Hidup Melambat di Taman Persahabatan (5)

Kuching dikenal sebagai kota dengan suasana santai dan cocok bagi yang menginginkan slow living. Satu tempat yang paling tepat merasakannya adalah berkunjung ke Taman Persahabatan Malaysia-China.

Melanjutkan jelajah di Kuching, menjelang malam pada Jumat 24 April 2026, kami berlima bertandang ke Taman Persahabatan yang terletak di Jalan Song Tabuan Heights. Waktu kami datang taman sudah ramai, mungkin karena sudah masuk weekend. Baru tiba di area parkiran dan belum melewati gerbang Chinese Plaza, saya sudah terpukau dengan suasana sekitarnya.

Taman persahabatan ini dibangun pada tahun 2005 di atas lahan seluas 2,8 hektar, untuk merayakan ulang tahun ke-30 hubungan diplomatik antara kedua negara. Nama resminya Malaysia-China Friendship Park.

Taman Persahabatan terbagi dalam dua area, yakni Zona Malaysia dan Zona China, yang memiliki ciri khas masing-masing. Di Zona Malaysia ada patung kucing, Sarawak Fountain, Baruk Pavilion, Hibiscus Garden, dan Malaysia Mural. Adapun di Zona China terdapat patung Zheng He, Beijing Pavilion, Huai Feng Pavilion, Rock Garden, Friendship Memorial, dan Tea Pavilion yang ditempati Cafe Chagee.

Di tengah, terdapat kolam yang cukup luas (Water Lili Pond) dan punya air pancur yang menghubungkan dua zona dan di atasnya dibangun Zigzag Bridge. Di sini view paling indah menunggu matahari terbenam.

Tidak hanya luas dan megah, taman ini juga menjadi ruang nyaman untuk belajar, bermain, berdiskusi, meditasi, dan olahraga. Banyak hal menarik bisa dilakukan. Ketika mengelilingi taman dari trek joging di tepi kolam dan rindang pepohonan, saya beberapa kali singgah melihat aktivitas pengunjung memberi makan ikan koi. Di Rock Garden ada komunitas senam dan meditasi. Sedangkan anak-anak sangat gembira bermain mobilan, sepeda, balon gelembung, dan di playground yang bagus. Pengunjung yang lain menikmati sore sekadar ngopi, ngobrol, dan berfoto di gazebo-gazebo di bawah lampu taman dan lampion.

Menghabiskan waktu di sini sekitar satu jam membuat hati tenang dan perasaan senang. Pada saat warga kota terus berpacu tanpa jeda dengan canggihnya teknologi, dibutuhkan ruang publik untuk memperlambat dan mencari ketenangan. Alangkah indahnya Taman Persahabatan Malaysia-China.

Saya teringat Thomas Friedman dalam bukunya, Thank You For Being Late, menulis, kita seperti dipaksa selalu berada dalam percepatan. Kita tidak lagi sempat bertemu teman dan keluarga, tidak punya waktu lagi untuk melihat matahari terbenam, kita dituntut membereskan semua kewajiban tanpa sempat menarik nafas, serba tergesa-gesa. Semuanya itu telah menjadi model bagi kehidupan yang sukses.

Setiap kota seharusnya punya ruang publik seperti Taman Persahabatan. Ruang ibarat oase yang memberikan ketenangan dan kedamaian, melepaskan penat dari sibuknya kota. 

Saking terpukau dengan keindahan taman, saya tidak menyadari topi yang saya gunakan selama ini tertinggal di sana. Saya telah meninggalkan jejak di Taman Persahabatan, simbol karakter kota Kuching yang teduh, hehehe.

Salam persahabatan.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Kenangan di Prambanan Jazz

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni