Lebaran Seni di ArtJog (18)
Artjog diselenggarakan sejak tahun 2008 ketika masih menjadi bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), diprakarsai seniman Heri Pamad. Pada tahun 2009 memisahkan dari FKY dan menjadi independen. Menyusul pada 2010 menetapkan nama baru ArtJog.
Baru pada Artjog 2026 untuk pertama kalinya saya datang menghadiri festival dan pameran seni rupa kontemporer bergengsi berskala internasional ini. Banyak yang bilang event Artjog adalah “Lebaran Seni”, semakin menegaskan identitas Yogyakarta sebagai kota dengan ekosistem seni yang kuat dan kreatif.
Artjog 2026 digelar pada 19 Juni sampai 30 Agustus di museum Jogja National Museum (JNM) Block di Pakuncen, Wirobrajan. Tepat di sebelah timur SMA 1 Teladan Yogyakarta.
Sore itu pada Senin 20 Juli 2026, saya sudah sampai di JNM Block pukul 15.00 WIB, usai makan siang menu soto dan minum teh panas di angkringan di Wirobrajan. Cuaca panas dari siang mendadak sirna ketika memasuki kawasan JNM yang memiliki halaman luas yang asri dan rindang pohon-pohon beringin.
Saya memilih bersantai dulu menikmati suasana tenang dan adem di ruang publik JNM yang menurut saya sangat keren. Banyak hal saya kerjakan, membaca buku, membuka laptop di amfiateater Gedung Paviliun, mendatangi stan-stan festival, membeli secangkir kopi di gedung sebelahnya Gd. Hamemayu dan naik ke lantai tiga menyaksikan aktifitas para pengunjung sore itu di berbagai area ruang terbuka hijau: Plaza Artjog, Plaza Situs Kriya, Raden Saleh Yard, Casa Wirabrajan, dan Ringin Gampingan.
Mayoritas pengunjung adalah siswa dan mahasiswa yang sedang nugas atau sekadar nongkrong menghabiskan waktu melepas lelah. Sore itu juga saya menunggu kedatangan Fiat, ponakan yang sedang kuliah, dan menunggu unit motor rental yang akan diantar.
Saya memulai mengeksplore Artjog di Gedung Utama JNM yang berlantai tiga pada pukul 17.25 WIB. Estimasi saya mungkin selesai dalam waktu satu jam saja.
Pengunjung membeli tiket seharga 80 ribu rupiah dan masuk galeri melalui gerbang yang sangat estetik, fasad gerbang itu dinamakan Vulnera, berbentuk pintu lebar yang melengkung berwarna merah marun menyerupai rahim perempuan. Ini spot ikonik yang wajib diabadikan pengunjung.
Begitu masuk galeri, kita akan menemukan lobi dan melalui lorong dengan beberapa ruang-ruang atau bilik berbagai ukuran. Di ruang yang sejuk dan beraroma wangi tersebut ratusan karya seni dipamerkan secara ekslusif.
Artjog 2026 memilih tema Ars Longa Generatio yang bermakna memfokuskan dialog dan praktik seni antargenerasi. Seniman muda Roby Dwi Antono sebagai Commissioned Artist tahun ini.
Roby memamerkan lima karyanya di area lobi, terutama patung berkepala tiga yang duduk di tengah genangan air, melambangkan fase kehidupan: masa kecil, kedewasaan, penuaan, kematian, hingga kelahiran kembali (Generatio Continua), membuat pengunjung terpukau dan menafsirkan secara bebas. Kesan pertama yang impresif.
Saya juga tertarik karya instalasi berjudul Sirkus Janji yang diciptakan Eko Nugroho, karya yang blak-blakan mengecam pejabat pemerintah yang selalu mengobral janji-janji dan menganggap kita yang mendengarnya semua orang bodoh.
Keseluran Artjog tahun ini berisi karya dari 96 seniman yang mengangat isu-isu penting dan urgen: HAM, kebebasan sipil, kerusakan lingkungan, bencana alam, jurang antargenerasi, kesehatan mental generasi, dan sebagainya. Selain pameran karya seni dilaksanakan juga program-program Exhibition Tour, Meet the Artist, Special Project, dan lokakarya.
Rupanya saya telah menghabiskan waktu lebih dua jam menjelajahi Artjog di tiga lantai gedung pameran. Di Lantai 2 saya memesan kaos Dagadu custom seharga 190 ribu rupiah sebagai memorabilia Artjog. Ada kepuasan dan perspektif luas usai mengunjungi Artjog. Suatu pengalaman berkesan penuh makna.
Dari JNM Pakuncen, sekitar pukul 20.20 WIB saya dan Fiat menuju Bakmi Kadin di Bintaran, menyantap malam spesial bakmi legendaris.
Salam hangat.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar