Bandara Soekarno-Hatta, Stasiun Manggarai, dan Restoran Pagi Sore (2)
Pertandingan semifinal-1 Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Perancis yang dimenangkan Spanyol 2-0 berakhir sekitar pukul 04.25 WIB di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Langit Cengkareng masih gelap, azan subuh belum berkumandang, ratusan peserta nobar yang mayoritas penumpang dan pegawai bandara bubar teratur, bersiap memulai aktifitasnya masing-masing pada hari itu Rabu 15 Juli 2026.
Vera dan saya yang tiba dari Makassar sejak pukul 02.00 WIB, berencana ke kota kawasan Tebet dengan menggunakan SkyTrain Bandara menuju Stasiun Manggarai. Tapi kereta baru beroperasi mulai pukul 6. 10 WIb. Jadi kami mengisi waktu menunggu di lobi lantai dasar istirahat, salat subuh di mushola, dan ngopi di gerai Indomaret.
Halte Terminal 3 di lantai 2 kemudian melanjutkan ke Stasiun Bandara sekitar 8 menit. Dan setibanya di sana Vera membeli dua tiket di mesin vending seharga 85 ribu rupiah per tiket. Hanya menunggu sesaat kereta sudah tiba, terlebih dahulu menurunkan penumpang dari kota, dan kemudian menuju gerbong. Tak ada penentuan nomor kursi, penumpang pemegang tiket bebas duduk di mana saja.
Setelah 55 menit kereta tiba di pemberhentian akhir Stasiun Manggarai. Ketika berjalan menuju pintu keluar menunggu taksi grab, kami berkenalan dengan Dito, remaja dari Bekasi yang merupakan mahasiswa Al Azhar Kairo, Mesir. Dito mudik mengisi liburan sekitar dua bulan di Indonesia. Ia meminta tolong dipesankan Grab, karena nomor selulernya tidak dapat berfungsi. Dito yang membawa dua koper besar, membuka salah satu koper dan mengeluarkan sebungkus kotak coklat Dubai yang ia berikan kepada anak kami di Makassar. Kami pun berpisah di pintu stasiun dengan perasaan lapang karena sudah saling membantu.
Jarak dari stasiun ke tujuan Citylog di Jalan Dr Sahardjo hanya 2,3 kilometer dan ditemuh sekitar 20 menit. Citylog Tebet, tempat Vera dan rekan-rekanya di BRI menginap selama mengikuti training di Menara Brilian.
Karena kami tiba pagi pukul 09.00 WIB, belum bisa check in, Vera dan saya menyempatkan menyelesaikan sedikit tugas di lobi hotel. Dan tak lama kemudian menitip koper di resepsionis karena kami akan keluar pergi sarapan.
Sangat kebetulan Citylog sangat dekat dengan RM Pagi Sore. Ketika kami datang tepat pukul 10.00 WIB, restoran tersebut baru buka, puluhan karyawan berseragam masih belum selesai briefing, dan barangkali baru ada tiga meja yang sudah terisi, termasuk Vera dan saya. Kami menyantap nasi rames, ayam pop, dendeng lambok, ayam cabe hijau, jange siram, dan es jeruk dan es teh. Makk nyuss, dan selesai kami membayar 336 ribu rupiah untuk brunch kami.
Puas menyantap nasi padang terkenal itu, kami balik ke hotel dengan berjalan kaki. Karena saya tidak menginap di Citylog (bukan peserta training), saya mencari sendiri penginapan dan memilih Cove Alexa, di Menteng Atas Setiabudi. Dekat ke banyak tujuan, biasanya jika naik grab motor berbiaya 9.200 rupiah.
Di Cove kami bisa chek-in lebih awal pada pukul 12.00 WIB dan memanfaatkan beristirahat merebahkan badan dan meluruskan tulang belakang dan tulang ekor setelah menempuh perjalanan sejak malam hari dari Makassar.
Sore nanti setelah cukup istirahat, kami berencana berkunjung ke Blok M.



Komentar
Posting Komentar