Malam Minggu di Braga (13)
Rasa-rasanya belum afdal ke Bandung sebelum jalan-jalan ke Braga yang legendaris.
Vera dan saya datang pada Sabtu 18 Juli pukul 22.00 WIB setelah menyantap Mie Kocok Mang Dedeng di Jalan Ahmad Dahlan.
Jalanan menuju Braga dipenuhi kendaraan yang berjalan merayap. Sulit memarkir mobil, sampai mendapatkan di bahu Jalan Banceuy, tidak jauh dari penjara Banceuy tempat Soekarno ditahan pada 1929.
Kami mengawali menyusuri Jalan Asia-Afrika dari Simpang Lima hingga ruas Jalan Otista. Banyak bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang masih dipertahankan dan ditetapkan sebagai cagar budaya. Yang bisa saya ingat Hotel Savoy Homan, kantor koran Pikiran Rakyat, Kantor Pos, Monumen Pers, Radio Dahlia FM, Gedung Merdeka, Jembatan KAA, Alun-Alun, Gedung BRI, dan Masjid Raya.
Jalan Braga berada di sisi timur Jalan Asia Afrika. Bioskop De Majestic, Sarinah Store, kantor Antara, De Braga Hotel, Gedung Denis Bank BJB, termasuk bangunan-bangunan klasik yang berdiri di gerbang Braga. Di segala sisi dan trotoar dijubeli pengunjung yang berbaur dengan pedagang, fotografer, "hantu" dan "superhero" untuk berfoto, jajan, ikut games, sulap, baca garis telapak tangan, dan menonton ragam perjunjukan.
Vera sempat beli kue ape bandros sebelum menjelajahi Braga Citywalk, pusat wisata modern namun tetap mempertahankan nuansa klasik Braga. Jalanan dari batu alam andesit sepanjang 700 meter ini sangat ikonik. Pusat wisata dan pusat bisnis. Disebut De meest Eropeesche winkelstraat van Indie, atau kompleks pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda. Tidak sembarang orang berbelanja di sini.
Ditumbuhi banyak pohon rindang seperti pohon tanjung, angsana, palem, dan lampu-lampu tiang klasik membuat suasana Jalan Braga selalu vintage dan menyenangkan.
Toko-toko, cafe, restoran, memiliki ciri khas, baik produk yang dijual maupun bentuk bangunannya yang bergaya artdeco. Setiap sudutnya spot berfoto yang menarik dengan latar lukisan, karya seni, rangkaian bunga, souvenir, photobox di sepanjang jalan yang penuh mural yang menghiasi pintu-pintu toko.
Sebagai kenang-kenangan Braga, Vera dan saya menjajal bergaya di photobox untuk pertama kalinya, membayar 45 ribu rupiah. Bandung layak mendapatkan predikat sebagai kota cinta.
Pengalaman menyenangkan mengisi malam Minggu di Braga. Kami mengakhiri kunjungan menjelang pukul 24.00 WIB, segera balik istirahat di Fullmar Pasteur.
Salam hangat dari Braga.





Komentar
Posting Komentar