Jalan-jalan Sore ke Blok M (3)

Siapa tak kenal Blok M? Kawasan ikonik ibukota di bagian selatan, yang mengalami masa kejayaan di era 1980-an dan  1990-an. 

Gedung Pasaraya, Blok M Plaza, Blok M Square, Jalan Melawai sudah menjadi salah satu kiblat gaya hidup anak muda di masa itu. Banyak istilah-istilah populer tercipta dari komunitas-komunitas yang beraktifitas di sini. Kalau belum ke Blok M, rasanya masih ada yang kurang.

Saya mengenal kawasan Blok M setelah menonton film Catatan Si Boy yang melejitkan nama Onky Alexander dan film Lupus karya Hilman Hariwijaya dan diperankan sangat keren oleh Ryan Hidayat. Atau jika saya mendengar hit Dewa 19 berjudul Selatan Jakarta, maka yang pertama terpikir adalah Blok M. 

Sempat mati suri beberapa tahun, terlebih selama pandemi, kawasan Blok M kini bangkit dengan wajah baru dan energi baru, sebagai pusat kuliner kekinian. Pamor Blok M kembali bersinar setelah mengalami sejumlah penataan dan revitalisasi di beberapa titik. Integrasi angkutan umum, yaitu keberadaan jalur MRT dan Terminal Transjakarta membuat akses yang mudah dan cepat menjadikan Blok M "naik daun" lagi.

Dari Menteng-Dalam pada Rabu 15 Juli 2026, menumpang taksi Grab, kami tiba di Blok M Square pada pukul 16.30 WIB saat waktu pulang kantor. Baru menginjakkan kami di gerbang langsung merasa hanyut dalam keramaian dan hiruk pikuk. Suasananya sangat sibuk, parkiran di bahu jalan sudah penuh motor. Ribuan orang yang dikuasai Gen-Z berlalu-lalang dengan santai mencari makanan atau kuliner yang diinginkan, atau mereka berkunjung sekadar mencuci mata. 

Blok M kini menjadi surga makanan dan minuman viral. Banyak orang tak mengeluh antre puluhan meter untuk mencicipi jajanan yang lagi viral di konten-konten media sosial. Seperti donat, roti, dimsum, matcha, atau yang lain. Seru juga menyaksikan antusiasme mereka.


Setelah menyusuri beberapa sudut-sudut kawasan, kami tiba di depan Blok M Hub, ruang koridor di bawah tanah. Dulunya merupakan Mall Blok M yang ramai pelanggan dan kemudian sepi selama bertahun-tahun. Kini lorong tersebut hidup kembali seiring kebangkitan kawasan Blok M. 

Ciri khas Blok M Hub adalah atapnya yang melengkung dan terdapat lampu hias bulat di kedua sisi dindingnya menjadi ikon. Lumayan sejuk dan lampu yang terang mengganti kesan panas dan remang kala itu. Lorong ini semacam simpul baru kehidupan. Ada sesuatu yang magis ketika masuk dan melintasi koridor ini, dapat merasakan lorong ini adalah tempat paling pas pertemuan masa lalu dan masa depan.  

Sepanjang sisi lorong Blok M Hub ratusan stan kuliner beragam masakan dijajakan. Setelah memerika hampir semua sudutnya, saya memutuskan menyantap nasi bistik ayam di Kios Simpang, sedangkan Vera mencicip Bakso Bakwan Malang Setujuh. Saya membayar 44 ribu rupiah sudah dengan air mineral. Usai menyantap di Blok M Hub, kami bergeser membeli es kopi di Tuku Kopi di M Blok Space sebelum melanjutkan jalan-jalan ke Gramedia Jalma di Melawai Raya.

Blok M sekarang ruang publik baru, menjadi tujuan, bukan lagi tempat transit.  Blok M menyatukan banyak kultur. Siapa pun bisa datang dan bersenang-senang di sini, di Negara Blok M.

Demikian kisah legenda Blok M. Ia lahir, bersinar, nyaris mati, dan hidup lagi seiring pasang surut dinamika ibu kota.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW (8)