Final Liga Chanpion 2005-2014 (2)

Tak terasa satu dekade saya menonton final Liga Champions. 

Selanjutnya cerita final 2005. Mempertemukan AC Milan yang bertabur pemain kelas dunia dan ditukangi Ancelotti ditantang Liverpool yang dilatih Rafael Benitez dengan bintang Steven Gerrard.

Final berlangsung di Istanbul, sepertinya dengan mudah dimenangkan AC Milan setelah mendominasi di babak pertama dengan skor 3-0. Namun seperti sejarah yang telah tertulis ada keajaiban di Istanbul. Liverpool menyamakan kedudukan 3-3 pada menit ke-60. Dan memaksa pertandingan berlanjut perpanjangan waktu dan ditentukan lewat drama adu penalti. Liverpool secara heroik menjadi juara, sekaligus gelar ke-5 bagi The Reds. AC Milan dan fansnya sampai sekarang masih belum percaya mereka bisa kalah dengan cara seperti itu, "Miracle of Istanbul".

Final 2006 di Stade de Franc St Dennis mempertemukan Barcelona dan Arsenal. Barcelona dilatih Frank Rijkard dan pemain terbaik dunia Ronaldinho, berhasil juara setelah menang 2-1 atas The Gunners yang diasuh Arsene Wenger dan pemain-pemain muda. 

Arsenal harus bermain sepuluh setelah kiper Jens Lehmann dikartu merah pada menit ke-18, justru unggul lebih dulu melalui sundulan Soll Campbel, namun pada babak kedua dua gol Barcelona mengubur impian Arsenal untuk kali pertama meraih trofi tertinggi Eropa. Sedangkan Barca ini trofi kedua setelah pertama pada 1992.

Setahun berikutnya final 2007 digelar di Athens, Yunani, mengulang kembali pertemuan AC  Milan dan Liverpool. Kali ini Milan sukses membalaskan dendam lewat brace dari Filippo Inzhagi. Milan meraih trofi ke-7 -nya dan mendekati Real Madrid sebagai raja Eropa.

Rivalitas CR-7 dan Messi 

Chelsea dengan kucuran uang Abaramovich berhasil menembus final 2008 di Moskow, asal kota Abramomich. Namun sayang, Chelsea  yang diambang juara gagal total karena kapten Jhon Terry  yang seharusnya sebagai eksekutor penentu adu penalti, ternyata terpeleset saat momen terpenting. Beberapa bulan setelah drama Moskow, Terry dikabarkan menderita mimpi buruk dan melalui pagi-pagi-nya yang kelam.

Sedangkan Manchester United memenangkan gelar mereka yang ketiga, dan menobatkan Cristiano Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia sejak itu.

Musim berikutnya final 2009 adalah salah satu final ideal. Juara bertahan MU ditantang Barcelona, klub paling difavoritkan karena permainan "tiki-taka" yang diciptakan pelatih Pep Guardiola. Final yang dihelat di Roma juga sering dikaitkan dengan pembuktian langsung siapa yang lebih hebat, Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Barcelona menang 2-0 salah satunya gol sundulan ikonik Messi mengecoh Edwin van Der Sar. Bermula dari Roma keduanya terus mengukir rivalitas panjang. 

Edisi final 2010 di Santiago Bernabeu, Madrid kembali melibatkan Jose Mourinho. Tapi kali ini bersama klub Inter Milan, yang dibawanya berjaya mengalahkan bekas gurunya Louis van Gaal yang saat itu melatih Bayern Munchen. Inter melengkapi treble dan setelah final Mourinho hengkang ke Real Madrid.

Final 2011 di Wembley mengulang laga final Roma 2009 antara Barcelona melawan MU. Pemenangnya pun tetap Barcelona dengan skor 3-1. Dua kali mengalami kekalahan di final melawan tim yang sama, membuat pelatih setengah dewa, Sir Alex Ferguson, tanpa ragu mengatakan bahwa Barcelona’2011 adalah tim terkuat yang pernah menjadi lawan sepanjang karir kepelatihannya. Seperti mustahil dikalahkan.

Final di Malam Perkawinan

Tahun 2012, ambisi besar Ambramovich Chelsea memboyong piala akhirnya terwujud setelah dengan sadis membuat derita Bayern Munchen di stadionnya sendiri, Fusball Arena. Fans The Blues tentu tak akan pernah melupakan hari bersejarah mereka: Sabtu 19 Mei 2012.

Bukan hanya Chelsea dan seluruh fans. Tanggal itu juga bagi saya sangat istimewa. Sabtu pagi sekitar pukul 11 Wita saya melaksanakan akad nikah, kemudian pada malam bergabung nobar final di lobi hotel yang kami tempati sebagai pengantin baru. Congrats to Chelsea and Our Happy Wedding. heheh.

Setelah kegagalan sangat pahit di final LC 2012, Bayern Munchen langsung menebusnya pada tahun 2013. Sungguh bukan perkara mudah mengingat piala yang sudah begitu dekat akhirnya lepas dengan cara paling menyakitkan. 

Mereka memenangkan perang saudara melawan Borrusia Dortmund di Stadion Wembley, 25 Mei 2013. Philiip Lahm dan kawan-kawan memberi inspirasi dan bukti konkrit bagaimana caranya bangkit dari satu keterpurukan-seberat apapun itu, dengan cara yang sangat hebat.

Setiap kali jika saya menemukan kegagalan, entah kenapa selalu terlintas kuatnya mental kebangkitan Bayern Munchen. Sepak bola kembali membuktikan banyak nilai hidup postif yang bisa kita raih.

Final 2014 di Lisbon juga special, dua klub sekota Real Madri dan Atletico bentrok. Atletico hampir memenangkan trofi pertamanya setelah unggul 1-0 hingga injury time. Namun sundulan Sergio Ramos memaksa laga dilanjutkan ke extra-time dan kemudian menang 4-1.

Real Madrid menegaskan sebagai raja Eropa sesungguhnya, dengan 10 kali juara, La Decima. Rasanya butuh waktu puluhan tahun untuk menyamai rekor itu, mengingat betapa kompetitif Champions yang tak pernah bisa mendapatkan klub mempertahankan gelar juara. (Bersambung)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Kenangan di Prambanan Jazz

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni