Suatu Pagi di Mandala Krida (19)

Pada hari Selasa 21 Juli 2026 pagi, untuk pertama kali saya bangun pagi setelah mendapat tidur ideal selama 8 jam, karena tidak lagi terputus untuk menonton Piala Dunia.

Tubuh jadi segar bugar, pikiran lebih jernih, dan suasana hati lebih rileks. Membuat saya makin bersemangat untuk berolahraga. Pagi itu mengendarai Honda Scoopy saya berangkat menuju Stadion Mandala Krida di kawasan Semaki.

Saya tiba di kompleks Mandala Krida pada pukul 7.45 WIB, pengunjung umum masuk lewat pintu timur di Jalan Gondosuli. Di area belakang tersebut juga digunakan sebagai lahan parkir dan tempat para pedagang berjualan.

Ramai sekali pagi itu, walaupun bukan weekend. Sambil jogging tiga putaran (2,4 kilometer), saya melihat ada yang senam, bersepeda, siswa sekolah pelajaran penjaskes, atau anak-anak bermain-main di area terbuka. 

Dalam kompleks terdapat, gym, Garuda Store yang menjual merchandise resmi PSIM dan timnas. Di bagian selatan ada lapangan basket, lapangan voli pantai, dan venue panjat tebing. Saya juga diizinkan masuk ke dalam stadion, dan menjajal satu putaran lintasan atletik berstandar internasional. 

Stadion Mandala Krida mulai dibangun pada tahun 1976 untuk menggantikan Stadion Kridosono sebagai markas tim PSIM dan suporter Brajamusti. Mandala Krida cukup familiar bagi saya karena ketika tinggal di Jogja, kos saya di Jalan Glagahsari Warungboto, hanya berjarak 1,5 kilometer ke Mandala Krida.

Saya sering menonton pertandingan home PSIM dan PSS Sleman di kompetisi Liga Indonesia. Terlebih lagi jika klub PSM Makassar bertandang. Di sebelah tenggara Mandala Krida, berdiri GOR Among Rogo yang juga sering saya datangi untuk menonton badminton kelas dunia, basket Kobatama, dan ajang Livoli.


Mandala Krida dan Among Rogo rusak parah diguncang gempa bumi pada 27 Mei 2006. Setelah dirombak, dua venue ini bersalin rupa dan menampilkan wajah baru yang segar dan lebih modern. Seluruh tribun dirombak, dan bagian paling mentereng adalah tribun Barat (VIP) yang bertingkat tiga dengan atap raksasa desain arsitektur modern yang melengkung berbentuk cawan. Sayang sekali tidak ada lampu penerangan, sehingga PSIM sementara bertanding di Stadion Sultan Agung Bantul.

Kompleks stadion telah bertransformasi menjadi ruang publik di tengah kota yang mudah diakses. Mandala Krida sebagai ruang publik inklusif yang juga sering digunakan event konser besar, salat Id, dan kampanye akbar politik.

Puas menjelajahi new Mandala Krida, waktunya mencari sarapan, dan pagi itu hanya ada satu yang ingin saya santap, Soto Lamongan Cak Ngun, di Jalan Veteran, di depan bekas terminal Umbul Harjo. Soto ini langganan saya ketika mahasiswa. 

Salam dari Umbul Harjo.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Merayakan Kenangan di Konser Dewa 19