Menyusuri Borneo Jalur Pontianak ke Kuching (2)
Kamis 23 April 2026 pukul 04.00 WIB, sebelum adzan subuh berkumandang, kami enam orang keluarga (ibu, ayah, saya, Uci, Adi, dan Humairah) berangkat dari rumah "Paris" Pontianak menuju Kuching, Malaysia.
Kalimantan Barat memang berbatasan langsung dengan Malaysia Sarawak di Pulau Borneo yang sangat luas. Rute Pontianak- Kuching via Entikong berjarak sekitar 330 km, dan membutuhkan waktu tempuh sekitar 7 hingga 9 jam.
Untuk perjalanan rute jauh ini kami merental mobil Toyota Innova Reborn berwarna abu-abu yang dikendarai driver Gita Wardana, pemuda asal Sambas. Walaupun masih mengantuk usai menonton bola Liga Inggris Manchester City menang atas Burnley 1-0, saya tetap antusias menikmati perjalanan yang bisa dibilang langka dan tentu akan merasakan pengalaman baru yang seru.
Saat keluar dari kota Pontianak dan memasuki Kabupaten Kubu Raya, matahari juga belum terbit, kami terus melaju untuk menemukan masjid yang bertepatan dengan waktu salat subuh, yang kami pilih di musolah SPBU Ambawang-Tayan menjelang pukul 5.20, agak telat. Sekitar 30 menit di sini sambil menikmati udara segar perbukitan yang berkabut menyambut pagi hari.
Melanjutkan sekitar satu jam menyusuri Kubu Raya di Jalan Trans Kalimantan dengan melintasi Sungai Ambawang, perkebunan sawit, dan hutan-hutan lebat, kita singgah lagi, kali ini di rest area tepatnya di Kedai Kopi Bintangor yang berada di Jalan Lintas Malindo, Desa Sosok Kabupaten Sanggau. Kedai Bintangor sangat terkenal dan legendaris di jalur Pontianak-Entikong.
Karena kami datang belum pukul 7, kedai ini belum teralu ramai, dan menu-menu yang dijual juga belum tersedia lengkap, seperti nasi ayam asap, ayam geprek, ikan nila, pecel lele, mie, bakso, dan es dawet segar. Ibu dan ayah sarapan nasi ayam, sedangkan saya memilih memesan kopi hitam yang lumayan enak dan sangat nikmat diminum bersama kue lapis legit bekal dari rumah. Benar-benar pengalaman ngopi yang seru.
Saya selalu senang jika berada di rest area. Singgah sejenak dalam setiap perjalanan adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu. Pak supir bisa istirahat menyetir, kita juga mengambil jeda untuk sekadar meregangkan otot-otot, menikmati makanan dan minuman khas setempat sambil berbagi cerita bersama keluarga itu adalah waktu yang sangat berharga.
Setelah jeda di Sosok, kita mendapat energi baru melanjutkan perjalanan. Kabupaten Sanggau ini paling panjang melintas ke utara Borneo dengan beberapa tanjakan berkelok melewati sejumlah kecamatan: Tayan Hilir, Balai, Perindu, Tayan Hulu, Kembayan, dan Entikong.
Sepanjang jalur kita dapat melihat di perkebunan banyak dipasang papan menjual sawit kiloan. Di sela kebun-kebun dan hutan kita menemukan pemukiman, jembatan, lapangan rumput, pasar rakyat, sekolah, gereja, termasuk Keuskupan Sanggau, maklum mayoritas penduduk Sanggau beragama Katolik.
Melanjutkan hampir dua jam di jalan pada pukul 10.45, kita memasuki Entikong di Pos Perbatasan Negara (PBN). Di sini kita akan dua kali pemeriksaan paspor, yakni pemeriksaan imigrasi Indonesia dan imigresen Malaysia, yang berjarak sekitar 75 meter yang dipisahkan oleh pagar. Saya seperti berjalan dari satu fakultas ke fakultas lain di suatu kampus. Berada di sini membuat saya bertanya apa rasanya hidup di wilayah perbatasan warga Entikong (Indonesia) atau warga Tebedu (Malaysia)?
Usai melewati pemeriksaan imigrasi, kita sepenuhnya masuk negara kedaulatan Malaysia. Awalnya 5-10 menit sama saja, tapi berangsur-angsur berbeda dengan jalur yang mulai lebar, aspal jalanan yang lebih mulus, rambu-rambu lalu-lintas yang berbahasa melayu. Perkebunan dan hutan segera berganti menjadi pemukiman pinggiran kota, dan ruas jalan raya yang lebar-lebar.
Setelah lebih delapan jam, akhirnya kami tiba di Kuching Sarawak menjelang pukul 13.00. Kami langsung pergi ke tujuan utama: Norma Medical Specialist Centre (NMSC) yang terletak di Jalan Tun Abdul Rahman Yaakub, Petra Jaya.
Perjalanan ini bagi saya salah satu perjalanan paling berkesan. Bukan hanya karena lintas negara dan budaya, tapi perjalanan emosional bersama keluarga yang penuh makna. Ada semacam perasaan puas dan happy menyusuri daratan Pulau Borneo.




Komentar
Posting Komentar