Berkunjung ke Kuching Sarawak (3)

Sebelumnya jauh dari rencana dan keinginan bahwa saya akan berkunjung ke Kuching, Sarawak, Malaysia. Dibandingkan Kuala Lumpur, kota Kuching bagi banyak orang kurang dikenal, saya bahkan tidak tahu jika ibu saya tidak datang berobat ke sini.

Tapi suatu waktu selama tiga hari dua malam (23-25 April 2026) saya bersama keluarga di sini, ibu kota Malaysia bagian Sarawak di Pulau Borneo. Di waktu yang sangat singkat di selah-selah mengantar ibu berobat, saya menjelajahi kota ini sejauh yang saya bisa. 

Malaysia adalah federasi yang terdiri dari 13 negara bagian ditambah ibu kota federal Kuala Lumpur dan Wilayah Federal Labuan dan Putrajaya.  Secara historis, Sarawak merupakan provinsi Kesultanan Brunei hingga kedatangan "Raja James Brooke", yang memerintah selama satu abad. Saat itulah Sarawak menjadi entitas politik yang terpisah. Pada tahun 1963  bergabung dengan Malaysia sebagai bagian dari negara merdeka. 

Meskipun Sarawak dan Sabah berada di daratan yang terpisah dari Semenanjung Malaysia, mereka bangga dengan peran dan tanggung jawab mereka untuk memastikan kemajuan negara. Transformasi ekonominya, dari negara bagian termiskin ketiga di Malaysia (pada tahun 1963) menjadi salah satu yang terkaya saat ini, menunjukkan ketangguhan rakyat dan pemimpinnya.

Kuching berada di tepi sungai Sarawak. Konon wilayah dari pos perdagangan yang dibangun oleh pelaut Inggris James Broke, yang memerintah Sarawak selama satu abad. Berbeda dengan Kuala Lumpur yang mendunia dan megapolitian, Kuching suasananya santai. Karakter kotanya kalem, bersahaja, rapi, dan bersih. Hal yang bagi sebagian turis meninginkan itu yang mereka sebut slow living, jauh dari ketergesa-gesaan dan serba bergegas. Kuching juga menawarkan eksplorasi budaya, wisata alam, dan tentu saja pengalaman kuilner terutama makanan jalanan yang lezat.

Penduduk Kuching beragam, mulai dari orang Melayu, Cina, dan India dan juga warga asli, seperti Iban, Dayak Bidayuh, Orang Ulu, Melanau, hidup berdampingan secara harmonis. Jika kita memperhatikan, banyak sekali orang punya tato tubuh di sini, sudah semacam seni komunitas. Saya melihat beberapa studio tato yang ramai didatangi.

****

Kami menginap di Imperial Suite Apartemen, terletak tepat di jantung Kuching, titik yang bagus dan mudah untuk mengkses banyak tempat, terutama Normah Medical Specialis Centre (NMSC). Kami baru Cekin pada Kamis malam 23 April 2026 usai tindakan medis ibu seelesai menjelang Magrib.

Pukul 20.00 setelah berberes dan istirahat sebentar, kami keluar berkeliling menikmati suasana malam Kuching yang terang benderang.  Jalan-jalan yang lebar dan lalu lintasnya teratur, tidak berisik, membuat perjalanan lebih nyaman, kami tidak menemui hambatan, bahkan hampir tak ada polusi kendaraan. 

Driver Gita mengantar kami melewati pemukiman, perkantoran, dengan arsitektur klasik yang berdampingan dengan gedung-gedung pencakar langit yang mulai tumbuh. Juga sudah banyak, ruko resto, bar, atau butik, dan mall. Malam itu kami juga berkunjung ke Vivacity Megamall, pusat perbelanjaan terbesar setempat, dan makan dan ngopu di Oriental Kopi. Tapi terlepas dari pertumbuhanya, Kuching masih mempunyai suasanan kota kecil yang santai dan bersahaja.

Suatu malam pengalaman tak terlupakan di kota yang dinamis dan menyimpan kenangan.
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Kenangan di Prambanan Jazz

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni