Legenda Alkid dan Gudeg Mbok Lindu (22)
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat punya dua Alun-alun. Pertama Alun-alun Utara (Lor), dan yang kedua Alun-alun Selatan (Kidul). Kali ini kita bahas Alun-Alun Kidul yang orang sering sebut "Alkid".
Alkid merupakan salah satu ikon Jogja. Bagian dari kawasan "Sumbu Filosofis". Garis yang membentang lurus dari Tugu, Malioboro, dan Keraton, termasuk dua alun-alun. Telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan Warisan Dunia UNESCO.
Alkid berlokasi di Jalan Patehan, di dalam benteng Keraton. Lapangan dengan permukaan pasir dan rumput berukuran 150 x 150 meter. Di sisi lapangan terdapat lima akses, yakni Jalan Langenastran Kidul, Jalan Langenastran Lor, Jalan Ngadisuryan, Jalan Patehan Lor, dan Jalan Gading. Kelima jalan tersebut menghubungkan Alkid dengan tempat-tempat terkenal seperti Taman Sari, Pasar Ngasem, Wijilan, hingga Alun-alun Utara.
Saya ingat Alkid adalah kawasan yang saya akrabi sewaktu kuliah. Dari sekian rute alternatif perjalanan ke kampus dari kos di Jalan Glagah Sari, saya memilih jalur pergi-pulang (PP) yang selalu melewati Alkid. Suasananya unik dan lebih adem karena banyak pohon di sekitarnya. Ketika sudah tiba di Alkid rasanya sudah lebih dari setengah perjalanan. Kadang saya singgah jajan es dawet atau es campur sambil menikmati suasananya yang magis.
Fungsi utama Alkid dulunya adalah sebagai tempat berlatih para prajurit Keraton. Kini Alkid berfungsi sebagai ruang publik dan destinasi favorit wisatawan yang masih dimiliki Keraton. Beragam kegiatan seru dapat dilakukan di Alkid.
Pada pagi hari Alkid adalah tempat yang nyaman untuk berolahraga, sekadar jogging atau berlari mengelilingi lapangan di jalur trotoar yang yang lebar, sambil menikmati udara segar sekitar Keraton. Setelah itu kita bisa mencicipi kuliner-kuliner sarapan seperti lontong sayur, nasi rames, soto, pecel, es kelapa, es tape, wedang ronde, dan sebagainya.
Pada malam hari, Alkid lebih ramai lagi, seperti pasar malam tanpa komidi putar. Wisatawan bisa bersantai sambil menikmati wedang ronde hangat, bermain gelembung sabun, mengayuh kereta lampu hias, dan mencoba "challenge", yakni berjalan lurus sekitar 50 meter dengan menggunakan penutup mata di antara dua pohon beringin yang merupakan ikon Alkid. Jika dilihat mudah saja, tapi saya tidak pernah sukses melakukannya. Konon, jika berhasil harapan kita akan segera terwujud, hehehe.
Ketika saya datang pada Rabu pagi 22 Juli 2026, saya menyempatkan mengelilingi lima putaran lapangan yang dulunya banyak orang bilang angker. Setelah itu menyempatkan minum teh panas di satu kedai di sudut utara, di situ pula saya menemukan kenangan pada lemari kaca yang menempelkan koran legendaris Kedaulatan Rakyat (KR) untuk dibaca siapa pun.
Sebagai konteks, KR adalah koran paling banyak dibaca warga Jogja, dan sejak dulu selalu dipasang di banyak tempat umum, seperti di kelurahan, di tepi lapangan bulutangkis kampung, di masjid, di pasar, dan banyak tempat yang lain. Mungkin kini banyak yang telah menghentikan tradisi "koran kaca" ini. Tapi di Alkid menolak melupakan tradisi, dan KR menolak berhenti cetak. Luar biasa menurut saya.
Usai menapak tilas kenangan di Alkid, saya menuju Jalan Sosrowijayan untuk sarapan nasi gudeg Mbok Lindu, yang konon merupakan gudeg tertua di Jogja.
Suatu pagi di Alun-alun Kidul.




Komentar
Posting Komentar