Perjalanan Seru ke Wawondula Luwu Timur

Saya sejak lahir, bertumbuh kembang, sekolah, dan bekerja di kota, selalu merasa senang manakala ada kesempatan untuk sejenak menepi menikmati suasana alam pedesaan yang sejuk dan masih asri. Tak ada macet, tak ada bising, tak banyak memantau notifikasi ponsel, dan tak ada ketergesa-gesaan. 

Begitu ada cuti long weekend selama lima hari, kami memutuskan melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman Vera, istri saya, di Desa Wawondula Sorowako, Luwu Timur. 

Kabupaten Luwu Timur wilayah terjauh di Sulawesi Selatan, berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan juga Sulawesi Tenggara. Kami berangkat malam pada pukul 20.00. Setelah Makassar yang padat, melintasi Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Wajo, Luwu, Palopo, dan Luwu Utara. Rutenya sangat panjang, 630 kilometer, ini pengalaman terjauh saya menyetir mobil, menyusuri jalanan yang seolah tak berujung di keheningan malam.

Saya ingat singgah berkali-kali. Makan malam di Pangkep pukul 21, ngopi di warung tenda Anabanua Wajo menjelang pergantian hari, isi bensin di Belopa Luwu pukul 3.30 dinihari. Karena sudah tidak tahan kantuk, saya memilih tidur sebentar di area SPBU sekitar, 30 menit. Juga masih sempat menonton semifinal Liga Champions antara Real Madrid melawan Manchester City, yang dimenangkan Real 1-0, dan memastikan lolos ke final Milan 2016.

Setelah itu melanjutkan perjalanan ke kota Palopo menjelang subuh, melintasi jalur berkelok pegunungan dengan banyak tikungan tajam dengan cuaca dingin, berkabut tebal meluapkan embun yang menempel hingga kaca mobil. 

Saya paling menikmati rute Belopa ke Palopo ini. Kami berlima di mobil sudah terbangun, melihat dari jendela mobil jalanan yang mulai terang, setelah melewati satu malam gelap. Pemandangannya menakjubkan, kita bisa menyaksikan lanskap kota Palopo di bawah, dengan lampu-lampu kota yang bertahap padam tanda matahari telah terbit. Begitu tiba di kota ini, kami memilih sembahyang subuh di Masjid Jami Tua Palopo yang bersejarah dengan arsitektur klasik.

Setelah menikmati suasana subuh dan pagi "Palopo Kota Idaman", kami meneruskan perjalanan ke Masamba sekitar 75 kilometer. Tiba di Masamba menjelang pukul 8.00, dan istirahat sampai Duhur dan makan siang. 

Usai istirahat cukup di Masamba, perjalanan diteruskan ke Wawondula Sorako, tujuan akhir. Ini juga rute yang menarik, Suka Maju, Bone-Bone, Wotu, dan Angkona, sepanjang jalan sejauh 150 kilometer, kita disuguhi pemandangan yang indah khas Luwu, meliputi pegunungan, perkebunan kakao dan kelapa sawit, hingga melewati pesisir teluk Bone. 

Kita juga lihat pemukiman penduduk yang banyak transmigran, masjid-masjid kecil desa, warung-warung kecil, dan pohon-pohon besar yang rindang. Kita terkesan melewati beberapa gapura-gapura pembatas desa, monumen/tugu di beberapa titik persimpangan. Contoh, Monumen "Masamba Affair", Tugu Cokelat, Monumen Wotu di persimpangan ke Sulawesi Tengah, atau Tugu Nanas di Wasuponda. Semuanya merupakan simbol rakyat Luwu Raya.

****

Ketika tiba setelah menempuh perjalanan panjang, selama 20 jam, kesan sejuk Desa Wawondula yang berada di area pegunungan langsung menyergap tubuh. Angin semilir terasa memasuki ruangan dan memberikan suasana segar pedesaan. 

Wawondula adalah desa tetapi dalam hal fasilitas dan Infrastruktur, tidaklah sama dengan desa pada umumnya. Wawondula memiliki banyak sarana umum, tempat ibadah, mesjid dan gereja tersebar.  Selain itu pasar, rumah sakit, sekolah, sport centre, tempat hiburan, dan banyak lagi. Salah satu yang juga penting adalah seluruh jalan telah beraspal dengan kualitas bagus, sehingga tidak menghasilkan debu jalan.

Di Wawondula, kami tinggal di rumah semi kayu yang sangat fungsional menurut saya. Bapak mertua saya, dulunya karyawan PT Inco (Sekarang PT Vale), membangun unit rumah dengan mengadopsi rumah-rumah karyawan perusahaan yang bergaya Skandinavia. 

Dari teras belakang rumah, kita bisa menyaksikan pemandangan Gunung Wawomeusa, dilewati sungai dengan air jernih, gunung yang terdiri beberapa perbukitan dengan hamparan sawah yang menyejukkan mata. Masyarakat di Wawondula menyebutnya "Bukit Teletubbies".

Waktu pagi di Wawondula paling luar biasa indah, ketika minum kopi bagian depan rumah yang ditumbuhi pohon-pohon, saya menyaksikan beberapa karyawan PT Vale yang tinggal di desa ini berangkat kerja, mereka dijemput oleh shuttle bus company, menuju kantor Vale di Nuha, 4 kilometer dari sini.

Sore hari menjelang Magrib, saya melihat anak perempuan kecil, ia tetangga, duduk di depan rumahnya siap menyambut ayahnya. Saya pikir itu kebiasaan sang anak setiap sore. Tidak lama momen hangat itu tiba. Ayahnya baru pulang, mengenakan seragam Vale turun dari shuttle bus. Sang anak langsung berlari mendekap ayahnya yang sangat senang disambut, rasa lelahnya terganti rasa syukur. Apa yang saya saksikan seperti menonton adegan-adegan film keluarga suburban Amerika.

****

Saya bersama keluarga berkunjung ke Wawondula, Luwu Timur, pada tahun 2016. Sudah 10 tahun berlalu, tapi saya masih mengenangnya sebagai salah satu perjalanan paling berkesan, dan saya ingin mengabadikan di sini. 
























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Kenangan di Prambanan Jazz

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni