Menikmati Kopi Legendaris di Warkop Asiang Pontianak
Bagi peminum kopi, siapa tak kenal dengan Koh Asiang?
Karena sejak lama penasaran dengan peracik kopi legendaris ini, saya berkunjung ke Warung Kopi Asiang Pontianak pada hari Minggu pagi 26 April 2026. Warkop ini berdiri sejak 1958, dirintis oleh ayah Asiang.
Mengenakan jersei PSM Makassar (sengaja disiapkan), saya bersama Adi datang sepagi mungkin, pukul 06.00 WIB. Sedangkan Uci dan Humairah bergabung 45 menit kemudian setelah joging di kawasan car free day Ahmad Yani.
Warkop Asiang berada di Jalan Gunung Merapi yang cukup lebar, tapi pagi itu tidak bisa diakses mobil karena ratusan motor memadati jalan tersebut. Kendaraan mobil hanya bisa parkir di Jalan KH Agus Salim, lalu berjalan masuk sekitar 100 meter.
Begitu berjalan kaki di gerbang Merapi, suasana warkop langsung terasa. Warkop yang menempati dua ruko tua ini dipenuhi penikmat kopi. Barangkali ada 100 orang yang datang lebih dulu daripada kami. Mereka semua dari berbagai latar belakang, dari berbagai kelompok umur, dari remaja, dewasa, paruh baya, dan lansia, begitu asyik meriung di meja masing-masing dengan menu secangkir kopi dan kue-kue tradisional setempat.
Kami harus menunggu untuk mendapatkan tempat, dan berharap cepat. Seraya menunggu saya sibuk menyaksikan momen-momen apa yang akan terjadi di kedai unik ini.
Setelah sekitar 25 menit mengantre, kami mendapatkan meja di bagian agak belakang. Segera Adi memesankan menu favorit: Kopi Asiang dan telur setengah matang. Sambil menunggu dibuatkan, saya bergegas menuju depan untuk membeli beberapa kue khas yang harus dibayar langsung.
Di sini saya sekalian melihat dari dekat Koh Asiang meracik kopi jenis robusta. Ia sangat terampil menyeduh kopi dengan cara kuno, memasak kopi dari teko-teko besar yang akan diangkat tinggi-tinggi lalu dituangkan ke dalam cangkir mini.
Selain metode kopi tradisional, warkop ini terkenal karena sosok unik Koh Asiang yang meramu kopi tanpa memakai baju. Berkepala plontos, badan tinggi dan besar, dan bertato di dada kanannya. Asiang hanya memakai celana puntung dan kaos kaki untuk meredam panas bagian bawah kompor di dapur yang dipenuhi teko, cangkir, dan biji kopi. Sudah menjadi simbol dan identitas Asiang. Inilah intinya Warkop Asiang Pontianak.
Walau sangat ramai, pelayanannya sangat cepat. Ketika pelayan datang menyajikan cangkir-cangkir kopi keramik di meja kami nomor-14, aroma kopi langsung bisa tercium. Segera saya menyesap secangkir kopi yang berbuih-buih. Kopinya memang nikmat yang khas, saya jadi paham mengapa warkop ini tak pernah sepi pelanggan. Bukan hanya karena baristanya tak memakai baju, tapi rasa kopinya juga mantap.
Sekitar satu jam kami menikmati momen ngopi di sini. Sebelum meninggalkan kedai kami mengabadikan dengan foto bersama sang legenda. Kabarnya Koh Asiang tak pernah sekalipun menolak difoto oleh pelanggannya.
Saya merasa sah ke Pontianak.




Komentar
Posting Komentar