Salat Jumat di Masjid Negeri Sarawak (7)
Saya selalu senang jika bepergian melewati hari Jumat sebagai musafir, itu artinya saya akan mengunjungi masjid raya setempat.
Malaysia sebagaimana Indonesia, mayoritas penduduknya muslim (62 persen), sehingga sangat mudah menemukan masjid di sini. Pada Jumat 24 April 2026, kami bertiga, ayah, saya, dan Adi, sepakat "Jumatan" di Masjid Bahagiaan Bandaraya, situs masjid tertua di Sarawak yang menjadi ikon sejarah Islam di pusat kota Kuching.
Sejarah Islam di Sarawak sangat erat pengaruh Kesultanan Brunei dan jalur perdagangan laut yang membawa pendakwah dan pedagang dari Arab, India, dan Nusantara. Banyak dari mereka menetap di Kuching dan membangun masjid.
Masjid Bahagiaan terletak di Jalan Datuk Ajibah Abol, tak jauh Brooke Dockyard, galangan kapal tertua di Malaysia. Mulai dibangun oleh para pemimpin Melayu pada 1847. Nama resminya Masjid Jamek Negeri Sarawak, penduduk setempat menyebutnya "Masjid Negeri".
Jarak dari Norma Medical Specialist Centre (NMSC) ke masjid cukup dekat, bisa ditempuh 15 menit. Kami sudah tiba pada pukul 12.30 dari pintu selatan. Ketika masuk area membasuh wudhu, udara dingin angin sepoi-sepoi bertiup meredam terik siang itu.
Bangunan Masjid Negeri sangat menonjol di sekitarnya, bergaya Mughal, sepintas mirip Taj Mahal di India. Ciri khasnya adalah kubah emas besar dengan sepuluh menara yang kokoh. Menjadikan bangunan ini salah satu ikon terindah di Kuching. Ketika saya search di website, dinding-dindingnya berwarna merah jambu, tapi sudah berganti putih saat kami di sana.
Di setiap sisi masjid, kecuali bagian barat, terhampar areal pemakaman tua dengan ratusan nisan batu dan kayu yang sudah kusam bahkan patah berserakan, bermakna simbol sejarah panjang Islam di Sarawak. Banyak jemaah memotret kuburan ini sebagai pengingat kematian.
Pada Jumat 24 April 2026, waktu Dzuhur pukul 12.47. Saya masuk di ruang salat utama 15 menit sebelumnya. Masjid ini dapat menampung 4.000 jamaah. Interiornya megah dan menawan. Mimbarnya hasil karya seni artistik dan klasik. Persis di bawah kubah utama, tergantung chandelier besar yang sangat elegan. Selaras dengan karpet Turki motif kembang berwarna merah-abu-abu-krem. Mencipatakan suasana ibadah yang khusuk. Khutbah dibawakan dengan bahasa Melayu. Ada perasaan sakral bisa sembahyang Jumat di sini.
Rangkaian pelaksaaan salat Jumat selesai pada pukul 13.20. Ayah mengajak kami makan siang menu nasi briyani di Ceylonese Restaurant di Jalan Green Hill. Kali ini saya menyantap lamb shank yang supet lezat dan gurih rasa bumbu India.
Salam hangat dari Kuching.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar