Review Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Pada suatu hari tahun 2000, Pramoedya Ananta Toer berangkat ke Jepang untuk menerima "The Fukuoka Asian Culture Prize" ke-11. Penghargaan untuk orang yang telah memberikan sumbangan besar bagi ilmu pengetahuan, seni, dan budaya Asia.  

Kunjungan ke Jepang itulah yang menyebabkan Pramoedya teringat pada naskah Perawan Remaja yang ia selesaikan pada 14 Juni 1979 di Pulau Buru. Naskah itu kemudian direstorasi dan diketik ulang sampai terbit sebuah buku berjudul Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (2001).

Buku tentang kisah nyata perawan-perawan remaja Indonesia yang dijadikan budak seks (Jugun Ianfu) oleh pasukan militer Jepang pada masa pendudukan Jepang periode Maret 1942-Agustus 1945.

Pramoedya menguak kebiadaban militer Jepang terhadap ratusan perawan remaja yang tak mengerti apa-apa, dari kesaksian beberapa tapol, wawancara dengan korban dan keluarga, serta penelusuran puluhan korban yang menetap di Pulau Buru jauh setelah Jepang menyerah pada 1945. Dengan getir, Pramoedya menuturkan tragedi kemanusiaan yang tak pernah dipelajari di buku-buku sejarah sekolah kita.

Bagaimana cara Dai Nippon, balatenraea Jepang menjerumuskan remaja-remaja perempuan ini? Dimulai dengan janji indah. Banyak keluarga hidup dalam keadaan serba sulit. Dai Nippon menebar janji tidak jelas (sayup) memberi kesempatan belajar pada para pemuda dan pemudi Indonesia ke Tokyo dan Singapura.

Dai Nippon menyerukan kepada setiap orang yang mempunyai anak perempuan agar segera mendaftarkan kepada pemerintah akan anak gadisnya tersebut. Mereka akan disekolahkan. Dididik supaya mereka bisa mengabdikan diri dalam kemerdekaan, terurtama sebagai bidan, juru rawat, atau guru.

Tidak sedikit baik orang tua ataupun anak perempuan yang bersangkutan tidak ingin mengikuti "program" tersebut. Tapi Dai Nippon memberikan ancaman dan bertindak keji. Rumah-rumah warga didatangi. Para perempuan dirampas dari orang tua mereka, kebanyakan lulusan sekolah rakyat berusia 13 dan 14 tahun.

Setelah dikarantina di suatu tempat yang asing (pengepolan), mereka diangkut kapal laut. Di pelayaran kapal itu, tentara-tentara Jepang dengan biadab memperkosa mereka. Perempuan-perempuan remaja itu berlarian di geladak kapal, mencoba menyelamatkan tubuh dan kehormatan masing-masing. Seorang gadis naik ke menara dalam usaha menceburkan diri ke laut, tapi semua diterkam oleh milter yang terlatih.

Tak seorang pun yang dapat menolong mereka. Tak ada yang bisa diperbuat lain kecuali menyerah, menerima segala yang harus terjadi, tanpa pelindung, dengan hati pecah, sedih, dan pilu. Mereka kehilangan segala-galanya: kehormatan, cita-cita, harga diri, hubungan dengan dunia luar, peradaban, dan kebudayaan-suatu perampasan total. Mati dalam penderitaan, di negeri yang jauh. Tulis Pramoedya.

Sungguh mengguncang perasaan kemanusiaan kita semua mengetahui kekejian pada mereka yang tak berdosa. Banyak kalangan menilai perbuatan Dai Nippon tersebut sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar abad ke-20, selain pembantaian keturunan Yahudi oleh Nazi Jerman dan pembantaian anggota dan simpatisan PKI di Indonesia.

Ironisnya, hingga kini Pemerintah Jepang tetap menolak untuk bertanggung jawab secara hukum. Secara moral Pemerintah Jepang telah menebus kesalahan dengan mendirikan Asian Women Fund pada 1996.

Dari buku ini kita dapat menumbuhkan,dan memupuk rasa kemanusiaan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Kenangan di Prambanan Jazz