Masjid Salman ITB (12)

Masjid Salman ITB adalah masjid kampus pertama di Indonesia.

Sudah lama saya membaca di media-media tentang sejarah dan peran Masjid Salman ITB dalam membangkitkan nilai keislaman, pemikiran kritis, dan aktivitas dakwah di kalangan civitas kampus sejak era 1970-an.

Tidak sedikit pemikir dan intelektual muslim nasional aktif berkiprah di Masjid Salman. Imaduddin Abdulrahim, Dawam Raharjo, dan Haidar Bagir, sebagai contoh. Bulan Ramadhan yang lalu ceramah Anies Baswedan di Masjid Salman menjadi viral.

****

Usai menyantap siang menu ayam goreng lengkuas dan bakwan sayur di restoran Abah Harja, dan sebelum check-in di Fulmar Pasteur, pada Sabtu 18 Juli 2026, saya mengajak Vera berkeliling kota ke arah Kampus ITB di Jalan Ganesha. Saya ingin mengunjungi dan salat di Masjid Salman yang terkenal.

Begitu sampai di kawasan kampus ITB dan bertanya pada pihak keamanan lokasi masjid, kami sempat melewati dan bertanya ulang kepada mahasiswa, karena Masjid Salman dan menaranya sekalipun tidak kelihatan jelas dari poros Jalan Ganesha yang banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang. Bangunan Masjid Salman lebih seperti rumah dengan halaman luas dan asri.

Kami tiba pada pukul 15.05 WIB, dan betapa bahagia saya berjalan masuk di gerbang masjid, saya bergegas mengambil posisi terbaik yang berlatar menara dan meminta difoto oleh Vera. Tak lama adzan salat Ashar bergema dari menara pada pukul 15.18 WIB.

Tempat wudu terletak di sebelah selatan gedung masjid. Usai salat Ashar berjamaah, saya melanjutkan jamak takhir. Setelah itu menelusuri sudut-sudut masjid ini yang memancarkan aura yang sangat kuat.

Masjid Salman mulai dibangun pada tahun 1963 dan baru tahun 1972 digunakan salat Jumat untuk pertama kali. Nama Salman diberikan langsung oleh Presiden Soekarno, yang pernah kuliah di ITB. Ahmad Noe'man sang arsitek merancang masjid dengan bangunan modern, yang uniknya tanpa kubah. Atapnya terbuat dari beton dan berbentuk cekung di setiap ujungnya layaknya sebuah cawan.

Ruang utama tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan masjid kampus lain. Tapi menciptakan suasana yang tenang dan kusyuk beribadah. Ada 11 pintu masuk, dan yang unik hampir semua interior masjid sangat sederhana. Mimbarnya minimalis. Tidak ada tiang penyangga, dan lantainya menggunakan parket berbahan kayu jati yang jika sujud kita mengirup aroma yang khas dan tidak dilapisi karpet satu saf pun.

Dindingnya terdiri dari tembok, kayu, dan roster. Adapun langit-langitnya berbahan kayu yang dibuat datar, motif kotak-kotak dengan dua garis silang. Di plafon itu digantung 16 panel lampu kotak sederhana yang memberikan penerangan remang dan pencahayaan yang hangat. Menara juga dibangun tidak terlalu menjulang, dengan bentuk sederhana tanpa banyak ornamen tapi berdiri kokoh.

Sebelum meninggalkan masjid saya menyusuri area selatan melewati tempat wudu dan menemukan kantor pengelola Yayasan Pembina Masjid. Yayasan yang menaungi Rumah Amal, pembangunan Rumah Sakit Salman, LPES Istek, Salman Reading Corner, dan amal usaha lain.

Lebih setengah abad berdiri, Masjid Salman telah menjadi tempat ibadah, belajar sekaligus berdiskusi. Sore itu saya meninggalkan Masjid Salman dengan perasaan takjub dan lapang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Merayakan Kenangan di Konser Dewa 19