Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Jogja

Hari ini 20 tahun lalu. Saya ingin menuliskan suatu pengalaman menyedihkan.

Pada 27 Mei 2006 gempa bumi 5,9 skala richter meluluhlantakkan Daerah Istimewa Yogayakarta dan sebagian Jawa Tengah dengan korban tewas lebih dari 5.000 orang.

Hari sabtu pagi itu, Yogyakarta terutama di kawasan selatan, Bantul, menjadi kota penuh duka. Pada saat masyarakat akan memulai aktifitas di akhir pekan, sekitar sepuluh menit menjelang pukul enam pagi, bencana alam gempa bumi dahsyat datang tanpa pernah diprediksi sebelumnya.

Pada masa-masa itu pemerintah dan masyarakat Jogja terfokus pada aktifnya Gunung Merapi yang statusnya telah ditetapkan "AWAS". Secara tanggap pemerintah Jawa Tengah dan DIY mempersiapkan upaya-upaya pengungsian terhadap warga yang tersebar di 15 Desa disekitar lokasi gunung yang membuat nama Mbah Maridjan dikenal banyak orang.

Di Bantul, kawasan yang paling parah dampaknya, hampir tidak ada yang luput dari hentakan gempa tersebut. Tak terhitung rumah yang rubuh, ratusan sekolah dan kampus, gedung-gedung perkantoran, bandara Adisutjipto, bahkan situs-situs peninggalan sejarah pun mengalami kerusakan seperti candi Prambanan, makam Imogiri dan sebagainya.

Banyak yang memperkirakan masyarakat Bantul harus hidup dari nol lagi. Dan butuh waktu sangat lama untuk bangkit dari keterpurukan ini. Begitu pula segala aspek kehidupan, butuh suatu perjuangan keras untuk bangkit kembali membangun peradaban kota yang berpenduduk sekitar 800.000 jiwa.

Secara perlahan, tanpa perlu berharap berlebih janji-janji pemerintah, masyarakat yang menjadi korban perlahan namun disertai dengan keyakinan mulai bangkit kembali menata kehidupan yang lebih baik. Mereka mulai berbenah, baik secara individu dan maupun gotong royong membersihkan reruntuhan dan membangun rumah mereka semampunya. Mereka tak ingin berlama-lama meratapi bencana yang merupakan cobaan dari Tuhan sang pemilik alam semesta.

Setiap musibah pasti ada hikmah dibaliknya. Musibah gempa bumi ternyata membuat masyarakatnya semakin bersatu dengan semangat gotong royong untuk kembali membangun kota tercinta lebih baik lagi.

Terbukti pemulihan pascagemba Jogja dinilai lebih cepat daripada yang diprediksi, mungkin hanya butuh 5 tahun pembangunan fisik dan aktifitas berbagai sektor sudah pulih bahkan lebih baik. Suatu pencapaian hebat bagi pemerintah dan masyarakatnya.

Jogja selalu di hati dan pikiran saya, seorang pernah menjadi warganya dari 1997 sampai 2008.





 



Komentar