Melatih Tubuh dan Otak Mencapai Kesadaran
Apa itu politik tubuh? Dari mana datangnya?
Buku Memo Tentang Politik Tubuh adalah kumpulan refleksi Bre Redana, mantan wartawan Kompas, yang menjelaskan bahwa tubuh kita bukan sekadar jasad. Bukan seonggok daging semata. Tubuh juga memiliki memori dan memunculkan kecerdasan
Bre menyusun buku ini dalam dua bagian. Bagian pertama Memo tentang Politik Tubuh, berisi catatan hasil latihan kegiatan silat di Persatian Gerak Bandan (PGB) Bangau Putih di Cisarua, di bawah asuhan Guru Besar Gunawan Rahardja. Bre adalah murid sekaligus Sekretaris Dewan Guru PGB.
Pada bagian kedua diberi judul Dari Tubuh Sampai Waktu. Terdiri dari 25 esai kolom Bre di rubrik Udar Rasa surat kabar Kompas edisi Minggu. Dari ratusan tulisannya, Bre memilih 25 esai--yang terbit pada 2012 hingga 2014--yang paling kuat hubungannya dengan tema buku, yaitu politik tubuh.
Isitilah "politik tubuh" di sini bukan seperti politik dalam konteks memperebutkan kekuasaan. Bre memilih kataa politik sebagai seleksi tematik tentang bagaimana tubuh manusia berfungsi dalam kehidupan sosial, dan termasuk hubungan dengan praktik politik di negara kita.
Bre menjelaskan bahwa yang utama adalah apa yang dilakukan oleh tubuh kita. Dari tubuh kita akan lahir kesadaran, yang kemudian meningkat menjadi rasa dan karsa alias niat. Intinya merawat diri, merawat tubuh, sebenarnya merupakan proses merawat kebudayaan, supaya tubuh tidak menjadi tubuh yang korup.
Kita melatih tubuh dan otak untuk mencapai kesadaran. Dari dulu sejumlah sistem kepercayaan melihat bahwa nafsu, keserakahan, kebencian, dan lain-lain energi negatif, berhubungan dengan kerja tubuh kita. Studi di bidang neuroscience pun menyimpulkan kebudayaan adalah hasil evolusi lebih lanjut dari sesuatu dalam tubuh manusia.
Masyarakat sekarang hidup dalam lingkungan yang menjejali kita dengan kesadaran baru, bahwa segala sesuatu sebaiknya terselenggara seketika. Kita pemuja kecepatan, hingga lupa menarik nafas. Kehidupan yang kita jalani pun makin dipenuhi pamrih. Pamrih kemudian dibalut manipulasi memperdaya banyak orang. Hidup manusia modern adalah perjalanan dari kekecewaan ke kekecewaan karena apa yang ingin dijalani dan apa yang bisa dijalani makin lebar jaraknya. Gen Z sering menyebutnya harapan tak sesuai ekspektasi.
Yang dibutuhkan pada masa kini adalah kecakapan mensintesiskan sesuatu (the art of syntesis) alias menciptakan makna (to create meaning). Kita jadi terpahami dengan penghayatan terhadap proses.
Manusia perlu gagal biar tahu nikmatnya sukses; sesekali sakit biar tahu manfaatnya sehat; perlu kesepian biar sadar ada yang kita cintai di sana; manusia perlu puasa untuk bisa merasakan nikmatnya makan. Semuanya menemukan bentuk yang kongkret lewat olah tubuh, berupa apa yang disebut sebagai pengendalian diri.

Komentar
Posting Komentar