Final Liga Champions 2012: Chelsea Juara Eropa
Hari ini 14 tahun yang lalu. Final Liga Champions 2012 Bayern Munchen versus Chelsea.
Untuk pertama kalinya sebuah klub memiliki kesempatan memenangkan trofi Eropa di kandang sendiri. Manajer Munchen Jupp Heynckes menurunkan formasi terkuatnya. Kapten Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger, Toni Kross, Frank Ribery, Thomas Muller, dan Arjen Robben. Sebaliknya Chelsea tampil dengan kekuatan "seadanya". Tanpa kapten Jhon Terry, meskipun masih ada pemain top seperti Ashley Cole, Frank Lampard, Juan Mata, dan tentu saja Didier Drogba.
Seperti yang diprediksi Munchen mendominasi laga dengan membuat rangkaian peluang, memaksa Chelsea bermain dengan pertahanan rapat dan jarang menciptakan peluang bagus untuk mengancam kiper Manuel Neuer.
Drama sejatinya dimulai pada menit ke-83 saat Munchen akhirnya berhasil unggul. Dari tepi kanan pertahanan Chelsea, Toni Kroos melepaskan umpan silang ke tiang jauh, mulanya kita mengira dia mengincar Mario Gomez, tapi tiba-tiba Thomas Muller datang dari belakang menyundul bola mendahului Ashley Cole. Tandukan Muller memantul rumput membuat arah bola membingungkan bagi kiper Peter Chech, yang tak bereaksi menyelamatkan gawangnya.
Sepertinya tipis harapan jika menyaksikan performa The Blues. Kemudian Chelsea mendapatkan tendangan sudut di menit ke-87, untuk pertama kali pada malam itu. Juan Mata mengarahkan ke tiang dekat, bersamaan Drogba berlari dengan kekuatan penuh dan meloncat setinggi-tingginya menjauh dari penjagaan Jerome Boateng. Drogba menyambar bola sekuat ia bisa dari posisi sangat sulit. Bola itu bersarang di pojok atas gawang. Saya terpengarah, baru kali ini menyaksikan gol sundulan dari tendangan penjuru yang begitu mengerikan.
Drogba memberi Chelsea napas panjang, dan kita memasuki extra-time saat fans FC Hollywood bersiap merayakan pesta.
Momen dramatis terjadi lagi pada menit ke-93, Drogba justru menjadi terdakwa karena melakukan pelanggaran kecil terhadap Ribery, yang berbuah hukuman penalti. Rasa-rasanya Chelsea memang sewajarnya takluk, hanya soal waktu saja. Namun kali ini giliran kiper Peter Chech menyelamatkan Chelsea. Ia memblok kemudian menangkap tembakan keras Robben.
Bayern terus menggempur tak ingin adu penalti terjadi, sebaliknya Chelsea sangat berhasrat mengakhirinya lewat cara itu, meskipun mereka masih trauma pada final 2008 kalah dari Manchester United di Moskow.
Adu penalti akhirnya benar-benar harus dilaksanakan. Lagi-lagi Chelsea tak diunggulkan, tim dari Jerman punya rekor nyaris sempurna kalau urusan adu tembak seperti ini. Chelsea dan tim Inggris sebaliknya, rekor adu penalti yang buruk.
Baru algojo pertama, Juan Mata sudah gagal, dan tiga penembak Munchen termasuk Neuer sukses. Posisi sempat 1-3, sebelum Lampard memperpendek 2-3. Nasib berbalik ketika Cech memblok tembakan Ivica Olic sebagai penendang keempat. Penalti berkelas Ashley Cole menyamakan skor 3-3, dan menyisakan algojo terakhir: Schweinsteiger untuk Bayern dan Drogba untuk Chelsea.
Schweini melakukan teknik penalti seperti mengecoh dengan berhenti sebelum menembakkan bola, dan tendangannya meleset, barangkali sebelumnya ditepis ujung jari Cech yang membuat bola membentur tiang dan terpental ke luar. Chelsea kini sangat dekat dengan trofi Liga Champions idaman.
Drogba yang terus berlutut berdoa di tengah lapangan saat rekan-rekannya tegang berdiri, mendapatkan jawaban dari doanya. Dua kegagalan terakhir penendang Munchen, mengantarkan ia sebagai penembak penentu, itu terlalu berat ditanggung. Namun ia berjalan menuju titik putih mencoba meredam beban sembari tetap berdoa dan fokus.
Drogba adalah Drogba, sang legenda hidup. Ia dengan tenang melakukan penalti yang sangat keren, tendangannya rendah ke sudut kiri saat Neuer bergerak ke kanan. Berkat gol itu Chelsea menjadi juara Eropa untuk pertama kali. The Blues berpesta. Terry dan Di Matteo menangis terharu menghapus trauma Moskow.
Tahun-tahun kejayaan tim ini sebenarnya sudah berlalu sejak 2010. Dari 2004 sampai dengan 2009 mereka selau berada di enam semifinal dan sekali final 2008. Mereka tidak percaya tidak pernah beruntung pada banyak kesempatan, membuat putus asa, dan beranjak menurun pada musim 2010 dan 2011. Saat kekuatan "melemah", keberuntungan berbalik pada 2012. Mereka memenangkan Liga Champions, obsesi bos Roman Abramovich dan seluruh personil klub.
Pada saat bersamaan, patah hati dialami Bayern, ia adalah favorit, tapi statistik tidak berarti apa-apa. Tim yang lebih baik tidak selalu menang. Schweinsteiger tak bisa berhenti meratapi kekalahan dramatis meskipun sudah dihibur rekan-rekannya.
Legenda dan elite Munchen, Karl Heinz Rummenigge, bahkan bisa merasakan kegagalan 2012 lebih sadis dibandingkan kegagalan 1999 oleh MU, karena terjadi di rumah sendiri dengan cara paling kejam. Luka Munchen 2012 seperti menuangkan garam pada luka Barcelona 1999. Sepak bola kembali menunjukkan sisi brutalnya.
Sepak bola adalah permainan emosi yang intens. Malam itu sungguh luar biasa mencekam sekaligus menakjubkan, sulit dipercaya bagi banyak penggemar bola. Setiap 19 Mei akan dikenang sebagai hari paling bersejarah bagi Chelsea dan seluruh fansnya.

Tanggal itu juga sangat personal dan emosional bagi saya. Pada pagi hari pukul 11.00 Wita, saya dengan tegang melafalkan ijab kabul di hadapan ayah mertua, penghulu, dan ratusan keluarga dan kerabta pada hari perkawinan pada Sabtu 19 Mei 2012. Chelsea juara saat saya sebagai pengantin.
Sejak momen hari pertama perkawinan yang terjadi berbarengan dengan malam tak terlupakan Chelsea di Munich, saya bisa merasakan euforia fans The Blues. Saya menetapkan final Liga Champions setiap tahun sebagai "our wedding anniversary"


Komentar
Posting Komentar