Cerita dari Pasar Legi Kotagede (20)
Ketika kawasan-kawasan di Jogja semakin modern. Kotagede berusaha tetap otentik.
Saya pernah tinggal di Kotagede, ketika sekolah di SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta yang terletak di Jalan Mondorakan No. 51.
Hampir setiap hari Minggu saya mengisi liburan pergi ke kawasan Pasar Legi Kotagede yang hanya berjarak 500 meter dari tempat kos saya di Gang Prenggan Mondorakan, berjalan kaki 10 menit sudah sampai.
Hal pertama saya lakukan adalah menelpon ibu dan ayah di Makassar dari warung telepon (wartel) di Kantor Pos Kotagede, yang menurut perhitungan saya tarifnya lebih murah dibandingkan wartel di sekitarnya. Beberapa kali juga saya mengirim surat pakai perangko di Kantor Pos tersebut.
"Sekitar dua minggu kemungkinan suratnya tiba, mas", ujar petugas loket, menjawab pertanyaan klasik pengirim surat.
Urusan di kantor pos selesai, saya hanya menyeberang jalan menuju warung kecil yang menjual nasi rames. Saya lupa nama ibu penjual, tapi saya suka sekali makan di warung ini, paket nasi rames komplit dan es teh manis, saya membayar berkisar 1.250 sampai 1.500 rupiah.
Usai kenyang menyantap menu langganan, saya melanjutkan menyaksikan aktivitas jual beli dan menikmati keriuhan Pasar Legi. Hari Minggu tentu pasar selalu ramai, terlebih jika jatuh pada hari "Minggu Legi", keramaian dan jumlah orang yang datang ke Pasar dua atau tiga kali lebih banyak.
Pedagang datang dari segala penjuru menjual segala macam kebutuhan. Mulai pakaian, kain batik, hasil bumi, ayam, burung, hewan ternak, tanaman, perabotan rumah, alat-alat pertanian seperti cangkul pisau parang, dan yang lain dijual secara terbuka. Ruang pasar pasti tidak cukup menampung sehingga barang jualan meluber hinggga puluhan meter di jalan-jalan sekitar pasar.
Tapi waktu itu (1997-1998) saya tidak pernah masuk hingga ke dalam pasar. Jadi pada Selasa Wage, 21 Juli 2026, usai jogging di Mandala Krida dan sarapan soto Lamongan di Umbul Harjo, saya melanjutkan nostalgia ke Kotagede, terutama kawasan Pasar Legi.
Saya menyusuri setiap sudut pasar. Sebagai cagar budaya, bangunannya hampir tidak ada yang berubah, fasadnya kokoh, lapak-lapak kayu, dengan ubin hijau klasik. Di area belakang pasar saya sempat ngobrol dengan Anton, penjual arang dan kayu bakar. Ia sudah generasi ketiga meneruskan usaha ini.
Sebagai pasar tradisional tertua di DIY, Pasar Legi bukan hanya pusat ekonomi tapi tempat interaksi warga, pedagang dan pembeli saling mengenal akrab. Di pasar ini masih dijumpai pedagang yang menjual makanan dan kue tradisional yang mulai langka. Dari bubur gudeg, wingko, getuk, jadah, wajik, jenang, dan banyak lagi jajanan pasar khas Kotagede.
Sayang, satu ciri khas Pasar Legi yang tidak ada lagi adalah keberadaan Andong, sebagai moda tranportasi warga. Bahkan dulu saya sempat menumpang Andong rute jarak jauh, dari Pasar Beringharjo Malioboro sampai ke Pasar Legi Kotagede. Tarifnya lebih mahal daripada bus, tapi itu pengalaman menarik.
Sambil minum es dawet segar di depan pasar, ke arah timur, saya melihat Kantor Pos Kotagede yang menolak tutup, tidak ada lagi wartel di sudutnya. Sudah tidak ada pula warung nasi rames langganan. Tapi di bagian barat masih ada toserba Peni, tempat saya dulu belanja kebutuhan kos dan sekolah.
Rasanya Kotagede adalah bagian penting dari hidup saya, masih banyak cerita yang ingin saya kenang.
Salam hangat dari Pasar Legi.





Komentar
Posting Komentar