Bagaimana Guardiola Merevolusi Manchester City dan Mendominasi Sepak Bola Inggris

Joseph "Pep" Guardiola akan meninggalkan Manchester City, setelah melewati 10 musim. 

Pep bergabung dengan City menggantikan Manuel Pellegrini pada awal musim 2016/2017. Sebelumnya ia melatih Bayern Munchen tiga musim (2013-2016) di mana ia memenangkan tiga gelar Bundesliga berturut-turut dan dua Piala Jerman.

Sebelumnya lagi, Pep memulai karier manajerialnya di Barcelona pada tahun 2008/2009, membentuk satu tim klub terbaik sepanjang masa - memenangkan tiga gelar La Liga berturut-turut (2009-2011), dua Liga Champions (2009 dan 2011), dan dua Copa del Rey (2009 dan 2011) sebelum mengambil cuti setahun setelah musim 2011-12.

Pep telah membangun dan mengubah banyak hal di Manchester City. Pep adalah manajer paling lapar gelar. Ia telah membawa City meraih 20 trofi utama, termasuk enam gelar Premier League hanya dalam 10 musim, membawa City ke urutan keempat dalam daftar trofi Inggris sepanjang masa, hanya di belakang Manchester United, Liverpool dan Arsenal.

City adalah satu-satunya tim yang mencapai 100 poin dalam satu musim Premier League, pada musim 2017/2018. Ini bisa disetarakan dengan Invicibles Arsenal 2004. City asuhan Pep kemudian menjadi tim pertama yang memenangkan gelar Liga Inggris empat musim berturut-turut (2021-2024), di mana Alex Ferguson pun tidak pernah mencapainya. Itu bukanlah hal yang biasa. Kita belum pernah melihat rekor seperti itu dalam sepak bola Inggris sebelumnya, dan mungkin kita tidak akan pernah melihat hal serupa lagi.

Tim City Pep secara keseluruhan telah mendominasi sepak bola Inggris selama masa kepemimpinannya. Puncak kejayaan Pep bersama City adalah treble winner terkenal pada musim 2022/2023. Treble adalah level paling tinggi yang bisa diraih tim dalam satu musim. City menjadi tim Inggris kedua yang mendapatkan treble setelah Manchester United Alex Ferguson pada 1999.  Treble bersama City menjadikan Pep pelatih pertama yang meraih dua trofi Liga Champions dengan meraih treble winner. Sebelum bersama The Citizens, prestasi itu digapai bersama Barcelona pada 2009. Sangat fantastis dan bersejarah.

Kesuksesan bersama City juga diyakini telah mengubah cara sepak bola dimainkan, dilatih, dan dipahami di Inggris. Apa yang telah dicapai oleh Pep dan pasukannya memang luar biasa. Cara mereka menguasai bola dan mengontrol permainan, mendominasi, mendikte, dan menang dengan berkelas, konsisten dengan performa eksplosif. Sebuah konsep yang ia warisi dan sempurnakan dari Johan Cruff.

Pep menciptakan standar baru sepak bola Inggris. Hal serupa saat ia menukangi Bayern Munchen yang secara tidak langsung merevolusi sepak bola Jerman. Pep meninggalkan Manchester City dengan warisan yang tak ternilai.

Tidak ada yang abadi. Semua yang ada di bawah langit ada waktumya. Pertandingan terakhir pria Spanyol berusia 55 tahun itu akan berlangsung melawan Aston Villa di Stadion Etihad, Minggu sore 24 Mei 2026.

Seperti ketika Alex Ferguson pensiun pada 2013, Arsene Wenger pada 2018, dan Jurgen Klopp meninggalkan Liverpool 2024, menjadi hari yang menyedihkan bagi Premier League. Pep akan dirindukan.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Kenangan di Prambanan Jazz