Jerusalem: Kota Suci dan Kota Konflik

Buku yang ditulis dengan gaya jurnalistik selalu menarik untuk dibaca, kita seperti diajak melakukan perjalanan bersama sang penulis. Seperti buku berjudul Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir, karya Trias Kuncahyono, mantan wartawan surat kabar Kompas bidang hukum, politik, dan internasional. Saat ini Trias ditugaskan sebagai Duta Besar untuk Takhta Suci Vatikan.

****

Siapa tak kenal dengan kota Jerusalem? Telah tercatat sejak 5.000 tahun lalu bahwa kota ini  dinilai sebagai kota suci bagi tiga agama, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Sebagai umat muslim, khususnya, Jerusalem adalah kota suci ketiga, setelah Mekkah dan Madinah. Dulu Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malamnya dari Mekkah ke Jerusalem, yang kita kenal sebagai Isra Mi’raj ke Sidratul Al Muntaha.

Jerusalem menjadi tempat seluruh umat beriman, condominium besar bagi budaya dan moralitas. Selama ribuan tahun, Jerusalem merupakan kota ziarah tiga agama samawi. Mereka berziarah ke Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus, Masjid Al Aqsa, Doke of the Rock. Kaum Yahudi, Kristen, dan Muslim memandang Jerusalem sebagai “pintu ke surga”, tempat terjadinya pertemuan antara dunia dan akhirat; tempat pertemuan antara surga dan bumi. Telah menjadikan Jerusalem sebagai kota yang sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Tapi pada saat bersamaan, ada ironi memprihatinkan yang sudah mengakar. Kesucian kota Jerusalem dikotori berbagai konflik yang tak kunjung selesai antara Israel dan Palestina. Itulah ironisnya: kota yang dipandang suci, tapi juga sekaligus kota yang rentan sebagai sumber konflik. 

Trias menuturkan banyak cerita yang berhubungan dengan Jerusalem dengan bahasa yang cair dan enak dibaca. Pengalaman panjang sebagai jurnalis dan diperkaya dengan ulasan sejarah, politik, teologi, dan bidang lain, menjadikan buku ini menghadirkan perspektif luas mengenai konflik Timur Tengah dan upaya penyelesaiannya. 

Jerussalem adalah buku kelima Trias yang sudah terbit pada 2008, tapi membacanya sekarang masih relevan dengan situasi Jerussalem dan Timur Tengah yang terus bergejolak.

Demikianlah riwayat panjang Jerusalem sekaligus juga ironinya. Kota yang telah ditaklukkan, dihancurkan, dan dibangun kembali. Sebuah kota tentang kasih, kebencian, dan kegairahan.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Kenangan di Prambanan Jazz