Kenangan di Prawirotaman (17)
Jika sudah di Jogja saya selalu ingat novel Yogya Yogya (2020) karya Herry Gendut Janarto tentang perjalanan sentimental. Seraya bercerita Herry mengingatkan kembali pada pembaca tempat-tempat klasik di Jogja (baik yang masih bertahan ataupun yang telah berganti fungsi)
Oleh karena itu pulang ke Jogja pada kesempatan ini, saya ingin kembali menengok sebanyak mungkin tempat-tempat yang pernah familiar ketika saya tinggal di sini selama 10 tahun (1997-2008).
Usai tiba dari Jakarta pada Minggu 19 Juli 2026 pada pukul 23.30 WIB, driver Grab menjemput saya di Jalan Pasar Kembang, sebelah selatan Stasiun Tugu, menuju penginapan di Jalan Parangtritis Prawirotaman.
Perjalanan sejauh empat kilometer itu lancar di jalan lengang. Saya ngobrol-ngobrol santai dengan mas Grab.
"Sejak tadi sepi, mas. Orang-orang pada bersiap nobar final", kata mas Grab menyampaikan info terkini.
“Waktu musim liburan sangat ramai dan macet di mana-mana, hotel-hotel pada ganti harga”, tambahnya lagi tentang melonjaknya harga hotel di Jogja saat peak season.
Hanya 15 menit saya sudah tiba di hotel tujuan, Winotosastro, kemudian melakukan late check-in pada pukul 24.00 WIB.
Ada alasan saya memilih kawasan "kampung" Prawirotaman, daripada area Malioboro, seperti yang sebelumnya. Pertama saya belum pernah menginap di Prawirotaman.
Alasan kedua, saya ingin memotret wajah Jogja yang berbeda. Kampung Prawirotaman merupakan salah satu kampung bersejarah yang ada di Jogja. Konon Kampung Prawirotaman awalnya merupakan kawasan pemukiman bagi Prajurit Keraton, kemudian dikenal sebagai industri batik pada awal kemerdekaan.
Sejak 1970-an Prawirotaman dikenal juga sebagai "Kampung Bule" karena banyak turis asing yang menginap di kawasan ini. Hotel dan restoran tersedia di mana-mana. Banyak kuliner barat tersedia di sini, dari masakan Italia, Korea, Jepang, bahkan Meksiko dijual di sini.
Jalan Prawirotaman ada dua yang bersebelahan. Nama resminya Jalan Gerilya, tapi orang mengenal sebagai Jalan Prawirotaman 2, yang berada persis di belakang pasar. Kedua ruas jalan sepanjang 600 meter tersebut berdiri cafe, bar, butik, galeri seni, laundry, biro travel, rental kendaraan, dan sebagainya. Kafe dan bar selalu mengadakan live music, jadi kalau malam sangat semarak. Mirip di Jalan Sosrowijayan dengan vibes yang berbeda.
Jalanan yang indah dan modern tidak meninggalkan suasana tradisional khas Jogja. Bangunan-bangunan tua masih tetap terawat dengan baik.
Hanya satu jam usai check-in, saya keluar mencari makan sebelum bergabung di Spark Resto and Sport Bar nobar final Piala Dunia 2026. Sekitar 100 orang yang ada di Spark mayoritas turing asing, dan memakai jersei Spanyol.
Mengingatkan saya kenangan menonton Piala Dunia 2002 dan Piala Dunia 2006 di jalan yang indah ini. Sudah 20 tahun berlalu. Mengutip Herry Gendut, " "Di Yogya, bolehlah aku numpang bahagia,"



Komentar
Posting Komentar