Jalan-jalan ke Kota Tua Kuching (6)
Melanjutkan kunjungan singkat di kota Kuching Sarawak, pada Jumat sore 24 April 2026 kami main-main ke kota tua.
Persinggahan pertama di Jalan Main Bazaar, salah satu jalan paling terkenal di sini. Jalan yang tepat di tepi selatan Sungai Sarawak. Kawasan Main Bazaar adalah pusat souvenir dan kerajinan tangan lokal yang banyak diburu untuk membeli oleh-oleh. Pengunjung bisa menemukan berbagai kerajinan khas seperti ukiran kayu, manik-manik, serta tekstil tenun Sarawak yang indah.
Sekitar 20 menit saya menyusuri trotoar di tepi deretan kota tua yang banyak berdiri gedung-gedung arsitektur kolonial Inggris. Di ujung jalan Main Bazaar kita menemukan gedung kuno bekas pengadilan Inggris dengan tiang tinggi dan monumen prasastinya. Pengadilan kini berganti fungsi menjadi gedung pusat budaya dan seni yang aktif mementaskan pameran, teater, musik. Di terasnya ada butik dan kafe restoran.
Di belakang gedung ini terdapat bekas penjara kolonial Kuching yang dibangun pada 1879. Jadi ketika terpidana telah divonis bersalah di sidang pengadilam, segera dijebloskan ke sel penjara yang terhubung dengan pengadilan.
Lalu jika terus berjalan ke belakang kita akan menemui Indian Street dan juga Chinatown. Sedangkan jika kita menyeberang jalan kita menuju waterfront dan jembatan ikonik Darul Hana, menikmati suasana santai tepi sungai yang mulai ramai saat sore sampai tengah malam. Kita bisa menyaksikan keindahan dan kemegahan Astana (Istana Sarawak), Fort Margherita, dan Gedung Majelis Legislatif Negara Bagian, yang tampak memukau di malam hari.
Saya bersama Adi melanjutkan tur menyusuri Indian Street. Suatu ruas jalan yang bisa dilewati kendaraan, sehingga di gerbang tertulis "Pedestrian Mall". Sepanjang pedestrian ini dipenuhi toko dan tenda-tenda permanen yang berjual ragam pakaian, sepatu, asesoris, elektronik, ponsel, makanan, dan yang lain. Waktu kami datang sudah hampir tutup, perniagaan hanya sampai pukul 17-18.
Di sela-sela jalan ini terdapat lorong-lorong kecil, termasuk Lorong Kai Joo, yang bisa menghubungkan dengan kawasan Chinatown, biasanya untuk pengunjung beristirahat sambil menikmati makanan dan minuman khas. Pagi harinya saya sudah ngopi di sini Hiap Yak Tea Shop.
Menutup tur hari Jumat itu kami menyantap Mee Kolok di Laila Cafe di Jalan Datuk Ajibah Abol. Mie Kolo adalah masakan khas setempat yang sudah terkenal dengan mie ukuran kecil dengan rasa gurih dan nikmat dengan irisan ayam. Konon tak afdal ke Kuching jika belum makan seporsi Mie Kolo.
Salam hangat dari Kuching.


.jpeg)
Komentar
Posting Komentar