Ritual Memulai Hari di Kuching: Menyesap Kopi Opium (4)
Pada Jumat 24 April 2026 kami memulai hari di Kuching dengan ngopi di Kedai Hiap Yak Tea Shop yang legendaris. Konon ngopi di Hiap semacam ritual banyak warga setempat dan pelancong memulai harinya. Saya penasaran untuk mencobanya.
Kami pun meluncur diantar Gita. Menjelang pukul 7.00. Saya, Adi, dan Gita, sudah tiba di kedai yang terletak di Lorong Kai Joo. Lokasinya strategis, kami mengaksesnya dari India Street Pedestrian Mall yang terhubung dengan China Town.
Berjalan kaki di Lorong Kai menghadirkan suasana nostalgia, diapit ruko-ruko tua, tembok warna-warni dengan beberapa mural, dan barisan lampion di atasnya, di suatu pagi yang belum sibuk oleh aktivitas perdagangan di suatu kota tua.
Kedai ini milik Tan Mui Kim, berusia 75 tahun. Madam Tan Mui generasi ketiga mengelola Hiap. Ia sangat ramah dan tampaknya mudah bergaul. Sikap ramahnya tak dibuat-buat. Madam Tan begitu cair melayani dan berinteraksi dengan siapa saja pelanggan yang datang. Ia tak segan menawarkan bantuan mengambilkan foto dan juga tak keberatan diajak foto bareng.
Di sebelah kami duduk, ada seorang bapak yang kemungkinan suami madam Tan, begitu tenang bekerja mengoles puluhan roti tawar, selama hampir satu jam ia sama sekali tidak terdistraksi apapun yang terjadi di sekitarnya, termasuk pengunjung yang datang dan pergi. Ia tetap fokus menyelesaikan pekerjaan yang mungin telah menjadi rutinitas paginya yang menyenangkan.
Selain vibes yang keren, Hiap Yak juga menawarkan racikan kopi yang terkenal, yakni "kopi opium". Jangan salah kira dulu, kopi ini tidak mengandung narkotika, hanyalah secangkir kopi hitam/susu yang disajikan dengan satu mentega butter khas setempat.
Istilah "kopi opium" terinspirasi oleh kisah para buruh pamakai opium di masa lalu di Lorong Kai ini. Mereka perlu minum kopi mentega ini supaya tenggorokan mereka lebih nyaman. Racikan itu disukai sampai sekarang, menjadi daya tarik bagi banyak penduduk lokal dan wisatawan.
Saya, Adi, dan Gita memesan paket: kopi opium, roti panggang, dan egg, yang dibanderol 9 ringgit (sekitar 39 ribu rupiah). Sedangkan Uci dan Humairah mencoba tea dan milo panas khas Hiap. Ketika secangkir kopi berbusa disajikan di meja, saya teringat pada kopi Phoenam Makassar. Mengaduk mentega hingga meleleh di cangkir juga perasaan menyenangkan. Saya suka rasa campuran ini, cita rasa yang sama sekali berbeda. Semakin nikmat dipadukan dengan roti panggang selai.
Jarum jam seolah berhenti berputar ketika mengopi di Hiap. Menghabiskan secangkir "kopi opium" hingga tegukan terakhir dengan sejarah yang menarik membuat kita merasa damai dan happy. Setelah kita beranjak, kita harus kembali menghadapi kenyataan dan gejolak dunia, hehehe.
Sesaat usai ngopi dan berjalan kaki ke parkiran, saya berpikir sendiri mengapa kopi ini disebut kopi opium karena mungkin kita akan ketagihan dan ingin meminumnya lagi, dan lagi...
Salam hangat dari Kuching.




Komentar
Posting Komentar