Berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (6)
Pada Kamis 16 Juli 2026 saya telat bangun karena menonton pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina yang mengalahkan Inggris hingga pukul 04.30 WIB. Setelah check-out dan menitip koper di lobi pada pukul 12.00 WIB, saya memesan Grab dan pergi ke kawasan oldtown Cikini.
Entah kenapa setiap kali ke Jakarta, saya selalu ingin menyusuri area Cikini. Saya ingat pertama kali datang ke Jakarta pada Februari 1998, naik kereta api dari Jogja turun di Stasiun Gambir pada subuh hari, kemudian menumpang bajaj ke rumah keluarga di Jalan Gondangdia Dalam IV Cikini.
Menginap di sana, saya sering berjalan kaki melihat gedung-gedung warisan kolonial di kawasan Jakarta Pusat ini yang memiliki sejarah panjang, dan masih terawat dengan baik. Stasiun Cikini, Kantor Pos Cikini, kafe-kafe klasik seperti Bakoel Coffie, Kedai Tjikini, dan tentu saja Taman Ismail Marzuki (TIM).
Usai makan siang menu orek tempe, sayur lodeh, babat gulai, dan bakwan sayur di Warteg Mba Wari di Jalan Cikini II, saya juga menyusuri Jalan Wahid Hasyim yang rindang, Jalan Sabang yang ramai dan padat, kemudian singgah ngopi sekalian mencarger handphone di Starbucks Sabang di persimpangan Agus Salim dan Kebon Sirih.
Kemudian kembali ke TIM pada pukul 14.20 WIB. Yang saya ingat, pernah satu kali datang ke TIM, pada tahun 2004, tapi sudah lupa mendeskripkan suasana TIM ketika itu. Barangkali karena saya datang untuk makan saja waktu itu.
***
Sementara jika di luar kita merasakan lalu lintas yang macet dan riuhnya kota Jakarta, maka masuk ke kawasan TIM rasanya mendapatkan ketenangan dan energi baru.
TIM diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada 10 November 1968, sebagai pusat kesenian, budaya, dan, edukasi. TIM berdiri di atas bekas lahan kebun binatang seluas 7,2 hektare. TIM memiliki 6 ruang teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, sert Planetarium. Kampus IKJ juga berada di komplek TIM.
TIM direvitalisasi pada 2019 untuk merespon dinamika zaman dan diresmikan ulang pada 2022 oleh Gubernur Anies Baswedan. Ya inilah wajah baru TIM yang menarik banyak orang lintas generasi.
Wajah baru TIM dapat dilihat dengan berdirinya patung komposer Ismail Marzuki memainkan biola di gerbang, perluasan taman ruang terbuka yang asri, lukisan mural di banyak dinding, dan yang paling mencolok adalah berdirnya Gedung Ali Sadikin yang megah.
Gedung Ali Sadikin juga sering disebut sebagai Gedung Panjang karena fasadnya yang memanjang 200 meter dan lebar 14 meter, dan setinggi 14 lantai. Arsiteknya Andra Martin mendesain bangunan tersebut dengan beragam fasiltas modern dan inklusif, ramah bagi lansia dan disabilitas.
Area ritel dan galeri seni di lantai 1 dan 2. Waktu saya datang sedang ada event dari komunitas Awan (Asuh Watak Asah Nalar) menggelar pameran fotografi karya anak-anak bertajuk "Awan Cerah" di Galeri S. Soedjojono.
Perpustakaan dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin berada di Lantai 3-7. Untuk bisa masuk, saya harus mendaftar sebagai anggota yang memiliki barcode. Di Lantai 3 dan 4, rak-rak buku yang memajang koleksi buku-buku sangat lengkap dari semua genre. Mulai dari fiksi, nonfiksi, buku referensi, majalah, hingga koleksi khusus untuk anak-anak, semua ada di perpustakaan ini.
Tersedia pula ruang diskusi, multimedia, coworking space yang sangat nyaman dan ruang-ruang baca yang tenang. Sore itu saya tidak mendapatkan kursi karena pengunjung sangat ramai memenuhi semua sudut-sudut baca. Setiap pengunjung punya cara masing-masing membaca buku, mengerjakan tugas kuliah, dan menyelesaikan pekerjaan.
Ada pengunjung membaca di bangku dan meja yang disediakan. Sementara yang lain menikmati kenyamanan suasana santai di area lesehan, sambil menikmati pemandangan melalui jendela besar yang menghadap ke luar. Mereka betah berlama-lama di perpustakaan sampai pelayanan tutup pada pukul 22.00 WIB.
Saya baru pertama kali melihat dan merasakan suasana perpustakaan seperti di TIM. Perpustakaan ini juga aktif menggelar kegiatan dan pertunjukan seni dan literasi kontemporer. Konsep ini mengubah pandangan bahwa perpustakaan hanya ruangan yang kaku menjadi ruang publik yang menyenangkan.
Ketika mengakhiri kunjungan saya di TIM menjelang pukul 17.00 WIB, di perjalanan menuju Taman Menteng saya bertanya pada diri sendiri, mengapa di kota saya (Makassar) tidak ada ruang publik sebagus TIM?
Salam dari Cikini.



Komentar
Posting Komentar