet dengan menggunakan SkyTrain Bandara menuju Stasiun Manggarai. Tapi kereta baru beroperasi mulai pukul 6.10 WIB. Jadi kami mengisi waktu menunggu di lobi lantai dasar, istirahat secukupnya, salat subuh di mushola, dan ngopi di gerai Indomaret . Untuk menumpang kalayang kami menuju ke halte Terminal 3 yang berada di lantai 2, kemudian melanjutkan ke Stasiun Bandara sekitar 8 menit. Dan setibanya di sana Vera membeli dua tiket di mesin vending seharga 85 ribu rupiah per tiket. Hanya menunggu saat...

Nobar Piala Dunia di Terminal 3 (1)

Gambar
Menjelang pergantian hari Selasa 14 Juli hingga Rabu 15 Juli 2026, sekitar pukul 22.15 Wita, Vera dan saya meluncur ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Kami akan berangkat ke Jakarta dengan menumpang pesawat Citilink  nomor QG217 pada pukul 00.30 Wita. Kami sengaja memilih jadwal dinihari daripada pagi atau siang, agar tidak lagi repot dan khawatir terlambat karena ketiduran di rumah. Perjalanan ke bandara  waktu subuh bagi saya sangat tergesa-gesa. Usai proses check - in , pemeriksaan mesin x - ray , dan menunggu di Gate-2, kami  boarding tepat pukul 24.00 Wita.  Selama dua jam perjalanan saya tertidur pulas, dan ketika tiba di Cengkareng Terminal 1C pada pukul 01.50 WIB, saya sudah siap menyaksikan pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Perancis versus Spanyol. Ini juga alasan kuat mengapa kami memilih jadwal penerbangan tersebut. Saat pertama kali membuka aplikasi streaming di ponsel, kedua tim memasuki lapangan, menyanyikan lagu kebangsaan di...

Pelayanan Prima di Ibukota

Gambar
Cerita ini tentang pengalaman kecil saya sebagai warga Makassar, menilai Jakarta ibukota negara tercinta.  Waktu itu sekitar tahun 2013 berada di Jakarta selama 10 hari, terpanjang. B iasanya paling tahan 3 hari di sana. Itu juga kali pertama  saya ke Jakarta berstatus sebagai suami sekaligus sebagai ayah. Jadi judulnya: perjalanan pertama kami  sebagai keluarga kecil. Singkat cerita, kami larut dalam hiruk pikuk kehidupan dinamis Jakarta. Setiap hari, karena banyaknya agenda yang sudah dibuat, kami tentu berangkat pagi-pagi dan akhirnya pulang ke rumah selalu di atas pukul 10 malam. Berulang terus hingga hari terakhir. Capek memang tapi juga senang. **** Bukan masalah kemacetan akut, bukan pula tentang melimpahnya jutaan manusia dan segala kesibukannya di Jakarta, yang ingin saya bahas di sini. Meski saya sempat berpikir bagaimana bisa Gubernur DKI (saat itu Joko Widodo) menata ibukota yang sudah sedemikian kompleks.  Bagaimana dan dari mana mereka memulainya saja, ...