Kereta Malam Jakarta ke Jogja (16)
"....Hampir malam di Jogja ketika keretaku tibaa..."
Perjalanan kami di Bandung harus selesai pada Minggu 19 Juli 2026 pukul 11.00 WIB. Setelah menikmati suasana Minggu pagi di Siliwangi, Gasibu, dan Bubur DPR, kami kembali ke hotel, dan berkemas secepat mungkin.
Vera dan saya harus segera balik ke Jakarta, karena sorenya Vera akan pulang ke Makassar dengan flight nomor GA-616 pada pukul 17.30 WIB. Sedangkan saya akan melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan menumpang KA Bima dari Stasiun Gambir pada pukul 17.00 WIB.
Saya hampir ketinggalan kereta. Usai mengantarkan Vera di Terminal 3 Cengkareng pukul 15.00 WIB, saya tegang dalam perjalanan ke Gambir, dengan berganti-ganti moda transportasi, pertama Skytrai n antarterminal, pindah kereta Bandara-Kota, dan lanjut Grab ke Stasiun. Baru tiba di Gambir pada pukul 16.45 WIB.
Saya buru-buru ke Lt. 2, mencari tahu di jalur berapa kereta melaju. "Keretanya sudah siap, 10 menit lagi berangkat", kata petugas di peron. Saya mempercepat langkah, dan baru bisa menarik napas lega ketika menemukan gerbong yang dituju. Barangkali saya penumpang terakhir yang masuk kereta sore itu.
Kursi saya nomor 10-C di Gerbong Eks-2. Sementara kursi 10-D kosong. Kereta sore itu memang tidak terisi penuh, setiap gerbong ada kursi kosong. Saya menduga karena musim liburan sekolah sudah selesai pekan lalu. Kemungkinan juga karena hari Minggu. Berbeda dengan rute sebaliknya (Jogja-Jakarta) tiket selalu terjual habis pada kereta keberangkatan Minggu malam, karena banyak orang Jogja dan Jawa Tengah harus kembali ke Jakarta untuk bekerja pada Senin pagi.
Rute kereta api Jakarta-Jogja adalah rute tersibuk, jadwalnya tersedia hampir selama 24 jam. Dari banyak pilihan itu saya memutuskan naik KA Bima pada pukul 17.00 WIB dan dijadwalkan tiba di Stasiun Tugu Jogja pada pukul 23.25 WIB. Jadwal tersebut paling pas untuk menantikan final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina pada pukul 02.00 WIB.
Saya berencana memanfaatkan waktu 6 jam 25 menit di kereta dengan istirahat dan cukup tidur selama perjalanan sehingga segar kembali saat datang dan semangat menonton bola.
Kereta Bima adalah kereta eksekutif dengan ragam fasilitas yang memanjakan penumpang. Kursinya modern dengan sandaran kaki yang enak. Gerbongnya bersih, sejuk, dan nyaman, meredam getaran yang membuat penumpang bisa tertidur pulas dan beraktivitas, saya sempat membuka laptop dengan nyaman selama perjalanan. Sebagai informasi tiket eksekutif seharga 645 ribu rupiah.
Kereta berangkat tepat waktu, dan akan singgah di enam stasiun sebelum tiba di Jogja. Pemberhentian pertama di Stasiun Bekasi pada waktu senja. Ketika memasuki Cirebon saya mulai lapar karena terakhir makan saat sarapan di Bandung. Untung kereta ini punya restorasi di gerbong tengah, saya memesan paket nasi goreng dan secangkir kopi seharga 70 ribu rupiah. Menunya mungkin sederhana namun menyantapnya dalam perjalanan kereta menjadikannya istimewa.
Kereta terus melaju melintasi keheningan malam di kawasan selatan Jawa. Ketika kereta singgah di Purwokerto pada pukul 21.18 WIB, saya melihat banyak penumpang sudah membungkus tubuhnya dengan selimut hangat karena cuaca dingin di bawah kaki Gunung Slamet Banyumas. Kemudian berhenti masing-masing dua menit di Kroya Cilacap, Kebumen, dan Kutoarjo.
Jalur Kutoarjo ke Jogja paling semangat karena hanya sekitar 40 menit lagi kita akan tiba. Pada pukul 23.20 WIB terdengar native speaker yang ikonik mengumumkan bahwa kereta akan segera tiba di Stasiun Yogyakarta.
Turun di Stasiun Tugu pada tengah malam kita merasakan suasana yang khas, ada sesuatu yang ajaib. Sambil berjalan ke pintu keluar, saya mendengarkan lagu "Sepasang Mata Bola" karya Ismail Marzuki.
"Hampir malam di Jogja/ Ketika keretaku tiba/ Remang-remang cuaca/ ...."
Jogja selalu istimewa.




Komentar
Posting Komentar