Sejarah Final Liga Champions 1995-2004 (1)
Final Liga Champions 2026 menjelang.
Pertanyaan dan prediksi pun semakin ramai. Kamu memfavorikan siapa, Paris Saint-Germain (PSG) ataukah Arsenal?
Pesona dan atmosfer final Liga Champions (LC) membuat saya tak sabar menanti laga yang akan digelar di Budapest, Hungaria, pada malam Minggu nanti, 30 Mei 2026.
Final Liga Champions sudah terpatri di kepala saya. Final itu selalu berlangsung di hari Kamis dinihari akhir bulan Mei. Harinya berganti ke malam Minggu sejak final Liga Champions 2010.
Saya tak bermaksud menulis prediksi siapa yang bakal menang dan juara. Tidak berminat pula menganalisanya dari aspek teknis Luis Enrique dan Mikel Arteta. Dan (mungkin) saya tak akan menulis catatan bak komentator andal, setelah kita mengetahui hasilnya di Minggu pagi nanti.
Jauh lebih menarik bagi saya adalah bagaimana menapak tilas menjadi seorang fans fanatik Final Liga Champions.
****
Semua ini bermula pada final Final 1995, ketika Ajax Amsterdam yang dilatih pelatih muda (saat itu), Louis Van Gaal menjadi kampiun di Wina, Austria, setelah menundukkan AC Milan, dengan skor 1-0, melalui gol emas Patrick Kluivert menjelang bubaran.
Kesuksesan Ajax menghentikan dominasi "The Dream Team" Milan-Fabio Capello, menjadika Ajax-95 atau Ajax-nya Van Gaal, dikenang sebagai kemenangan sepak bola murni, kemenangan sepak bola para idealis. Disebut begitu karena seluruh skuad Ajax-95 merupakan produk binaan dari sekolah sepak bola mereka. Padahal era itu sepak bola memasuki industri kapitalis yang semakin diluar nalar.
Meski setahun kemudian final 1996 di Roma, Ajax dan Van Gaal tak bisa lagi membendung kekuatan uang dari klub Juventus. Ini gelar kedua Juventus sekaligus yang terakhir hingga sekarang. Saat itu mereka dilatih Marcello Lippi dan dikapteni mendiang Gianluca Vialli. Seiring waktu, maka muncullah orang semacam Roman Abramovich di imperialisme sepak bola. Biar begitu, Ajax-95 tetap menjadi legenda, yang menjadi pengantar yang membuka pandangan saya betapa seru dan menariknya turnamen Liga Champions Eropa.
Saya masih ingat hingga kini kegiatan saya sehari-sehari menjelang dan paska beberapa final Liga Champions sejak itu.
Ujian Sekolah dan Pemilu Orde Baru
Final 1997 di Olympia Stadium Munich juga menyisakan cerita menarik buat saya. Beberapa jam setelah menyaksikan eforia Borrusia Dortmund membungkam kesombongan "La Vechia Signora" Juventus, saya harus bersiap menjalani ujian akhir sekolah pada pagi hari dengan kantuk berat. Bersamaan dengan itu, Indonesia sedang menggelar Pemilu "semu" terakhir di zaman Orde Baru, yang hanya diikuti 3 peserta. Dan pemenangnya adalah Golkar dengan raihan suara hampir 87 persen suara.
Sepuluh edisi final LC selanjutya (1998-2007) saya nonton bersama teman-teman kos sebagai anak rantau di kota Jogja.
Juventu maju ke final tiga tahun berturut, kembali gagal di final 1998 melawan Real Madrid yang dihelat di Amsterdam Arena, hanya beberapa hari setelah peristiwa bersejarah di Indonesia, tumbangnya Rezim Suharto yang bisa bertahan 32 tahun.
Kemudian ada final ajaib Manchetser United di final 1999 di Camp Nou. Kami nobar di kos kawasan Glagah Sari heboh atas kemenangan United asuhan Alex Ferguson atas Bayern Munchen. Dua gol kemenangan United dari Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solkjaer diciptakan pada menit ke-91 dan ke-93. Final paling dramatis yang pernah terjadi.
Kita pun mestinya masih mengingat dua kekalahan beruntun klub kejutan, Valencia yang ditukangi Hucter Cuper, di final tahun 2000 di Paris dan final 2001 di Milan, oleh dua raksasa Eropa Real Madrid dan kemudian Bayern Munchen.
Final 2002 digelar di Hamden Park Glasgow, mempertemukan Real Madrid yang dipenuhi "galacticos" ditantang Bayern Leverkusen yang mengandalkan Michel Ballack. Madrid dengan pengalamannya berhasil meraih gelar ke-9 setelah kemenangan 2-1, yang salah satunya sangat ikonik, gol voli dari Zinedine Zidane. Gol yang disebut-sebut sebagai gol terbaik sepanjang sejarah final.
Tahun berikutnya final 2003, terjadi All-Italian Final di Manchester antara Juventus melawan AC Milan, yang dimenangi Milan melalui adu penalti, setelah 120 menit yang membosankan. Ini trofi pertama Carlo Ancelotti.
Final 2004 di Gelsenkirchen merupakan final yang paling mengejutkan karena menghadirkan dua klub papan tengah, AS Monaco yang dilatih Didier Deschamos dan Porto dibesut Jose Mourinhi.
Porto menang telak 3-0, dan tampil sebagai juara. Dalam perjalanan itu, Porto menumbangkan MU dengan tragis, dilengkapi dengan selebrasi Mourinho yang berlari sejauh 50 meter seperti di depan Sir Alex dan seisi di Old Trafford. Berangkat dari momen itulah nama Jose Mourinho dengan segala kontroversinya masuk ke jejeran pelatih papan atas Eropa, dan membuat sepak bola menjadi lebih seru. (bersambung).






Komentar
Posting Komentar