Masjid Syuhada Kotabaru (21)


Pada Selasa malam 21 Juli 2026 menjelang adzan salat Isya berkumandang di Jogja, saya sampai di kawasan Kotabaru, Jogja. Saya sudah berniat salat berjamaah di Masjid Syuhada yang berlokasi di Jalan I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru. Di jalur pinggiran Kali Code.

Kotabaru tidak seramai kawasan lain di kota Jogja, memang seperti demkian sejak lama, karena kawasan ini bukan jalan-jalan yang padat kendaraan lalu lintas meski berjalan lebar. Suasananya selalu bersih, tenang, dan adem. Rumah-rumah asri dengan pekarangan luas dinaungi pohon-pohon rindang, berderetan di Kotabaru.

Aura hening jalan I Dewa Nyoman semakin terasa karena ada dua rumah ibadah berdiri megah saling berhadapan, yakni Gereja Katolik Santo Antonius dan Masjid Syuhada. Malam itu saya mencari spot yang paling pas untuk melihat seluruh bangunan Masjid Syuhada yang mencolok dengan kubah besar bergaya Persia.

Cukup lama saya memaknai dan meresapi momen sentimental ini. Saya terharu pada kenangan saat pertama kali salat di masjid ini. Ketika itu saya diantar ayah saya ke jogja untuk pindah sekolah, pertama kali datang ke kota ini. Pada Jumat 18 Juli 1997 (29 tahun silam), ayah mengajak saya salat Jumat di Masjid Syuhada, masjid paling sering ia datangi Jumatan atau tarawih ketika ayah kuliah di UGM pada 1983-1985. Ayah memberi tahu saya bahwa Presiden Soekarno dulu sering salat di sini.

****

Masjid Syuhada diresmikan pada tahun 1952 merupakan simbol kemerdekaan Republik Indonesia. Presiden Soekarno sangat berterima kasih kepada Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sempat menjadi ibukota negara pada masa awal kemerdekaan. Sebagai "hadiah" untuk warga Jogja, Presiden membangun Masjid Syuhada yang berdampingan dengan Gereja Santo Antonius.

Masjid Syuhada berdiri kokoh tiga lantai dengan tembok berwarna hijau. Lantai basement tempat kantor pengelola, dan perpustakaan. Lantai dua ruang salat perempuan dan aula, sedangkan lantai tiga berfungsi sebagai ruang salat utama bagi laki-laki dan selasar.

Atap Masjid Syuhada berbentuk kubah bawang, arsitektur bergaya kubah Taj Mahal India. Ada satu kubah utama berhias bintang dan bulan sabit yang dikelilingi empat kubah kecil di setiap sudut.

Ketika saya datang, sedang pengerjaan pemugaran di halaman masjid. Para pekerja lembur hingga malam. Jadi sementara, jamaah membasuh wudu di area luar. Akses ke ruang utama jamaah menaiki tangga dengan dua pilar simbolis. Tangga terdiri dari 17 anak tangga, sedangkan pilar bata hitam di samping tangga berbentuk segi delapan, melambangkan 17 Agustus.

Ciri khas lain masjid ini adalah pintu dan jendela, yang semuanya berbentuk melengkung patah di bagian atas. Di ruang utama salat sangat sederhana. Dinding hijau dengan lapisan batu alam di bagian bawah, tidak ada tiang penyangga, hanya satu lampu gantung. Pada bagian mihrab dan mimbar terbuat dari kayu tanpa atap, tanpa hiasan dan ukiran kaligrafi. Hanya tulisan "Bismillahirarahmanirrahim" di tengah papan mimbar, sangat fungsional untuk menyampaikan khotbah. Saya merasa sangat bersyukur dan haru usai menunaikan salat Isya berjamaah di masjid bersejarah ini. Lagi-lagi saya ingat ayah saya.

Dari tepi Kali Code saya meninggalkan Masjid Syuhada menuju Lapangan Karang Kotagede. Bersama Fiat siap menyantap Sate Sapi Karang Pak Prapto. Makk nyuss.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Merayakan Kenangan di Konser Dewa 19